Kisah Prabowo Minum Air Sumur dari Seluruh Kabupaten di Indonesia

Oleh:   hazmi SRONDOL hazmi SRONDOL   |   20.50
Entah mengapa, mendadak hari ini dada terasa sesak. Nafas berat dan isi kepala serasa seakan-akan mendadak penuh. Bathin pun bergejolak.

Tidak. Saya tidak sedang puber kudua atau jatuh cinta lagi. Saya hanya mendadak 'baper' (bawa perasaan) dengan beredarnya status tentang lokasi provinsi yang pernah dikunjungai. Status yang viral ini, kurang lebih pembukaannya begini:

"Nemu seru-seruan ini di timeline. aturannya sederhana: salin tempel nama-nama provinsi di Indonesia ini lalu beri (emoticon senyum)  jika pernah berkunjung atau 9emoticon cinta) jika pernah tinggal di provinsi itu”.

Ya, hal perjalanan keliling Indonesia inilah yang selama ini terus menjadi, hmm, entah obsesi atau memang panggilan alam. Sering dalam perbincangan dengan istri, saya mengutarakan niat untuk mengambil pensiun dini agar ada waktu sedikit waktu luang dan sisa dana untuk mewujudkan niat ini. Tentu setelah uang pensiun dini dikurangi pelunasan hutang dan memberi tambahan modal usaha jahitan istri yang sedang berkembang.

Ya, namanya istri--tentu iya iya saja. Hanya saja, entah masih ragu-ragu sendiri melihat kilatan matanya jika masih ada perasaan was-was dan khawatir. Khususnya urusan dapur rumah tangga kedepannya.

Pernah juga mengutarakan kepada atasan di kantor, beliau malah menyarankan sekalian mengajak kerjasama dengan perusahaan tempat berkerja untuk mencari dana sponsorship. Tentu dengan imbal balik promosi. Kebetulan perusahaan sebelah sudah melakukan sejenis kampanye video dengan pesawat drone keliling Indonesia. Kenapa tidak perusahaan sendiri membuat kampanye vlogging keliling Indonesia?

Menarik memang, hanya saja sempat juga terlintas pikiran. Bagaimana kalau ternyata perusahaan setuju dengan idenya, namun pelaksana bukan saya? Malah oleh vendornya saja? Mengingat saya belum menemukan aturan boleh tidaknya karyawan mendapat sponsorship sebagai seorang brand ambassador untuk tempatnya sendiri berkerja?

Belum lagi, atasan masih dalam masa menghadapi tahanan di Lapas Sukamiskin akibat kriminalisasi frekuensi 3G oleh sebuah LSM yang ketuanya sudah pernah ditahan karena kasus pemerasan atas laporan persoalan ini. Ya masa saya tega meninggalkan beliau ketika dalam masa-masa sulit seperti ini?

Bimbang dan ragu terus menghantui. Sampai-sampai istri menanyakan alasan niat ber-musafir ini?

Ada dua alasan besar yang ingin kucoba jelaskan kepadanya.

Pertama, tentang dunia menulis yang sepertinya sudah menjadi sejenis tugas yang diberikan Allah kepadaku ini. Hal yang penjelasannya sangat terbantu saat suatu hari kami sekeluarga menonton film "The Passegger" di bioskop yang dibintangi oleh Jennifer Lawrance dan Chris Pratt.

Dalam film tersebut. Ndilallah, muncul satu quote dalam dialognya yang sangat pas dengan apa yang aku rasakan, yaitu: "Bagi seorang penulis, kehidupan yang biasa-biasa akan menghasilkan tulisan yang biasa-biasa juga. Maka berpetualanglah..."

Alasan kedua, kuceritakan kepada istriku perihal kata-kata Prabowo Subianto saat makan malam di Padepokan Garuda Yaksa, Bukit Hambalang, Bogor.

Dalam suatu dialog, saya mencoba mengulik pemahaman beliau tentang Indonesia. Harap maklum, tahun 2013 dan pra Pilpres 2014--setiap statement Prabowo selalu menjadi bahan ejekan.

Ketika Prabowo berteriak soal NKRI Harga Mati beliau di cap ultra nasionalis. Ketika berbicara mengenai Bela Negara, beliau di cap fasis. Ketika juga berbicara mengenai Bhinneka Tunggal Ika--Prabowo dianggap kuno dan tidak kekinian. Kok sok memakai bahasa sansekerta, bukan bahasa Inggris seperti "I stand on de-onde" atau lain sebagainya. Hal yang entah mengapa disaat awal tahun 2017 ini juga malah sering dipakai tanpa tudingan seperti apa yang pernah ditujukan ke sosok Prabowo Subianto ini.

Apalagi, dimataku ini--buku Kembalikan Indonesia (2004) dan Membangun Kembali Indonesia Raya (2009) sangat luar biasa isinya. Isinya membelah otak dan seakan dimasuki pandangan-pandangan tentang Ke-Indonesia-an versi Prabowo Subianto.

Hanya saja, muncul pertanyaan kecil. "Darimana bapak tahu soal Indonesia?"

Perntanyaan kecil yang dijawab dengan tohokan kalimat yang akhirnya membuatku tidak bisa tidur berhari-hari.




"Bagaimana mungkin saya tidak tahu tentang tanah air Indonesia. Sumur seluruh kota dan kabupaten sudah saya minum airnya" jawab Prabowo.

Ya, saya lihat mimik mukanya datar. Matanya juga seperti biasa saja. Tidak terlihat niat lebay atau mengada-ada. Tidak pula sedang membuat sejenis diksi atau perumpamaan.

Walau entah, saya belum bertanya lebih detai perihal air minum dari sumur seluruh kabupaten di Indonesia ini. Apakah dalam kondisi mentah atau sudah dimasak dan dicampur kopi seperti hobi beliau meramu kopi ini.

Istriku sepertinya juga sangat tertegun sampai berkerut kening lalu bertanya untuk memastikan. "Minum seluruh air sumur yang ada di semua Kabupaten di Indonesia?"

"Iya, buk. Beneran. Makanya bapak juga pengen bikin video dengan niche ini. Niche minum air sumur di tiap kabupaten di Indonesia".

Saya cukup lega sampai taraf ini. Istriku paham. Suaminya juga harus bisa merasakan air tanah di Indonesia kalau memang tidak mau tanggung-tanggung mengenal negerinya sendiri. Tentu dengan penulisan atau pembuatan video dengan hasil yang tidak biasa-biasa saja.

"Kalau lah memang takdir dan tugas dari Allah untuk mencatat atau mendokumentasikan tentang Indonesia, saya yakin Allah juga akan memberi jalanNya juga. Percaya saja, pak. Kun fayakun" katanya memberi semangat.

Hal yang akhirnya membuatnya kini ikut bersemangat membantu mencari kontak dan referensi apabila panggilan tugas dari Allah ini benar-benar terjadi. Dari nama-nama dan alamat saudaranya, masjid atau tempat ibadah yang bisa ditumpangi apabila kesulitan mencari penginapan. Bahkan menghitung investasi pembelian telefon satelit yang terdapat fitur internetnya apabila daerah yang dikunjungi tidak dalam coverage sinyal seluler.

Duh, saya senang sekali.

Apalagi, pernah suatu ketika bercerita kepada mas Pras, salah satu sahabat perihal rencana ini. Ia pun memberi satu ide yang sangat menarik.

"Coba mas Srondol ikut saya kalau sedang tugas luar kota atau luar pulau. Enak kok, cuman modal naik bus Damri" katanya menjelaskan.

Hah, naik bus Damri? Ke Aceh, Balikpapan, Manado naik Damri. Hmm, baiklah.

"Ok, sip, mas. Tidak masalah" kataku yakin.

"Maksudku, naik bus Damri sampai bandara" katanya sambil tertawa terbahak.

Hahaha, siyal. Kena jebakan kata-kata rupanya.

Ya, walau belum benar-benar kejadian. Setidaknya ada harapan untuk bisa memberi tanda emotikon pada status facebook perihal provinsi-provinsi yang sudah di kunjungi. Bila perlu mengikuti beliau, sampai pada level Kabupaten/Kotamadya di Indonesia. Entah bagaimana nanti jalannya.

Insya Allah. Bismillah...

Penulis,
Hazmi Srondol

Posting Komentar