Keisengan "Selfie" Video Tahun 2008 Yang Jadi Trend Vlogging Dunia

Oleh:   hazmi SRONDOL hazmi SRONDOL   |   11.03
Akhir pekan kemarin, awal bulan Oktober 2015 hati saya sempat terasa begitu campur aduk. Antara sedih sekaligus ledakan bahagia yang membuncah.

Sedih saat menemukan sebuah kamera saku lama bermerk Samsung S85 sudah begitu rusak dan hancur. Motor lensa macet, zoom nya tidak bisa maju atau mundur. Padahal posisi terakhir, baru setengah posisinya. Tidak masuk atau tidak maju sama sekali.

Sempat saya coba membongkar dan memperbaikinya, namun sayang, plastik bagian dalamnya sudah begitu ringkih dan getas. dipegang sudah remuk. Sampai-sampai anakku pun berucap "rest in peace, camera". Sedih mendengarnya.

Namun, dibalik kerusakan tersebut--memori SD yang tertanam didalam kamera tersebut masih ada. Hati begitu gembira, karena akhirnya, ada file terakhir kamera ini dipakai masih dalam kondisi utuh. Tak hanya foto, file videonya pun masih bisa diputar. Padahal, versi copy-an di laptop--entah kenapa menjadi error dan tidak bisa dibaca.

Melihat file video tersebut, mendadak air mata sidikit tergenang. Serius, ini tidak lebay. Saya teringat masa-masa anak pertama masih berusia 2-3 tahun. Saat dia sedang lucu-lucunya. Polos dan belum membuatku kerepotan karena berulang kali mesti dipanggil kepala sekolah atau gurunya akibat terlalu sering berkelahi dengan teman atau kakak kelasnya.

Ya, file video itu berupa rekaman perjalananku tahun 2008. Sekitar awal Desember saat musim salju mulai turun. Saat itu saya sedang mendapat tugas pelatihan dan kunjungan perusahaan salah satu vendor perusahaanku berkerja. Tepatnya di Alcatel Lucent, Stuttgart, Jerman.

Waktu itu pula, anakku selalu senang jika dimainkan rekaman video perjalanan bapaknya. Apalagi kali itu, rekamannya berupa pengalaman pertama kaliku hujan-hujanan salju. Orang asli disana menyebutnya "snowflake".

Rada kampungan memang, tapi bagaimana lagi. Saya hidup di negeri tropis. Salju hanya bisa dilihat rutin di freezer kulkas saja. Kalau pun pernah memegang salju alam, itu pun bukan berupa salju yang turun dari langit. Sebelumnya, hanya merasakan salju di pegunungan Fujiyama, jepang. Itu pun masih berupa salju abadi saja.

Rekaman video tentang snowflake itu juga akhirnya membuatku mendadak tersenyum geli sendiri. Video yang diambil dengan teknik "selfie" yang sebenarnya hanya ditujukan untuk anakku sendiri itu--tersebut ternyata di tahun 2014 dan 2015 ini mendadak menjadi kegiatan yang sangat tenar di dunia digital, khususnya di situs Youtube. Kalau di Indonesia, hal ini disebut dengan Vlogging. Singkatan dari Video Blogging.

Vlogging sebenarnya bukan hal benar-benar baru di dunia. Semenjak lama sudah ada, khususnya di luar negeri. Tercatat dalam sejarah, sejak 1998--Adam Kontras sudah memposting rekaman pribadinya di internet. Bahkan tahun 2004, Steve Garfield meluncurkan blog videonya dan mendeklarasikan tahun 2004 sebagai "tahun video blogging".

Garfield tidak mengada-ada, saat itu--ada sebuah kanal bernama Yahoo Screen memang sudah menyediakan sarana berbagi video lewat web. Walaupun pada akhirnya, sistem video sharing tersebut akhirnya tumbang oleh kepopuleran situs Youtube.

Sebenarnya, ada satu situs lagi yang pernah saya incar untuk ikut berpartisipasi berbagi video. Namanya Vimeo. Hanya saja, kelas vimeo lebih ke teknik videograpi yang profesional. Video disana berkelas "cinematic look" dan kadangkala memang, dalam sudut pandang budaya ada perbedaaan antara pembuat video di Vimeo dengan orang Indonesia.

Tak jarang saya jumpai beberapa video yang menampilkan para artis yang bertelanjang. Bagi pembuatnya, saya yakin menganggapnya adalah bagian dari karya seni, hanya saja memang untuk Indonesia masih ditabukan. Hal itu masih masuk ke ranah pornografi dan belum bisa diterima untuk masuk dalam area umum atau terbuka. Alhasil, vimeo pun ditutup aksesnya.

Secara pribadi, saya sebenarnya sedih. Karena gara-gara situs vimeo-lah yang pernah membuat saya di tahun 2012 begitu keras belajar sinematografi dengan sangat-sangat keras. Otodidak dan tidak bosan-bosannya menelepon mas Dimasnur (Nuraziz Widayanto) dam Babeh Helmi, sahabat dekat di Kompasiana yang memang bidangnya di pembuatan dan editing film ini.

Dari keduanya, saya banyak mendapatkan ilmu tentang dasar-dasar proses pembuatan dan editing film baik sebelum atau pasca pasca produksi. Walau pun hanya sebuah film pendek, prosedur skenario, pencarian pemeran, story board, alat hingga software-software untuk editing lahap saya pelajari.

Bahkan ditambah entah berapa lama saya menjelajahi beberapa video tutorial film maker dan editing video di youtube. Sempat dua buah laptop saya rusak menjadi korban belajar ini. Hal ini terjadi karena RAM memorinya tidak sanggup untuk berkerja terlalu keras menghadapi footage-footage file video saya ini. HIngga akhirnya, dengan terpaksa, saya mesti membeli laptop kelas Macbook yang memang terkenal handal dalam bidang grafis dan video editing.

Dalam perjalanannya pun saya sempat mencoba membuat sejenis reportase video, tujuan saat itu adalah jembatan belajar menuju seorang filmmaker--walau pun masih di kelas Vimeo.

Dan ditutupnya akses Vimeo, sempat membuat saya menyimpan Sony Next VG30--salah satu camcorder kelas profesional dalam kotaknya untuk waktu yang lama. Istriku sampai sempat menanyakan buat apa membeli kamera seharga dua motor scooter matic tersebut kalau hanya untuk disimpan?. Belum tools yang lainnya.

Ya, mau bagaimana lagi. Salah satu tujuan ber-videografi sudah tertutup. Belum lagi, berapa repot mencari talent-talent yang bersedia membantu menjadi pemerannya. Jangankan pemeran, mencari volunteer untuk menjadi reporter dalam video reportase saja susahnya setengah mati. Saat itu, saya hampir-hampir menyerah. Saya anggap, selesai sudah urusan per-video-an ini.

Benar, ketika pertengahan tahun 2014 dan awal tahun 2015 sudah mulai marak Vlogging di youtube oleh orang-orang Indonesia--saya masih belum terlalu tertarik. Bagi saya, maaf, kebanyakan videonya teknisnya masih ala kadarnya. Apalagi Vlogging di Indonesia kebanyakan masih di dominasi oleh mbak-mbak blogger kecantikan. Ya, khawatir aja jadi naksir kalau keseringan lihat Vlogging kecantikan begini. Apalagi saya sudah beristri dan beranak pinak begini.

Namun dari video lama tahun 2008 tersebut. Walau di video tersebut juga masih ala kadarnya, gambar tidak tajam, bergoyang-goyang dan kualitas suara berantakan namun membuat semangat saya ber-videograpi pulih kembali.

Apalagi setelah melihat beberapa akun-akun youtube yang hasil pembuatan Vloggingnya profesional dengan alat dan teknik yang serius, bahkan ada yang diundang khusus dalam acara karpet merah di ajang Grammy Award atau piala Oscar--menyala kembalilah "bara" semangat yang hampir padam ini.

Ternyata, walau hanya "Vlogging"--video yang di"shooting" sendiri, dinarasikan sendiri, direportase-kan sendiri, jika digarap dengan cara-cara profesional juga bisa menghasilkan karya yang diakui.

Ini pulalah yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk bergabung dalam ranah Vlogging ini. Saya berencana, tahun 2016 akan membuat channel youtube khusus yang akan bertema traveling kota Jakarta. Video yang akan saya buat ini untuk mendokumentasikan spot-spot property di Jakarta. Saya sudah merencanakan akan membuat sekitar 101 video Vlogging.

Semoga renacana ini lancar dan terwujud. Syukur-syukur mendapatkan sponsor sebagai vitamin penyemangat dalam kegiatannya. Jadi rekan-rekan semua,mohon di "amiiin" kan rencana saya ini.

Sebagai bonus, saya sertakan video tahun 2008 tentang pengalaman merasakan snowflake yang sudah saya edit dalam link berikut ini: https://www.youtube.com/watch?v=Mt6JnnQ0ORs

[embed]https://www.youtube.com/watch?v=Mt6JnnQ0ORs[/embed]

[Hazmi Srondol]

Posting Komentar