Program Astra Adopsi Pohon Gaharu, Antara Mengusir Gendruwo dan Memanen Emas

Oleh:   hazmi SRONDOL hazmi SRONDOL   |   15.32
"Akeh gondoruwone om, :D", komentar salah satu kawan di akun facebookku dengan imbuhan emoticon tertawa ini.

Sungguh ini kali kedua saya dikejutkan oleh pohon yang bernama gaharu ini. Kali pertama tentu saat pihak Humas Astra International menghubungi untuk mengikuti sejenis acara penghijauan di wilayah Batu Kasur, Cianjur. Daerah yang masih dalam kawasan gunung Pangrango.

Lewat telefon, ia mengatakan “Gaharu ini pohon termahal di dunia loh, mas Srondol”. Hah?

Ya, bagaimana mungkin saya tidak terkejut dengan dua pernyataan tersebut?
Kebetulan, perumahan tempat tinggal saya sewaktu masih kecil di Srondol Wetan, Semarang ini banyak memakai nama-nama pohon untuk jalannya. Ada keruing, merbau, rasamala, jati, merbau, meranti dan tentu saja gaharu ini.

Tak banyak yang kuketahui dari jenis-jenis pohon tersebut. Kalau boleh jujur, hanya pohon jati dan meranti yang sudah pernah melihat sosok tumbuhannya secara langsung.

Untuk gaharu, hmm… saya sama sekali tidak pernah melihatnya. Bahkan sampai saat acara Astra ini, saya masih menganggap bahwa pohon jati lah yang paling mahal.

Rasa penasaran menebus pertanyaan di masa kecil inilah yang akhirnya pada hari jumat pagi, tanggal 22 Desember 2016 membuat saya begitu bersemangat mengikuti acara adopsi pohon ini.

Setelah mobil saya parkirkan di rest area Km 10 Jagorawi, saya pun segera masuk ke bus jemputan. Alhamdulillah, teman-teman karyawan Astra memberi saya tempat di depan. Sehingga pemandangan selama perjalanan bisa lebih lega saya dapatkan. Beberapa footage video dokumentasi pun begitu leluasa saya kumpulkan.

100 Wartawan dan Blogger di acara Adopsi Pohon Astra

Setelah melewat Puncak Pass dan masuk ke daerah Cipanas, bus berbelok kiri ke sebuah gang. Dari sebuah banner informasi wisata, daerah ini ternyata bernama Batu Kasur. Tak jauh dari bus berhenti, ada penunjuk jalan ke sebuah situs kuno. Sebenarnya saya juga sempat tertarik untuk mendatangi situs wisata ini, namun akhirnya saya membatasi diri untuk lebih terkonsentrasi pada acara ini saja.

Di lokasi penanaman pohon ini, ternyata sudah berkumpul 100-an rekan wartawan dan blogger. Bahkan sudah ada bapak-bapak dari pihak pemerintah daerah. Humas PT Astra, GIF (Green Inisiatif Foundation) serta yang paling membuat penasaran adalah hadirnya mas Maharani, salah satu peraih penghargaan Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2014.

Bupati Cianjur Irvan Rivano Muchtar, dalam kesempatan ini memberikan sambutan yang positif atas kegiatan adopsi yang diinisiasi oleh PT Astra ini, “Semoga dengan adopsi pohon dari Astra, wilayah Batu Kasur dapat semakin tertata sehingga menarik wisatawan untuk datang. Tentunya kegiatan ini mendukung program pemerintah Cianjur untuk menjadikan wilayah Batu Kasur sebagai area wisata,” ungkap Bupati Cianjur.

Dari pihak Astra diwakili oleh Yulian Warman Head of Public Relations PT Astra International Tbk pun mengisahkan bagaimana proses kerjasama antara Astra dan GIF ini terjadi.

Menurut Yulian, “Green Inisiatif Foundation mencoba untuk mengajak para stake holder-nya untuk menjadi pengadopsi pohon, nah kita (Astra) ikut sejak 7 tahun yang lalu. Dan sekarang, bupati menawarkan di daerah situs yang yang kita sebut Batu Kapur ini. Nah kami sudah ke atas dan ternyata pohonnya kecil-kecil sekali dan butuh pohon-pohon besar. Kita diberi kesempatan untuk menaman disini. Rasanya kita butuh menanam ribuan pohon disini.”

Pernyataan Yulian ini ternyata tidak main-main. Dalam acara ini, Astra langsung mengadopsi 1200 pohon produktif. Istimewanya, selain 700 bibit pohon seperti pohon nangka, alpukat, jeruk bali dan jengkol—ternyata juga ditaman 500 an bibit pohon Gaharu.

Simbolis Adopsi 1000 Pohon & Penyerahan

Hewan Ternak oleh PT Astra International Tbk
Pohon yang menurut Maharani disebut sebagai pohon dengan investasi terbaik. Melebihi emas dan saham. Hanya saja, detail penjelasannya masih menggantung. Belum detail karena sesi pagi hingga siang ini dibatasi karena ada acara penanaman bibit oleh para wartawan dan blogger.

Sungguh, saya senang sekali bisa menanam dua pohon di bukit Batu kapur ini. Yang pertama adalah pohon jeruk limau dan yang kedua tentu pohon gaharu.

Pemilihan pohon yang saya tanam ini tentu bukan tanpa alasan. Ya, kembali teringat dimasa kecil. Di pojokan rumah saya dulu, ada pohon jeruk. Tepat disamping sumur yang sering saya timba setiap harinya untuk mandi dan mencuci baju. Sedangkan pohon gaharu, kembali karena rasa penasaran yang begitu membuncah.

Oh ya, sama seperti di dua desa sebelumnya, tujuan Astra menanam pohon buah di sini selain untuk konservasi lingkungan atau penanaman kembali area yang gundul, juga untuk memberikan nilai tambah yang ekonomis bagi petani di sekitar area penanaman.

Lokasi adopsi pohon jeruk dan gaharu oleh Hazmi Srondol
















Dari biaya Rp 100.000 per pohon yang diadopsi, para petani akan mendapat bagian sebesar 35% yang digunakan untuk berternak kelinci, ayam atau kambing sebagai bentuk dari investasi jangka pendek, sehingga dengan program ini akan memberdayakan para petani di sekitar wilayah tersebut agar dapat berternak selain bertani.

Usai acara penanaman bibit dan pemberian domba secara simbolis ke warga, akhirnya usai waktu sholat dhuhur dan makan siang datanglah saat yang paling saya tunggu-tunggu, yaitu sesi Berbagi Informasi bersama Maharani, sang ketua Forum Petani Pencinta Gaharu di NTB.

Sebuah kelompok tani yang  anggotanya sudah lebih dari 200 orang. Kelompok ini menjadi wadah pertukaran dan penyebaran informasi tentang tanaman gaharu. Termasuk juga informasi pemasarannya juga.

Dalam sebuah rumah kayu di Saung Sarongge, Maharani mulai memaparkan apa itu pohon gaharu dan manfaatnya. Khususnya dalam sisi ekonomis. Begini penjelasannya:

Pohon gaharu yang bernama latin (Gyrinops versteegii) merupakan pohon yang selama ini tumbuh liar di hutan Nusa Tenggara Barat dan bisa tumbuh tinggi hingga puluhan meter dengan diameter rata-rata 40 hingga 60 cm.

Sebanarnya ada dua jenis pohon gaharu yang tumbuh di Indonesia, yaitu jenis gaharu jawa yang hidup di pulau jawa, lombok dan sekitarnya serta gaharu sumatera yang banyak tumbuh di pulau sumatera dan kalimantan. Perbedaannya tidak terlalu mencolok. Namun keduanya tetap memiliki nilai ekonomis yang sama.
Sesi Berbagi Informasi oleh Maharani

Tak heran, akhirnya saya mengerti mengapa suku Asmat di Papua begitu bersemangatnya berburu pohon gaharu ini. Bedanya, di Papua banyak pohon-pohon gaharu yang sudah terbenam dalam lumpur rawa-rawa. Dalam sebuah video yang saya dapatkan di youtube, para warga suku Asmat menggunakan sejenis tombak yang ujungnya terdapat besi runcing kecil yang tajam dan ada sejenis kailnya untuk menusuk-nusuk lumpur tanah di rawa tersebut.

Jika tersangkut batang pohon gaharu, maka ujung tombak kailnya akan terdapat serat kayu gaharu. Lalu mereka menggali lokasi tersebut lalau membawa batang pohon gaharu tersebut dengan di gendong di punggung dengan ikatan dari pelepah daun sagu. Berat memang.

Tapi jika dilihat dari harga pohon gaharu liar yang telah ratusan tahun hidup di hutan seperti itu, gubalnya (getak kering) nya bisa berharga sampai Rp 500 juta per kilogram, setara dengan harga emas. Saya rasa penderitaan menggendong kayu tersebut tiada artinya. Hahaha…

Oh ya, ada beberapa bagian dari pohon gaharu yang membuat kayu ini begitu mahalnya. Bagian utama termahal adalah gubal. Gubal adalah bagian dari kayu gaharu yang infeksi mikroba jenis Fusarium sp.

Gubal inilah yang bernilai jual sangat tinggi. Gubal biasa dijadikan produk wewangian seperti parfum, dupa dan lainnya dengan kualitas yang sangat bagus dan sering digunakan sebagai bahan baku parfum bermerek.

Menurut Mahanani, sampai sekarang, semua parfum-parfum mahal wajib memakai bahan gubal gaharu ini. Indonesia pun baru bisa memasok 10% dari bahan baku parfum dunia. Oleh sebab itu, gaharu adalah salah satu andalan ekspor masa datang yang bisa mensejahterakan petani.


Nah, semakin tua pohon gaharu, semakin bagus kualitasnya. Usia terbaik pohon gaharu adalah 25 tahun.

Sedangkan pohon gaharu yang merupakan hasil pengembang biakan dengan usia panen 4 tahun, setidaknya akan menghasilkan belasan juta rupiah. Padahal, dalam lahan 100 meter persegi saja, setidaknya ada sekitar 25 pohon. Sedikitnya, dalam waktu 4-5 tahun lahan kecil tersebut akan menghasilkan pendapatan sekitar 250 juta. Dengan modal bibit hanya seharga 7500 hingga 10000 rupiah saja. Glek!

Selain gubal, bagian bagian lain dari pohon gaharu juga banyak sekali manfaatnya. Kulit dan daunnya bisa dioleh untuk obat dan minuman teh. Obat dari bahan gaharu ini biasanya untuk pengobatan kanker.

Sedangkan tehnya pun juga bermanfaat untuk pengobatan juga. Kelebihan lain adalah teh gaharu dibanding tehbiasa adalah daya tahan keawetan minumannya. Teh biasa, jika sudah disebuh pagi hari maka sore harinya kadang sudah basi (tengik). Teh gaharu tidak. Sampai besoknya juga masih sedap dan bermanfaat.

Namun ada sedikit cerita sedih dari Maharani terkait usahanya mengembangkan adopsi pohon gaharu di daerahnya Bima, NTB.

Harap diketahui, daerah NTB ini terkenal kering. Tak heran ketika musim hujan, sering sekali kota Bima terkena banjir. Bahkan satu hari usai acara Astra di Cianjur ini, saya mendapat kabar jika kota Bima kembali terlanda banjir.

Kesulitan terbesar Maharani menanam gaharu adalah masih banyaknya pameo bahwa di pohon gaharu biasanya banyak penunggunya.

Padahal menurut Maharani, kisah penunggu ini berasal dari kejadian ketika masyarakat melakukan “penyiksaan”atau melukai pohon gaharu liar tersebut agar si pohon mengeluarkan getah mahalnya untuk bertahan hidup, ketika setahun kemudian pohon tersebut hilang bersama-getah-getah gumbalnya oleh pemburu gumbal liar lainnya.

Hal ini pun sempat saya tanyakan ke beberapa rekan yang mempunyai pohon gaharu ini. Jawaban sangat menarik. Menurutnya, "Makanya ini saya buat isyu ditungguin gondoruwo. Lagian orang-orang sekitar saya gak ada yang percaya klo saya punya gaharu. Saya bilang aja pohon kramat. Gak boleh ada yg petik daunnya kecuali saya.“

Nah, betul kan?

Akhirnya, saat berdiskusi dengan istri di rumah--saya pun mengutarakan ingin ikut melakukan penghijauan di kebun keluarga di Sumatera. 

"Penghijauan apa pengen memanen emas?"tanyanya rada sinis.

Terpaksa kujawab dengan pepatah pantun Melayu, pepatah dari tanah kelahirannya, "Sudah gaharu, cendana pula. Sudah tahu, bertanya pula".[]

Ditulis oleh: 
Hazmi Srondol
Founder of Blogger Reporter Indonesia

Posting Komentar