Jurus Baru Penjegalan Prabowo: Presidential Threshold 20%

Oleh:   hazmi SRONDOL hazmi SRONDOL   |   10.16
"Saya ini taat konstitusi. Saya patuh dengan Undang-undang negara" kata Prabowo di ujung meja makan kediamannya di Bukit Hambalang. Langsung dari mulutnya, langsung pula terdengar dari telinga saya sendiri.

Sebaris kalimat yang menurut saya-- adalah konklusi dari karakter Prabowo dalam dunia politik. Karakter yang tentu saja menjadi panduan langkah dan strategy para kader partainya. Berbanding terbalik dengan fitnah-fitnah yang pernah menimpanya. Kudeta salah satunya.

Karakter taat konstitusi yang secara riil dan konsisten dilakoni semenjak secara resmi buku politik "Kembalikan Indonesia" ditulisnya langsung tahun 2004. Dilanjutkan dengan langkah konstitusional lainnya seperti mendirikan partai politik GERINDRA (Gerakan Indonesia Raya) sebagai jalur yang paling sesuai dengan undang-undang dalam menyalurkan aspirasi dan pandangannya strategis politik, ekonomi dan hal-hal lainnya.

Konsistensi Prabowo yang ternyata bagi lawan politik adalah hal yang sangat berbahaya. Apalagi dalam era "tabrak pagar" ini. Rakyat nusantara yang sejak berabad-abad terdidik dan terbudaya dalam sebuah tatanan kehidupan yang rapi, tertib, teratur, penuh tenggang rasa dan tepo seliro-- apa pun sukunya semakin sadar betapa sosok Prabowo adalah satu-satunya tumpuan untuk mengembalikan kejayaan Indonesia dalam khasanah dan kepribadian asli Nusantara.


Pernah juga, saya mendengar stigma yang ditempelkan kepada Prabowo sebagai sosok ambisius, gila kekuasaan dan lain sebagainya. Namun coba lihat faktanya sekarang--pada hari ini, kamis 20 Juli 2017-- di puncak popularitas dan elektabilitas,  kembali langkah penjegalan Prabowo untuk menjadi Presiden Indonesia terjadi lagi.

"Kokohlah seperti gunung", kata Prabowo di lain kesempatan.

Ya, konsistensi dan integritas taat konstitusi Prabowo membuatnya memang seperti paku bumi. Tak bergeser, tak bergeming. Walau kabut asap berupa issue ditiupkan dengan serangan berbagai media dari segala arah. Gusti Allah mboten sare. Setebal-tebalnya fitnah buatan manusia, surya matahari sekejab menyapu bersih semuanya. Apa yang disampaikan dari hati terdalam Prabowo sampai di hati rakyat Indonesia.

Fitnah tenggelam, lalu cara lain pun digunakan. Kali ini ini jurusnya adalah jurus yang langsung berhadapan dengan inti karakter Prabowo. Taat konstitusi.

Mendadak, muncul wacana penerapan presidential threshold dalam Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak 2019. Digelembungkan menjadi minimal 20 sd 25% dari jumlah persentase hasil pileg 2014. Jika aturan ini "gol". Maka sulit Prabowo untuk maju dalam Pilpres 2014 karena suara partainya sendiri tidak mencukupi.

Pengalaman kemenangan besar Anies Sandi yang mencapai 58% suara rakyat Jakarta sepertinya membuat mereka bergidik. Hasil raupan suara ini jauh lebih besar daripada suara partai Gerindra sendiri. Sepertinya ada yang trauma dan jeri melihat pergerakan arus bawah rakyat Indonesia.

Mereka paham, ketika kabar burung tak mempan, salah satu cara penjegalan terbaik Prabowo adalah dengan mengubah konstitusinya. Karena mereka yakin, ketika konstitusi digubah. Suka tidak suka. Prabowo akan mengikutinya. Karena memang itulah kepribadiannya.

Ditambah sudah pecahnya Koalisi Merah Putih. Ada yang benar-benar keluar koalisi, ada yang setengah hati atau bisa jadi, ada yang sekedar berstrategy. Namun realitanya, penjegalan lewat jalur konstitusi ini sudah semakin dekat dengan hasil yang diharapkan oleh sosok-sosok yang ketakutan dengan Prabowo. Berat rasanya hanya mengandalkan suara Partai Gerindra saja.

Namun, dari sudut hati paling dalam-- saya hanya bisa berdo'a, menitipkan keresahan kepada Allah Yang Maha Kuasa. KehendakNya-lah yang mampu membisikkan ke kalbu para anggota DPR, apa pun partainya agar mereka memutuskan sikapnya dengan jernih. Agar membatalkan perubahan Presidential Threshold 20% tersebut.

Apa mereka tidak ingat visi misi Pilpres 2014 terdahulu? Di saat para tim kampanye berkerja keras me-resume pandangan Prabowo yang dalam bukunya sangat tebal dan dihapal dan dipahaminya luar kepala menjadi beberapa point utama saja, kubu lawan malah pamer tebal-tebalan visi misi yang entah calonnya sendiri mengerti atau tidak dengan file yang diserahkan ke KPU.

Itu baru soal mengerti atau tidak. Kalau ditanyakan kembali realisasi visi misi? Ya sudahlah, kita tahu sama tahu. Kalau ada penyakit diabetes yang disebabkan janji manis, saya yakin akan ada pasien masal di seluruh penjuru Indonesia. Ya, tho?
Salam Prihatin,

Hazmi Srondol

Posting Komentar