Pilkada DKI 2017, Antara Simbol Oligarki, Arogansi dan Demokrasi

Oleh:   hazmi SRONDOL hazmi SRONDOL   |   02.45

"Jadi, kenapa mesti memilih Anies-Sandi, Om Ndol?" tanya salah satu kawan.
Ya, saya senang dengan pertanyaan seperti ini. Pertanyaan yang menunjukan keterbukaan hatinya untuk menerima informasi dari lawan bicara. Bahkan masukan yang bersifat personal dan pribadi sekalipun. 
Saya sendiri pun merasa merasakan seakan ada sumbatan air di dalam kepala yang lama terbendung, tak tersampaikan.
Begini, Pilkada DKI memang selalu menarik semenjak dilakukan secara langsung dalam pemilihannya pada tahun 2007. Penyebabnya antara lain: 
A. Keterkaitan dengan aturan pilkadanya yang mengharuskan pemenang mendapatkan 50+1% suara. Artinya, ini sangat berpotensi akan menjadi kerucut dan gesekan yang meruncing. 
Akibatnya dengan dua pasangan calon tersebut saat putaran kedua, terasa betul panasnya gesekan politik. Baik di tingkat elit maupun akar rumput. Apalagi ditambah dengan masuknya kita di era socmed, walah, makin heboh dan panas membara.
B. Dana APBD DKI yang sangat besar. Bahkan lebih besar daripada setoran pajak ke pemerintah pusatnya. Banyak ide-ide besar bisa teraplikasikan dengan dukungan dana sebesar ini. 
Contohnya tahun 2015, setoran pajak DKi sekitar 22T (cmiiw) sedangkan APBD mencapai 62T.
Bandingkan dengan Kabupaten Bekasi, setoran pajak ke pusat dari keberadaan Kawasan Industri saja 78T, belum tambang minyak dan gas buminya. Bisalah menembus angka 125T. Tapi APBD nya hanya 6,2T. Agak mirip angkanya daripada DKi, hanya bedanya, ada 'koma'di angka APBD Bekasi. Hehehe...:D
C. Potensi melonjaknya popularitas ketika menjadi Gubernur dan Wagub di DKI. Hampir semua media mainstream kelas kakap berada di provinsi ini. Tidak perlu penjelasan detail soal ini. Siapa sih yang tidak kenal Jokowi-Ahok pada tahun 2012 keatas? Bandingkan dengan tahun 2011. Orang Jakarta kenal Ahok? Kenal? Masaaaak? Hahaha...
Nah, pada tahun 2017 ini, jika dikesampingkan sisi pribadi maka akan terlihat sisi yang lain. Yaitu sisi latar belakang simbolik dari ketiga pasangan calon ini. Menurut saya, ada tiga simbol besar yang bisa kita lihat.

1. OLIGARKI :

Secara pribadi, kita sama-sama yakin AHY sosok yang baik. Lulusan SMA Taruna Nusantara dan AKABRI yang terbaik. Wajah tampan, tinggi, gagah dan kaya pulak. Menurut rilis resmi KPUD DKI, harta Agus mencapai 15 Milyar rupiah plus 500 ribuan dollar USD. Manteb tho?
Hanya saja, kisah masuknya Agus ke kancah Pilkada DKI kali ini menyisakan beberapa pertanyaan dan kekhawatiran. Antara lain statement bapaknya sendiri. 
Saat itu, dalam pengarahan kepada taruna, pengasuh, dan perwira TNI-Polri di Graha Samudra Bumi Moro, Markas Komando Armada Kawasan Timur, Surabaya, 2009, SBY mengatakan adalah hal wajar dan benar apabila seorang prajurit berkeinginan untuk menjadi jenderal, laksamana atau marsekal, demi pengabdian yang lebih luas lagi kepada negara. 
Menurutnya lagi, yang tidak benar kalau kalian memasuki akademi TNI Polisi lantas cita-citanya ingin menjadi bupati, waikota, gubernur, pengusaha, dan lain-lain. Tidak tepat. 
Nah, sudah tahu tidak tepat kok tetap dimajukan? Tercium sekali aroma oligarki. Dimana kekuasaan ingin dipegang oleh segelintir elit saja, khususnya dalam dinasti Cikeas. 
Diakui, dalam beberapa tahun akhir masa pemerintahan bapaknya, sistem ekonomi yang dianut di Indonesia adalah sisten neo liberal. Dimana sistem ini berbasis pasar bebas. Paham ini tentu sulit ditolak oleh anaknya, Agus Yudhoyono. Sesulit ia menolak untuk pensiun dini dari TNI.
Hal prinsip yang sangat berlawanan dengan konsep ekonomi kerakyatan yang dianut oleh Prabowo dan partai Gerindranya.

2. AROGANSI : 

Secara pribadi, ada satu sisi lain calon gubernur Basuki AKA Ahok yang saya kenal. Disamping tipe sumbu pendeknya, Ia sebenarnya juga mempunyai selera humor yang lumayan tinggi. Jago ngebanyol. 
Hanya saja, semenjak keluar dari partai Gerindra yang membawanya dari kampungnya ke Jakarta. Dengan hanya menitipkan surat pengunduran diri ke pos satpam DPP Gerindra, karakter sumbu pendeknya lebih dominan. 
Bahkan menjadi simbol baru Jakarta, yaitu: arogan. 
Hal ini terlihat semenjak ia menggantikan Jokowi menjadi Gubernur DKI, banyak sekali konflik dan benturan yang diciptakannya. 
Entah siapa yang membangkitkan dan memperbesar sifat ini. Kok si Ahok jadi begini? Mendadak teringat kata Claude Louis Hector de Villars: "God save me from my friends. I can protect myself from my enemies". 
Silahkan ngeles atau membantah dengan berjuta alasan. Contohnya perihal surat Al Maidah ayat 51. Faktanya memang statement terakhirnyanya sering membuat rakyat Indonesia secara umum dan khususnya warga DKI Jakarta menjadi terpecah belah.
Model seperti ini, sangat tidak layak untuk meneruskan roda pemerintahan di DKI Jakarta. 
Soal prestasi, sudahlah. Bandingkan saja dengan bang Yos, Ahok sudah nambah berapa jalur Busway? Sudah mengembalikan mode transport kapal sungai yang ada di zaman Bang Yos? 

3. DEMOKRASI:

Ya, memang pasangan Anies Sandi secara pribadi bukanlah manusia sempurna. Ada lebih kurangnya. Ketampanan Anies Baswedan hanya beda tips 11-12 dengan saya. Khususnya dari kacamata istri saya.
Kekayaan Sandiaga Uno pun begitu. Angka kekayaan nya sama plek dengan saya. Antara angka 0 sd 9 saja. Perbedaaannya tipis, hanya di nominal. Sandi Uno trilyunan, saya masih jutaan. Sama-sama berakiran AN. Ya tho?
Namun begitu, betapa kental simbol-simbol demokrasi dalam pasangan ini. Dari sisi demokratis internal partai Gerindra yang sempat terdapat penolakan sosok Anies ini. Sampai-samapai Prabowo sendiri turun ke bawah dan memberikan wejangan perihal karakter seorang pedekar.
Dimana seorang pendekar sejati lebih senang bertemu sparring partner yang sama-sama hebatnya. Saling beradu ilmu hingga pada suatu titik, terdapat persamaan visi dan pandangan--khususnya dalam tataran mencintai dan rasa ingin membangun negeri. Disinilah akhirnya, terbentuk kesadaran dan penerimaan secara lapang dada oleh para kader Gerindra atas sosok mantan Menteri Pendidikan ini.
Belum lagi perihal penempatan posisi Cagub dan Cawagub-nya. Demokrasi Pancasila benar-benar diterapkan dengan nyata. 
Hasil musyawarah mufakat dan dan keikhlasan Partai Gerindra dan PKS, Anies Baswedan yang bukan anak dari ketum kedua partai tersebut--dipercayakan menjadi calon Gubernurnya. 
Nah, kurang lebih itulah jawaban yang secara pribadi saya sampaikan kepada kawan tersebut sambil bertanya balik: "Paham...?". []
Hazmi Srondol