Prabowo & Anak-Anak, Berbagi Kenangan Indah dengan Bung Karno

Oleh:   hazmi SRONDOL hazmi SRONDOL   |   23.23
Akhirnya, dapat juga beberapa footage video Prabowo mencium kepala anak-anak kecil ini. Walau cuma memakai kamera ponsel dan sembunyi-sembunyi, rekaman ini sungguh membuat saya bahagia. Ya, inilah wajah dan sifat asli Prabowo.
Memang sejak lama saya perhatikan, sikap beliau saat bertemu antara orang dewasa dan anak-anak agak berbeda. Jika bertemu orang dewasa, sikapnya mantab kokok seperti gunung berapi. Genggamannya keras dan hangat. Sesekali melakukan salam "komando". 
Namun, ketika bertemu anak-anak. Seperti es krim yang kepanasan. Lumer. Lembuuuut dan hampir sebagain besar diciumnya kepala baik kening atau ubun-ubunnya. Senyum pun mengembang. Tulus.
Sempat iseng-iseng saya mengorek kebiasaan mencium kepala anak-anak ini kepada beberapa bekas anak buahnya saat masih aktif di Kopassus. Ternyata mereka tidak kaget. Memang begitulah Prabowo sejak dulu. Anak-anak mendapat tempat istimewa di hatinya.
Ada cerita lain juga dari salah satu anak buahnya yang lain. Saat itu ia mengajak istri dan anaknya bertemu Prabowo dan Pak Harto di Istana Merdeka. Anak yang masih kecil itu mendadak (maaf) berak di celana. Mungkin karena malu, sang anak dimarahi oleh orang tuanya. 
Prabowo yang melihat anak tersebut menangis karena dimarahi, Prabowo pun langsung mengingatkan agar sang anak jangan dimarahi. "Namanya juga anak-anak. Siapa tahu dia kelak yang akan membawa saya kembali ke Istana". 
Dan tidak usah jauh-jauh, anak saya sendiri pun juga mendapatkan pengalaman istimewa dengan Prabowo. Saat itu, Thole masih kelas 1 SD dan kebetulan giginya ompong. Berhubung acara di lapangan Polo sedang ramai dan seperti biasa beliau dikerubuti tamu-tamu penting, saya sungkan mendekat. Takut menganggu acara beliau.
E, lhadalah kok Thole main nylonong saja dan cium tangan. 
Anehnya, Prabowo malah sejenak mengacuhkan tamu-tamu pentingnya dan menerima cium tangan Thole sambil menggoda giginya yang ompong. Tentu saja beliau sambil tertawa-tawa dan terus meledek hingga anak saya tidak mau membuka mulutnya karena malu.
Saya? ya makin sungkan. Kan tokoh-tokoh penting yang sering saya lihat di TV itu jadi seperti dicuekin.... Gimana coba kawan-kawan?



Pertanyaan demi pertanyaan perihal sikap ini akhirnya terjawab. Pada suatu malam di bukit Hambalang, beliau bercerita tentang masa kecilnya. Saat itu, sekitar usia 5 tahun--beliau pernah ke Istana Negara bertemu Bung Karno. Saat itu, Bung Karno mengangkatnya tinggi-tinggi dan mencium kepalanya. 
Beliau ingat betul momen itu. Tak terlupakan. Bahkan baju kemeja/safari putih dan kopiah hitam Bung Karno masih jelas diingatnya. Belaiu juga bilang, "anak kecil memorinya sangat kuat. Saya ingin anak-anak merasakan apa yang saya rasakan. Bagaimana bahagia dan senangnya mempunyai kenangan indah--seperti halnya kenangan saya dibopong (diangkat) tinggi-tinggi oleh Bung Karno".
Rasa sayang, peduli dan fokusnya terhadap nasib anak-anak ini, sepertinya menjadi dasar pikiran paling utama bagaimana Prabowo memandang Indonesia yang seharusnya. Bukan Indonesia yang disebutnya "Negara Paradox". Katanya kaya, tapi rakyatnya miskin, katanya gemah ripah loh jinawi--tapi kok ngutang neng endi-endi (dimana-mana).
Reaksi cepat ini pernah saya buktikan pada sebuah unek-unek yang saya tuliskan di status facebook yang juga saya repost di blog Kompasiana dan blog Pribadi. Saat itu saya mengeluhkan liberalisasi dunia pendidikan Indonesia yang telah memaksa Universitas Negeri mencari uang sendiri. Artinya, sekarang banyak kampus negeri lebih mahal daripada kampus swasta. Terbalik dibanding zaman dahulu.
Apakah ini maksudnya bangsa Indonesia hanya akan dibuat pendidikannya sampai SMU saja?
Dan benar, mungkin, mungkin loh ya, tak lama berselang dari status soal biaya kuliah ini, bertempat di Kampus Universitas Negeri Medan, Prabowo langsung berjanji akan menghapuskan biaya pendidikan kampus negeri. 
Saya bersorak. Bahagia. Harapan anak-anak untuk bisa kuliah akan semakin terbuka. Walau memang, sempat saya mengkonfirmasi bagaimana dengan biayanya?
Jawaban beliau: "Kita selamatkan 1000 Trilyun uang negara. Kita tambah pendapatan negara. Pemerintah yang akan urus dan kelola sumber daya alam yang ada untuk anak-anak kita. Rakyat Indonesia harus merasakan anugerah terlahir di negeri yang kaya ini."
Nah, siapa yang tidak tersenyum mendengar jawaban beliau ini? 
Hanya saja, sempat saya sempat iseng lagi dan bertanya. "pak, kok nggak "begitu" ama yang dewasa. Setidaknya yang sudah cukup umur buat nyoblos. kan anak-anak nggak bisa milih pas pilpres, pak?"
Jawanya, "Saya bukan aktor politik, mas. Saya nggak pinter bersandiwara".
Oh. Baiklah...
[@hazmisrondol]


Video : https://www.facebook.com/hazmi.srondol/videos/998894060207671/ 

Posting Komentar