Balap Hotwheels dan Tumbuhnya Sifat Gentleman Anak Lelaki

Oleh:   hazmi SRONDOL hazmi SRONDOL   |   21.44
"Jadi skenarionya, aku mainkan yang pasti kalah dulu--baru terakhir jagoannya, pak. Biar keren menangnya. Dramatis" kata Thole saat jelang balapan prosotan mobil hotwheels itu dimulai.

Sebagai bapak, saya mangut-mangut saja. Idem-in ajalah. Toh ini area permainan anak-anak.

Ya, dalam lomba kali ini-- ia mendaftarkan 3 namanya. Thole 1.0, Thole 2.0 dan Thole 3.0 sesuai batasan maksimum jumlah mobil yang didaftarkan.

Untung saja, lagi diskon besar sehingga modal membeli 6 mobil tidak terlalu mengoyak celengannya.

Benar. Pada mobil pertama dan kedua-- mobil jenis muscle car amerika ini memang bukan tipe untuk kompetisi seperti jenis Vendeta, Parodox dan lain sebagainya ini. Walau kalah, dia cukup senang menlihat mobilnya begulingan keluar dari trek. Miriplah dengan Dominic Toretto di seri FF1.

Yang paling mendebarkan tentu saat masuk skenario lombanya. Kebetulan, sesi penyisihan ini ada dua kali balap. Yang pertama kalah dan kedua alhamdulillah menang.

Hanya saja, dibutuhkan satu balap penentuan.

Bapaknya tegang, anaknya apalagi. Dan ternyata, skenario gagal total. Sesi penentian ini Thole kalah.

Sempat beberapa detik bapaknya melirik air muka anak terbesarnya ini. Ada wajah kecewa. Pahamlah saya atas perasaannya.

Hanya saja, mendadak bapaknya terkejut. Mas Thole menghampiri lawannya.

TOS!

"Selamat atas kemenangannya, bro!" Katanya dengan senyum lebar. Lawan tandingnya pun begitu. Ternyata, lawannya ini kakak kelasnya di sekolah.

Usai merapikan box mobil prosotan, sembari pulang bapaknya bertanya.

"Nggak papa kalah tuh, mas?"

"Nggak papa. Saya pas futsal sering menang kok. Sesekali kalah ya biasa." Jawabnya santai.

"Oh. Emang sering menang dimana, mas?"

"Lah, taekwondo aku jarang kalah pak. Sama kakak kelas juga jarang kalah. Malah kayaknya nggak pernah deh..."

Yayaya, kutepuk pundaknya kali ini. Bangga bener bapakmu ini. Bukan soal kalah menangnya, sih. Soal sikap "gentlement" yang tampak subur tumbuh dalam jiwanya.

*Bungah.

Oleh: Hazmi Srondol

Posting Komentar