Lezatnya Sambal "Ikang Asing" dari Makassar

Oleh:   hazmi SRONDOL hazmi SRONDOL   |   22.58
Ceritanya, pas sampai di rumah usai beli obat warung, e, ada oleh-oleh. Buah tangan istimewa dari para sahabat di Makasar. Menariknya, selain peci Makasar yang langsung diakuisisi kepemilikannya oleh anak--ternyata ada juga beberapa bungkus jajanan.

Dari semua cemilan, ada satu yang menarik perhatian. Yaitu yang dibungkus tas kresek putih. Namun, saat hendak dibuka karena penasaran, istri di rumah langsung bilang:

"Eh, jangan dibuka!"
"Emang apaan?"

Nah, sempat isi bungkusan ini saya jadikan sebuah pertanyaan di facecook. Sedikit kisi-kisi saya masukan sebagai clue untuk mempermudah rekan-rekan ntuk menjawabnya.

clue-nya adalah: I***G A***G.

Lucunya, dari clue ini--ternyata banyak rekan-rekan yang salah menjawab. Jawaban paling tepat datang mas Rosid. Ia menjawab IKANG ASING.

Oh kok Ikang Asing?

Ya, beberapa hari sebelumnya saya pernah membahas soal bahasa Makassar yang sering disebut OKKOT'S. Okkot's berarti menambah atau mengurangi kata dengan akhiran "G" atau "T"

Contoh:

Makang Ikang : Makan Ikan
Kanang-kanang, hook! (hok-nya beneran pakai K bukan P): Kanan-kanan, hoop! (tukang parkir).
Ayo nontong bioskot kali-kali satu: ayo nonton bioskop XXI
Pacarang dan jalang-jalang: pacaran dan jalan-jalan.
Radeng Ajen Kartini: Raden Ajeng Kartini

Tentu saja, ketika menyebut "ikan asin" dalam format tata bahasa okkots daerah makassar, tentu menjadi "ikang asing". Hehehe...

12047120_10206745641576290_8529387766930653904_n

Nah, untuk cemilan seperti kacang, krupuk dan sejenisnya, tidak terlalu lama untuk dihabiskan oleh anak-anak. Persoalannya adalah bagaimana dengan oleh-oleh ini?

Sebenarnya, dulu saya kurang suka ikan asin. Saya kurang tahan dengan sesuatu yang terlalu asin. Bahkan ketika makan paket nasi Timbel, coelan ikan asinnya saya tidak jamah. Mungkin terakhir saya meneukan kelezatan ikan asin hanya saat SD, waktu itu saya sejenis ikan asin yang dari seekor ikan yang bentuknya panjang dan tipis. Saya agak lupa namanya. Ikan pedha, mungkin.

Nah, sempat beberapa hari ikang asing tersebut didiamkan saja di kulkas. Hingga suatu hari saya mendengar suara berisik dari dapur. Lengkap dengan aroma yang sangat tajam. Sepertinya istriku sedang menggoreng sesuatu yang basah.

Dan benarlah dugaanku. Ia sedang menggreng sambal.

Ketika dihidangkan, saya penasaran dengan sambal ini. Kok sepertinya ada bongkahan-bongkahan kecil di dalam sambalnya.Ternyata, istriku memasukan ikan asin dari Makassar ini dalam sambalnya.

Penasaran seperti apa rasanya, aku coba cicipin sambal dengan ditemani sepiring penuh nasi putih. Pertama kali sedikit. lha kok enak. Trus makin nekad menambah sambalnya dan mencicipi sedikit ikang asingnya.

IMG_1450_Fotor

Masya Allah, uenaaaak bangeet!

Baru kali ini saya merasakan ikang asing yang pedas. Sampai 2 kali menambah nasinya. Sempat saya mengira itu sambal ditambah terasi.

Namun saat foto sambal ini saya share ke grup WA rekan-rekan admin Blogger Reporter ID--ada yang menanyakan cara membuatnya dan dikonfirmasi langsung dengan istri di rumah, ternyata sabal itu tidak apkai terasi.

Rasa "mirip-mirip" terasi karena ikan asinnya tercampur rata dengan sambal yang terbuat dari cabe merah, bawang merah, bawang putih dan garam. Sederhana tapi entah kenapa jadi enak begini.

Dan gara-gara ikan asin oleh-oleh dari Makassar ini, jadilah sekarang situasi terbalik. Dari gak suka ikan asin, e, sekarang kecanduan berat.

Hanya saja, sungkan minta ke bang Nur Terbit untuk menambah jatah oleh-oleh ikang asing-nya. Kan gak enak kalau nanti dianggap nglunjak. Hahaha...

[Hazmi Srondol]

Posting Komentar