Responsive Ad Slot

Latest

Sports

Gossip

Covered

Revolution

Video

Opinions

South Africa

Portugal

Australia

Romania

North Korea

Britian

Blogger Reporter dan Gogobli.com Gelar Pelatihan "Dubbing & Voice Over" bersama Kak Agus Nurhasan

Posted on Senin, 21 Agustus 2017


“Hani, Ini beneran yang jadi Suneo dan Pria Bertopi Kuning di kartun Curiose George?” tanya saya ke Hanisah Sukmawati, salah satu admin saat menyodorkan profile Kak Agus Nurhasan untuk menjadi narasumber pelatihan.
“Iya, beneran, mas” jawab Hani sambil tertawa.

Ya, saya memang agak kaget. Sebagai generasi film boneka Si Unyil-- gambaran saya tentang sosok pengisi suara dibelakang sebuah film biasanya tidak jauh berbeda dengan tokoh yang disulih suarakan. Misalnya tokoh pak Raden, ya sosok non bonekanya juga berkumis tebal dan bersuara berat. Pak Ogah pun tidak jauh berbeda. Saat berupa boneka mau pun aslinya, sama-sama botaknya.

Bahkan tahun 2016 yang lalu, saat pembuatan film animasi “Moana”, pengisi suara Moana dan Maui pun tidak jauh berbeda. Auli'i Cravalho sangat mirip sosok Moana dan Dwayne Douglas Johnson alias The Rock pun tak jauh berbeda dengan gambaran sosok Maui yang kekar dan bertatto.

“Loh, dubber yang profesional dan sukses malah harus begitu, mas. Tidak mesti menyesuaikan fisik dubber dengan tokohnya.” jelas Hani sambil tetap menahan tawa.

Ya, akhirnya saya pun sepakat. Inhouse Training BRid (Blogger Reporter Indonesia) kali ini diputuskan untuk mengangkat tema “Dubbing dan Voice Over” saja.

Penulis (Hazmi Srondol) dan Kak Agus sang Dubber
Banyak alasan yang membuat kami mendahulukan tematik ini. Dari sisi perkembangan dunia digital, khususnya Vlogging yang juga merupakan bagian dari dunia blogging pun sudah sangat mendesak untuk dilakukan pelatihan ini. Saya mempunyai pengalaman saat vlogging dan hasil suaranya berantakan karena noise dari lingkungan shooting sangat buruk. Bulu-bulu peredam mic kamera kurang berhasil berkerja.

Alhasil, saya pun saat itu harus membuang suara asli kamera dan diisi suara dubbing sendiri. Agak kerepotan memang saat itu. Tekniknya masih otodidak dan asal-asalan,

Dari sisi karir pun sangat menggiurkan. Menurut kak Agus Nurhasan, di Indonesia paling banyak hanya sekitar 100 dubber profesional--padahal kebutuhan jauh lebih banyak. Ada ratusan film kartun dan sinetron luar negeri yang terus masuk dan berdatangan.

Sampai-sampai, saat kak Agus memberikan file presentasi-- terdapat video tentang Hana Bahagiana yang sampai menyulih suara 3 karakter sekaligus dalam satu film. Walah!

Akhirnya, dengan rasa keingin tahuan yang besar ini-- acara #InhouseTrainingBRID pun digelar. Acara yang bertempat di Wisma RIAT, Cawang, Jakarta Barat tepat pada tanggal 12 Agustus 2017 ini pun di mulai dengan sambutan dari ibu Amy Atmanto. Designer kondang sekaligus pendiri Yayasan RIAT (Rumah Internet Atmanto) dan salah satu sponsor acara.

“Kami dari Yayasan RIAT selalu menyambut baik kegiatan Blogger Reporter Indonesia sebagai wadah untuk menyalurkan minat terhadap jurnalistik dalam kapasitas sebagai blogger. Teruslah berkarya dan jangan lupa untuk selalu memperdalam karya jurnalistik yang lebih dalam. Bisa belajar pada ahlinya maupun otodidak.”

Sambutan Ibu Amy Atmanto , ketua Yayasan RIAT (Rumah Internet Atmanto)
“Yayasan RIAT mewadahi edukasi dalam dunia literasi dan TIK bagi para penyandang tunanetra. Bagi siapapun kami membuka kerja sama dan kolaborasi untuk mencapai tujuan untuk kebaikan bersama.”

Setelah itu, acara acara yang dinanti-nantikan pun datang. Kak Agus Nurhasan, dubber profesional yang mempunyai jam terbang sangat tinggi ini pun berbagi ilmunya. Ditemani oleh Admin Brid Hani-- pelatihan bergaya talk show ini pun dimulai.

Profil Kak Agus dalam dunia dubber pun dipaparkan. Wah, banyak sekali. Berikut list film animasi yang pernah dan masih disulih suarakan oleh kak Agus:

- Pria Bertopi Kuning (Curious George)
- Suneo (Doraemon | 2006-2008)
- Fujiwara Sai (Hikaru No Go)
- Dark (DN Angle)
- Narator NatGeo
- VO Advertorial
- etc

Nah, makin menarik-- pelatihan ini bukan hanya diisi paparan lisan saja. Namun terdapat latihan fisik dan prakteknya.

Paling membingungkan adalah saat latihan olah nafas. Saat latihan, nafas ditarik, ditahan di perut lalu dikeluarkan sampai kempis. Dilakukan berulang-ulang seperti sedang latihan silat tenaga dalam. Hanya pas pelaksanaan teknis, cara nafasnya terbalik. Saat mengeluarkan suara, agar “power” nya lebih kuat maka nafas digelembungkan di perut.

Kak Agus mengajarkan olah nafas


Sempat kagok karena biasanya saat mengucapkan kata, nafas diperut biasa dihabiskan. Nah, saking penasarannya, apakah tehnik ini serius atau tidak-- saat sesi santai, Hani yang juga berprofesi sebagai dubber di televisi swasta menunjukan saat perutnya menggelembung di depan rekan-rekan blogger. Saya rasa, semua rekan blogger terkejut dan melongo. Saya pun yang mendadak melihat gelembung udara di perut hani pun begitu. Wow…

Saat paling memalukan adalah saat praktek menjadi dubber. Saya mendapat bagian sebagai pak Joko yang kepengin kawin lagi. Hadeh. Direkam dan di share pula oleh teh Ani Berta. Terpaksa pakai jurus muka badak agar tidak terlalu malu. Hihihi…

Akhirnya, sesi pelatihan pun usai. Ditutup dengan bagi bagi hadiah dan goody bag.

Untuk hadiah live tweet, pihak sponsor Pilo-Pilo memberikan beberapa bantal untuk pemenang lomba. Bantalnya edisi khusus, yaitu berlogo “Blogger Reporter Indonesia”. Sebagai founder, saya naksir berat bantal ini. Mesti beli secepatnya, soalnya produk sponsor sudah jadi milik pemenang lomba. Hehehe…

Nah terakhir, sebelum pulang para peserta mendapatkan goody bag yang sangat menarik dan berharga. Seperangkat produk kecantikan dan kesehatan yang di support oleh situs e-commerce Gogobli.com lengkap dalam satu bag nya.

Gogobli.com sendiri adalah Toko online yang bergerak di lingkup kesehatan dan kecantikan. Berdiri sejak tahun 2011 dan kami dipercaya di seluruh indonesia sebagai pilihan utama dan terpercaya dalam berbelanja online. Khususnya dalam produk kesehatan dan kecantikan.

goody bag dari Gogobli.com


Gogobli.com hanya menjual produk dengan merk dan reputasi yang baik dan yang paling penting adalah telah terdaftar di Badan pengawasan Obat dan Makanan Indonesia sehingga semua produk yang dibeli di Gogobli aman untuk dikonsumsi dan digunakan. Dimaraknya penipuan online, Gogobli bukan penipu.

Untuk detail isi goody bag, akan saya coba bahas terpisah di artikel lainnya.

Sekian dan selamat menjadi dubber masa depan Indonesia. :D

Penulis,
Hazmi Srondol
Founder of Blogger Reporter Indonesia

Jurus Baru Penjegalan Prabowo: Presidential Threshold 20%

Posted on Kamis, 20 Juli 2017
"Saya ini taat konstitusi. Saya patuh dengan Undang-undang negara" kata Prabowo di ujung meja makan kediamannya di Bukit Hambalang. Langsung dari mulutnya, langsung pula terdengar dari telinga saya sendiri.

Sebaris kalimat yang menurut saya-- adalah konklusi dari karakter Prabowo dalam dunia politik. Karakter yang tentu saja menjadi panduan langkah dan strategy para kader partainya. Berbanding terbalik dengan fitnah-fitnah yang pernah menimpanya. Kudeta salah satunya.

Karakter taat konstitusi yang secara riil dan konsisten dilakoni semenjak secara resmi buku politik "Kembalikan Indonesia" ditulisnya langsung tahun 2004. Dilanjutkan dengan langkah konstitusional lainnya seperti mendirikan partai politik GERINDRA (Gerakan Indonesia Raya) sebagai jalur yang paling sesuai dengan undang-undang dalam menyalurkan aspirasi dan pandangannya strategis politik, ekonomi dan hal-hal lainnya.

Konsistensi Prabowo yang ternyata bagi lawan politik adalah hal yang sangat berbahaya. Apalagi dalam era "tabrak pagar" ini. Rakyat nusantara yang sejak berabad-abad terdidik dan terbudaya dalam sebuah tatanan kehidupan yang rapi, tertib, teratur, penuh tenggang rasa dan tepo seliro-- apa pun sukunya semakin sadar betapa sosok Prabowo adalah satu-satunya tumpuan untuk mengembalikan kejayaan Indonesia dalam khasanah dan kepribadian asli Nusantara.


Pernah juga, saya mendengar stigma yang ditempelkan kepada Prabowo sebagai sosok ambisius, gila kekuasaan dan lain sebagainya. Namun coba lihat faktanya sekarang--pada hari ini, kamis 20 Juli 2017-- di puncak popularitas dan elektabilitas,  kembali langkah penjegalan Prabowo untuk menjadi Presiden Indonesia terjadi lagi.

"Kokohlah seperti gunung", kata Prabowo di lain kesempatan.

Ya, konsistensi dan integritas taat konstitusi Prabowo membuatnya memang seperti paku bumi. Tak bergeser, tak bergeming. Walau kabut asap berupa issue ditiupkan dengan serangan berbagai media dari segala arah. Gusti Allah mboten sare. Setebal-tebalnya fitnah buatan manusia, surya matahari sekejab menyapu bersih semuanya. Apa yang disampaikan dari hati terdalam Prabowo sampai di hati rakyat Indonesia.

Fitnah tenggelam, lalu cara lain pun digunakan. Kali ini ini jurusnya adalah jurus yang langsung berhadapan dengan inti karakter Prabowo. Taat konstitusi.

Mendadak, muncul wacana penerapan presidential threshold dalam Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak 2019. Digelembungkan menjadi minimal 20 sd 25% dari jumlah persentase hasil pileg 2014. Jika aturan ini "gol". Maka sulit Prabowo untuk maju dalam Pilpres 2014 karena suara partainya sendiri tidak mencukupi.

Pengalaman kemenangan besar Anies Sandi yang mencapai 58% suara rakyat Jakarta sepertinya membuat mereka bergidik. Hasil raupan suara ini jauh lebih besar daripada suara partai Gerindra sendiri. Sepertinya ada yang trauma dan jeri melihat pergerakan arus bawah rakyat Indonesia.

Mereka paham, ketika kabar burung tak mempan, salah satu cara penjegalan terbaik Prabowo adalah dengan mengubah konstitusinya. Karena mereka yakin, ketika konstitusi digubah. Suka tidak suka. Prabowo akan mengikutinya. Karena memang itulah kepribadiannya.

Ditambah sudah pecahnya Koalisi Merah Putih. Ada yang benar-benar keluar koalisi, ada yang setengah hati atau bisa jadi, ada yang sekedar berstrategy. Namun realitanya, penjegalan lewat jalur konstitusi ini sudah semakin dekat dengan hasil yang diharapkan oleh sosok-sosok yang ketakutan dengan Prabowo. Berat rasanya hanya mengandalkan suara Partai Gerindra saja.

Namun, dari sudut hati paling dalam-- saya hanya bisa berdo'a, menitipkan keresahan kepada Allah Yang Maha Kuasa. KehendakNya-lah yang mampu membisikkan ke kalbu para anggota DPR, apa pun partainya agar mereka memutuskan sikapnya dengan jernih. Agar membatalkan perubahan Presidential Threshold 20% tersebut.

Apa mereka tidak ingat visi misi Pilpres 2014 terdahulu? Di saat para tim kampanye berkerja keras me-resume pandangan Prabowo yang dalam bukunya sangat tebal dan dihapal dan dipahaminya luar kepala menjadi beberapa point utama saja, kubu lawan malah pamer tebal-tebalan visi misi yang entah calonnya sendiri mengerti atau tidak dengan file yang diserahkan ke KPU.

Itu baru soal mengerti atau tidak. Kalau ditanyakan kembali realisasi visi misi? Ya sudahlah, kita tahu sama tahu. Kalau ada penyakit diabetes yang disebabkan janji manis, saya yakin akan ada pasien masal di seluruh penjuru Indonesia. Ya, tho?
Salam Prihatin,

Hazmi Srondol

RIP Luther Kombong dan Kisah Taylor Lokal

Posted on Sabtu, 10 Juni 2017

Saat saya mendapat kabar meninggalnya pak Luther Kombong, salah satu anggota DPR dari fraksi Gerindra, dapil Kaltim-- saya sedih sekali.

Walau tidak kenal secara pribadi, nama beliau pernah dengan sengaja ku googling. Dari cara berpakaian beliau, saya tahu benar beliau sosok yg nasionalis.
Kalau ada yang bertanya, "kenapa bisa begitu?"

Ya, setelan jas dan blazernya memakai motif yang tidak lazim. Saya yakin betul itu bukan beli jadi di toko ala-ala kapitalis, tetapi dijahit di taylor. Bahan nya pasti ngubek2 mencari kain meteran yang modelnya sesuai hatinya. 

Banyak persepsi yang salah mengenai jas dan blazer ini. Kesannya tidak merakyat. Coba deh sesekali main ke buyung-buyung atau Aa-aa Taylor.

Bakal banyak yg terkejut kalau setelan jas komplit dengan bahan lokal buatan cimahi/solo harganya sama atau bahkan lebih murah drpd baju jadi yang branded.

Bahkan kalau mau kita perhatikan, penjahit-penjahit jas ini rata2 sudah tua. Kadang kala saya khawatir generasi penerusnya tidak ada lagi karena anak sekarang lebih suka baju batik jadi atau jeans pabrikan bermerk.

Bahkan sempat saya sempat berkaca-kaca ketika sowan ke buyung-buyung, penjahit minang langganan saya yang berulang kali mengucapkan banyak terima kasih masih mau menjahit jas/blazer aneka warna. 

Masih mau keluarkan ongkos jasa jahit yang memang lebih tinggi daripada harga bahan lokalnya.

Beliau bilang, "kalau gak ada anak muda seperti kamu. Kami-kami ini pasti sudah jadi tukang permak levis keliling..."

Selamat jalan pak Kombong, tetap jaya taylor lokal Indonesia.

Hazmi Srondol

Deklarasi Nahdatul Ulama tentang HUBUNGAN PANCASILA dan ISLAM Tahun 1983

Posted on Sabtu, 03 Juni 2017


DEKLARASI NAHDATUL ULAMA TENTANG HUBUNGAN PANCASILA DAN ISLAM TH.1983

Mendadak saya teringat saat masa-masa penataran dan lomba cerdas cermat P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila).

Saat itu, beberapa hal mengenai Pancasila-- baik dari konsep dan rumusan awal, design gambar, fungsi dan kedudukan, serta pengesahannya format akhir seperti menjadi makanan pokok yang harus dihapal, dipahami serta dituntut untuk mampu mengamalkannya.

Namun untuk kali ini, saya sedang tidak membahas mengenai perjanjian luhur pendiri bangsa ini beserta penjabarannya.


Saya lebih tertarik untuk menyimak hal yang sempat terlewatkan, yaitu tentang hubungan Pancasila dan Islam berdasarkan hasil musyawarah nasional alim dan ulama dari Nahdatul Ulama yang diselenggarakan di Situbondo, Jawa Timur tahun 1983.

Padahal lembar deklarasi ini sangat penting. Isi dan esensinya seharusnya sudah menjadi pandangan yang final. Tidak perlu ada perdebatan mengenai Pancasila dan Islam lagi.



Lembar yang saya terima dari sahabat via grup WA masih berupa tulisan berbahasa Indonesia dengan huruf Arab Pegon. Untuk mempermudah membacanya, berikut saya ketik ulang hasil konversi dalam huruf latinnya:

BISMILLAHHIRAHMAN NIRRAHIM

PANCASILA

1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawarahan/Perwakilan
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

DEKLARASI

Tentang hubungan Pancasila dan Islam
1. Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama.
2. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat (1) Undang-undang Dasar 1945yang menjiwai sila-sila yang lain mencerminkan tauhid menurut keimanan dalam Islam.
3. Bagi Nahdatul Ulama, aqil dan syari'ah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antara manusia.
4. Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syari'at agamanya.
5. Sebagai konsekuensi dari sikap di atas, Nahdatul Ulama berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak.

Situbondo, 12 Rabiul Awal 1404 H
       21 Desember 1983 M

Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdatul Ulama

***

Salam Indonesia Raya,
Hazmi Srondol

Selingkuh, antara Libido atau Cinta

Posted on Jumat, 26 Mei 2017

Malem jumat begini mendadak saya teringat kata-kata sohib saya, seorang wartawati senior yg dulu pegang banyak majalah fashion dan gaya hidup.

Doi pernah wanti-wanti, "Mas Srondol, hati-hati ketika masuk usia 30-40 an. Harus bisa bedakan mana itu libido dan mana itu perasaan".

Pesan yang ternyata sangat berarti bagi saya pribadi dalam mengarungi dunia pergaulan di Jakarta ini.
Ya, banyak kejadian disekitar saya yang menjadi bukti gagalnya mereka (boro-boro menangangi) membedakan dua hal ini. Tidak perduli pria atau wanita, miskin kaya, berpendidikan tinggi atau sekedar wajib belajar, introvert atau aktif di komunitas.

Saking parahnya, banyak kawan meninggalkan anak istri atau istri kabur meninggalkan rumahnya. Libido sesaat yang menghancurkan seluruh kehidupannya.



Nah, ada tips menarik dari sohib untuk menghadapi situasi seperti ini. Ya, memang sulit menjadi "holyman" di gemerlap ibukota. Doi bilang, "Mas Srondol, ingat! Boleh nakal tapi jangan bejad".
Tampak sepele memang, antara "nakal" atau "bejad".

Tapi percayalah, akan sangat sulit membedakan jika kita sendiri masuk dalam lingkaran dan waktu ini. Istilahnya, buat cowok masuk area "Cakung" atau cuaca mendukung dan cewek terjebak ke-nyaman-an rayuan.

Cuman yang jelas, keduanya merugikan walau berbeda level. Untuk cowok, nakal mungkin sekedar menghasilkan masalah dijewer istri, kalau bejad-- maaf. Akan menghasilkan ke-sial-an. Apalagi bejad yang sampai mendepak anak istri yang tak bersalah. Atau bahkan ditambah dengan menyalahkan pasangan dengan alasan dicari-cari.

Dan kesialan model begitu, biasanya akan menular. Menular ke tetangga, teman sekitar atau bahkan kelompok kita berinteraksi.

Kalau saya, jika ketemu orang seperti ini dalam ring pergaulan. Mending saya menjauh. Bila perlu tinggalkan. Ngeri.

Selamat malam jumat.
Hazmi Srondol

Pangeran Arab dan Bantahan Teori Bumi Datar

Posted on Senin, 08 Mei 2017
Sewaktu kecil, saya tidak berminat menjadi seperti pangeran-pangeran di komik-komik. Apalagi semakin agak besar--saya semakin tahu kalau pangeran di Jawa saja, semenjak akhil baliq sudah harus disapih dari keluarga bear dan dimasukan ke Kesatrian. Salah satu alasannya biar nggak "mbok-mbok'en".

Ditambah baca statement dari seorang pangeran luar negeri yang sampai mengatakan "menjadi pangeran itu seperti kutukan". Hidupnya berat, terbatas dan serba diatur protokoler. Alasan tanggung jawab besar kerajaan dimasa depan selalu menjadi alasannya. Bahkan ndusel-ndusel ibunya saat mau nonton TV pun nggak bisa. 

Namun gara-gara mbanyak video youtube soal teori bumi datar, saya menarik diri dari penolakan minat jadi pangeran ini.

Ya, saya mendadak pengen jadi pangeran. Soalnya dengan kekauatan finansial plus akademisnya-- Pangeran Sultan bin Salman bin Abdulaziz Al Saud puta Raja Salman bisa pergi ke luar angkasa dengan pesawat Discovery. Peluncuran pesawat ini tanggal 17 Juni 1985 di Kennedy Space Center’s Launch Complex 3.

Jadi ketika saya dan teman-teman telko lainnya memble dower menjelasakan secara teknis bagaiamana bentuk satelit di bumi, cara monitor dan kontrolnya biar gak geser kanan kiri dari orbit dan lain sebagainya sebagai bukti bawa bumi tidak datar. Itu pun kalau oteq mereka nyangkut. Kalau nggak ya tambah dower memblenya.

E, Pangeran Sultan mungkin cuman mbatin "Nggak usah sotoy kalau bumi itu datar. Saya dah liat bumi dari luar angkasa..."

Dan saya, juga pengen mbatin kayak begitu.

[Hazmi Srondol]

Balap Hotwheels dan Tumbuhnya Sifat Gentleman Anak Lelaki

Posted on Minggu, 07 Mei 2017
"Jadi skenarionya, aku mainkan yang pasti kalah dulu--baru terakhir jagoannya, pak. Biar keren menangnya. Dramatis" kata Thole saat jelang balapan prosotan mobil hotwheels itu dimulai.

Sebagai bapak, saya mangut-mangut saja. Idem-in ajalah. Toh ini area permainan anak-anak.

Ya, dalam lomba kali ini-- ia mendaftarkan 3 namanya. Thole 1.0, Thole 2.0 dan Thole 3.0 sesuai batasan maksimum jumlah mobil yang didaftarkan.

Untung saja, lagi diskon besar sehingga modal membeli 6 mobil tidak terlalu mengoyak celengannya.

Benar. Pada mobil pertama dan kedua-- mobil jenis muscle car amerika ini memang bukan tipe untuk kompetisi seperti jenis Vendeta, Parodox dan lain sebagainya ini. Walau kalah, dia cukup senang menlihat mobilnya begulingan keluar dari trek. Miriplah dengan Dominic Toretto di seri FF1.

Yang paling mendebarkan tentu saat masuk skenario lombanya. Kebetulan, sesi penyisihan ini ada dua kali balap. Yang pertama kalah dan kedua alhamdulillah menang.

Hanya saja, dibutuhkan satu balap penentuan.

Bapaknya tegang, anaknya apalagi. Dan ternyata, skenario gagal total. Sesi penentian ini Thole kalah.

Sempat beberapa detik bapaknya melirik air muka anak terbesarnya ini. Ada wajah kecewa. Pahamlah saya atas perasaannya.

Hanya saja, mendadak bapaknya terkejut. Mas Thole menghampiri lawannya.

TOS!

"Selamat atas kemenangannya, bro!" Katanya dengan senyum lebar. Lawan tandingnya pun begitu. Ternyata, lawannya ini kakak kelasnya di sekolah.

Usai merapikan box mobil prosotan, sembari pulang bapaknya bertanya.

"Nggak papa kalah tuh, mas?"

"Nggak papa. Saya pas futsal sering menang kok. Sesekali kalah ya biasa." Jawabnya santai.

"Oh. Emang sering menang dimana, mas?"

"Lah, taekwondo aku jarang kalah pak. Sama kakak kelas juga jarang kalah. Malah kayaknya nggak pernah deh..."

Yayaya, kutepuk pundaknya kali ini. Bangga bener bapakmu ini. Bukan soal kalah menangnya, sih. Soal sikap "gentlement" yang tampak subur tumbuh dalam jiwanya.

*Bungah.

Oleh: Hazmi Srondol

Antara 'Busa' Salju Jakarta dan Jepang

Posted on Sabtu, 06 Mei 2017
Saya rasa, mimpi hampir semua orang yang lahir dan besar di daerah tropis adalah melihat salju. Demikian pula saya.

Nah, saking pengennya-- duluuuuu banget, saat ke Jepang bersama kakang Triyono, kami nekad pergi ke Gunung Fujiyama.

Dalam perjalanan, saya berdebat soal benda putih di samping kanan kiri jalan menuju gunung. "Itu salju, Ndol", kata kang Tri yakin.

"Nggak ah, kang. Itu kayaknya cuman busa. foam lah. Namanya tempat wisata. ya, biar seneng wisatawannya" jawabku mantab.




Kang Tri terdiam. Apalagi kutambahin tentang cuaa dalam bis yang tetap hangat. Kang Tri terdiam.

Namun anehnya, kok semakin lama, tumpukan yang kusebut "busa" itu semakin banyak dan padat. Hingga akhirnya pas turun bus, baru kerasa sangat dingin dengan hamparan dataran gunung yang putih.

Setelah kugengam. ealah.

"Busa gundulmu, Ndol" kata Kang Tri ngakak.

Aku pun jadi ngakak. Mengaku kalah namun tetap senang. Inilah salju pertama yang kurasakan.

"Horeeee...! KIta nyamain rekor Faizal! Juooozz!" kataku bersorak-sorak.

"Eh, jangan seneng dulu" katanya mendadak dengan wajah serius.

"Emang kenapa?" kataku penasaran

"SI Faizal baru kirim foto, dia dah hujan-hujanan salju. Kita baru salju abadi. Jauh, ndol"

Gubrak. Kami pun terdiam bareng. Senengnya cuman sesaat. Masih kalah telak dibanding sohib yang satunya itu. Siyal. Hahahha...

Hutang yang baru beberapa tahun kemudian baru bisa terbalaskan saat di Stuttgart, Germany.





Nah, inti dari cerita ini adalah: Saya menebak lagi, salju yang turun di Jakarta barusan itu adalah busa. Serius deh itu busa. soalnya diinjak ban mobil, terlihat gelembung busanya. Bukan kayak salju yang terinjak ada bekas tapak ban-nya.

hehehe...

oleh: Hazmi Srondol
Don't Miss