Responsive Ad Slot

Latest

Sports

Gossip

Covered

Mengenal Suku Kubu di Pedalaman Jambi

Rabu, 04 November 2015

(sumber foto: TROPENMUSEUM, Belanda)


Mumpung lagi ramai-ramainya berita dan status mengenai orang KUBU atau sekarang sering disebut Suku Anak Dalam (SAD), saya jadi ingin sedikit berbagi perihal suku yang sangat unik ini.

Begini ceritanya...

Dimulai ketika sekitar 11 tahun yang lalu saya menikah dengan seorang gadis yang lahir dan tinggal di Kota Bangko, Kab. Merangin, Jambi. Istri saya ini, dari garis darahnya merupakan campuran dari dua etnis. Ayahnya merupakan penduduk asli Melayu Jambi, masih keturunan ningrat dari kerajaan Melayu Jambi yang bernama Kerajaan Luhak 16 dan Ibundanya seorang wanita berdarah Minang bersuku Caniago.

Dari istri dan keluarga besar di Bangko inilah saya pertama kali mendengar dan mengenal orang-orang yang tinggal di hutan dalam wilayah bekas Kerajaan Luhak 16 yang disebut warga Bangko sebagai "Orang Kubu". Saya kurang paham bagaimana ceritanya kok sekarang berubah sebutan menjadi "Suku Anak Dalam" (SAD).

Konon ada yang mengatakan, perubahan ini karena sebutan "Orang Kubu" terkesan tidak sopan. Mirip dahulu perubahan nama "Makassar" menjadi "Ujung Pandang". Walau ketika di Bangko, saya jarang mendengar orang lokal menyebut suku ini SAD. Tetap menyebutnya "orang Kubu". Bahkan orang-orang Suku ini juga sepertinya lebih nyaman disebut "Orang Kubu" saja. Nah, dalam catatan saya kali ini, mohon ijin saya juga memakai penyebutan orang Kubu saja.

Lebih mengagetkannya, saya juga baru tahu jika Butet Manurung, yang terkenal dalam film Sekola Rimba ini-- dahulu sebelum masuk ke rimba tempat tinggal Suku Kubu, tinggal di rumah orangtua angkat saya.

Sekedar info, dalam adat Melayu Jambi--saya yang merupakan orang Jawa mesti mempunyai orangtua dari lingkungan setempat. Alhamdulillah, ada sebuah keluarga dengan bapak asli Bangko dan ibu dari Purworejo yang mau menerima saya sebagai anak-nya. Sungkem buat beliau dari jauh.

Nah keluarga angkat saya ini, selain Butet--juga sering menerima tamu-tamu bule yang sedang melakukan penelitian mengenai kehidupan orang Kubu ini.

Setelah menikah, istri saya sering bercerita tentang hubungannya dengan orang-orang Kubu ini. Sewaktu SD, ia pernah mendadak ketakutan ketika pintu rumahnya diketuk orang. Ketika dibuka, di depan pintu berdiri perempuan Kubu dengan pakaian terbuka bagian atasnya dan meminta sejenis sedekah dari warga. Ya, bagi anak kecil, tentu kejadian ini mengagetkan.

Kemudian, saya juga diberitahunya jika bertemu orang Kubu--jangan sekali-kali meludah di depannya. Saya fikir anjuran ini berkaitan dengan urusan kesopanan saja. Ternyata tidak, konon--bagi yang meludah di depan orang Kubu, maka orang tersebut akan dianggap menjadi bagian dari orang Kubu dan dibawa/diajak tinggal didalam hutan.

Soal dibawa ke hutan inilah yang kata istri lagi--menjadi sejenis ancaman yang digunakan para orangtua untuk menakut-nakuti anaknya yang malas belajar. Orangtua bilang, "nanti kami kirim kamu ke orang Kubu!". Tidak jauh lah berbeda dengan orantua saya dulu yang sering mengancam akan disuruh tinggal di desa dan tidak disekolahkan. Hanya disuruh "angon kebo" saja. Jelas waktu itu, saya takutlah. Hahaha...

Pernah juga dalam suatu saat saya bertanya dengan istri, sebenarnya bentuk fisik orang Kubu itu bagaimana? Apakah beda dengan kebanyakan orang Indonesia atau bukan? Dalam penjelasannya, ia mengatakan jika secara fisik--badan dan warna kulit orang Kubu lebih mirip ke orang Jawa. Coklat tua dengan bentuk tengkorak mata menjorok kedalam dan warna pupil hitam pekat. Agak berbeda dengan orang Melayu setempat yang berkulit kuning dan berwarna pupil kecoklatan.

Hanya saja, cara berjalan mereka berbeda. Jika kita, pada umumnya memakai seluruh telapak kaki untuk berjalan dan orang Kubu asli hanya memakai sisi luar telapak kaki. Hanya setengahnya saja. Mungkin ini dilakukan karena orang Kubu tinggal dihutan dan banyak duri-duri tajam yang berbahaya jika terinjak oleh seluruh luas penampang telapak kaki.

Orang Kubu, yang ketika berkomunikasi menyebut mereka "sanak"  ini juga terkenal suka membawa labi-labi yang besar atau binatang sejenis penyu yang digendongnya dalam perjalanan menuju Kota Bangko atau Sarolangun untuk dijual ke warga.

Dalam perkembangannya, memang masih banyak orang Kubu yang cara berpakaiannya hanya memakai cawat kain dan tidak memakai penutup dada bagi perempuannya. Namun dalam perjalanan waktu, modernisasi juga sudah masuk pada irisan pertemuan wilayah tempat tinggal warga non Kubu. Kini sudah banyak yang memakai baju/kaos bahkan baju selendang panjang bagi perempuannya. Bahkan tak jarang saya bertemu orang Kubu yang sudah naik sepeda motor.

Hanya saja, ada beberapa hal unik dari orang Kubu yang mengandarai motor ini. Mereka paling tidak bisa ditilang oleh polisi. Boro-boro ditilang, jika ada operasi dan diberhentikan pun, mereka malah berbalik bertanya ke polisinya dengan polos: "Kenapa? Ada apa? Ini motor saya beli..!"

Ya, memang menurut istri, sepertinya sistem hukum tidak/sulit diterapakan ke warga suku ini. Apalagi memang dalam local wisdom mereka, tidak mencuri itu adalah salah satu nilai tertinggi dalam nilai-nilai kehidupan mereka.

[caption id="attachment_1976" align="aligncenter" width="567"]kecepek Sumber foto: http://www.metrojambi.com/v1/images/stories/foto/berita/2012/mei/08-05-12/kecepek.jpg[/caption]

Saking agak bingungnya hukum Indonesia terhadap mereka, mungkin satu-satunya suku yang masih bebas membawa bedil/senapan laras panjang hilir mudik di jalanan dan kota ya hanya suku ini. Bedil yang sepertinya menjadi teman berburu bagi suku Kubu di dalam rimba raya. Bikin penasaran memang, walau dianggap suku 'terbelakang', namun soal membuat senapan yang sering disebut "kecepek" ini, orang Kubu itu salah satu ahlinya. Jago dalam pembuatan dan kerapihan hasil jadi senapan kecepeknya.

Saya pernah bertanya, bagaimana bisa orang Kubu sebegitu ahlinya membuat senjata termbak? Menurut orangtua di Bangko, boleh jadi memang ini bersambung dengan riwayat asli suku Kubu ini. Konon, mereka adalah orang-orang yang lari ke hutan karena melawan penjajahan dan imperialisme Belanda. Mereka tidak suka dan tidak cocok dengan aturan dan gaya orang Belanda. Untuk detailnya, memang perlu ada penelitian lebih lanjut dan mendalam.

Oh ya, pernah pula saya dikejutkan oleh kehebohan warga Bangko saat lebaran beberapa tahun silam. Saya pikir ada apa di lapangan tersebut. Ternyata, disana sedang ada lomba balapan motor grass track dan pesertanya, ada orang Kubu. Bagi warga setempat, ini tentu sangat menarik mengingat orang Kubu juga masih dianggap "baru" dalam mengendarai sepeda motor.

Dalam kesempatan yang lain juga, saya juga sempat penasaran di hutan mana orang Kubu tinggal. Menurut narasumber khusus (istri saya maksudnya), mereka tinggal di hutan-hutan sekitar Bangko, Sarolangun, Bukit Duabelas, Pegunungan Kerinci Seblat, Muara Siau, Jangkat atau kadang secara nomaden berpindah sampai di hutan/pegunungan di Bengkulu.

Saya sendiri kurang paham, apakah budaya nomaden ini bisa digubah? Misalnya diberi rumah dan tinggal di kebun-kebun sawit yang baru dibuka? Menurut pandangan istri, sepertinya itu sangat susah. Walau mungkin ada yang mau, tetapi kebanyakan ketika diberi rumah, mereka hanya memakai sebentar lagi lalu ditinggalkan kosong dan kembali ke habitatnya. Jadilah banyak orang lainlah yang memakai rumah peninggalan orang Kubu ini.

Unik memang, namun saya bisa memahami saat akhirnya istri saya mengatakan,  jika bagi mereka tempat tinggal tetap itu bukanlah hal yang utama. Bagi orang Kubu, yang paling penting adalah hutan mereka tetap lestari. Itu saja.

[Hazmi Srondol]
Posting Komentar
Don't Miss