Film INSIDE OUT, Kisah Filosofi "Sedulur Papat Limo Pancer" Ala Amerika

Oleh:   hazmi SRONDOL hazmi SRONDOL   |   00.38
Sore ini, seperti biasa istri di rumah mengajak menonton ke bioskop lagi. Kali ini, film animasi INSDIE OUT yang sedang diburunya.

Sebenarnya, secara animasi--film ini biasa saja. Hanya saja, untuk lebih menuntaskan kepuasan menikmatinya, kami memilih versi 3D untuk kami nikmati bersama keluarga. Walau sedikit merogoh kocek lebih dalam anggaran keluarga--sekitar Rp 320.000 untuk 4 orang, saya fikir tidak terlalu masalah. Banyak sisi yang sebenarnya ingin kami diskusikan dengan istri dan anak-anak terkait film ini.

Hal yang ternyata malah anak-anak sendiri yang memancing pembukaan diskusi ini. Katanya, "filmnya aneh ya, pak. Mosok di dalam orang ada mahluk-mahluknya?".

Hahaha, saya senang dengan pertanyaan sang kakak ini. Hadiah pelukan dan tepukan di punggunya segera kuberikan kepadanya. Inilah yang saya tunggu-tunggu. Tak perlu ada pemaksaan pembukaan diskusi keluarga, khawatir nanti malah dianggap sedang berceramah saja. :D

Ya, film animasi keluaran Disney Pixar tahun 2015 dengan sutradara Pete Docter ini memang sekilas seperti mengada-ada. Apalagi yang tidak pernah belajar atau mengetahui beberapa filosofi budaya Jawa.

Dikisahkan dalam film tersebut bahwa ada anak perempuan berusia 11 tahun bernama Riley yang memiliki beberapa karakter emosi dalam tubuhnya. Perwujudan dari emosi tersebut diwujudkan dalam penokohan sebagai berikut:

Joy (bahagia); Fear (takut); Anger (marah); Disgust (jijik) dan Sadness (sedih).

Wujud-wujud ini diceritakan tinggal dalam sebuah tempat yang disebut markas besar (headquartes). Sebuah tempat yang berfungsi sebagai pusat kendali pikiran Riley sehari-hari yang membimbingnya dalam menjalani hidup sehari-hari. Catatan rekaman masa lalu Riley pun ada disini dengan wujud bola berwarna warni sesuai jenis rekaman kehidupannya.

Sewaktu kecil, kehidupan Riley sungguh bahagia. Dominasi bola kuning lambang kebahagiaan menjadi rekaman into dari hidupnya yang didapatkannya semenjak kecil tinggal saat masih tinggal di sebuah pedesaan Minnesota, Amerika.

Namun ketika ayahnya mengajaknya pindah ke kota besar San Fransisco. Situasi Headquarters mendadak menjadi kacau balau. Khususnya saat emosi-emosi terseut bersiteru mencari cara terbaik Riley untuk menghadapi lingkungan yang baru ini.

Untuk akhir ceritanya, mending tonton sendiri film nya ya? Nggak seru kalau saya ceritakan semua disini. Hehehe..

Nah, kembali ke pembahasan awal dimana film ini sebenarnya tidak "aneh-aneh" banget dalam filosofi Jawa. Ide dasar dan tema ceritanya yang menjadi taqline-nya berupa: "we all have little voices in our head" memang sudah menjadi hal yang standar atau biasa-biasa saja bagi khasanah filosofi Nusantara.

[embed]https://www.youtube.com/watch?t=27&v=seMwpP0yeu4[/embed]

Tidak percaya?

Coba cek tentang kepercayaan orang Jawa tradisional akan eksistensi "SEDULUR PAPAT LIMO PANCER". Sebuah kalimat yang secara harfiah berarti: empat saudara yang selalu mendampingi seseorang di mana saja dan kapan saja selama orang itu masih hidup.

Sangat identik dengan 5 tokoh di film Inside Out ini. Hanya saja, di film tersebut terdapat tambahan sosok Disgust (jijik) yang sebenarnya mash satu jenis dengan Fear (takut). Agak dipaksakan memang sosok yang satu ini. Ya, mungkin sedikit modifikasi dari sutradaranya agak tidak terlalu terlihat mirip-mirip banget dengan filosofi Jawa. Hehehe...

Nah, coba kita telusuri lebih dalam Inside Out versi negeri kita ini.

Sedulur Papat Limo Pancer, secara biologis juga digambarkan dengan bentuk-bentuk yang sangat berhubungan ketika sosok manusia masih didalam rahim ibu. Empat hal yang membuat sang calon manusia ini secara ajaib bisa hidup tanpa menggunakan langsung paru-paru dan sistem pernafasannya. Mereka itu adalah sebagai berikut

1. KAKANG KAWAH: Saudara tua (kakak) berwarna putih yang keluar dari gua gerba sang ibu. Istilah biologinya adalah"air ketuban".
2. ADI ARI-ARI: Sang adik ari-ari berwarna kuning yang keluar dari gerba ibu. Istilah biologinya adalah "plasenta".
3. GETIH: Saudara berwarna merah yang keluar dari gua garba ibu ketika melahirkan. Istilah biologinya adalah "darah".
4. PUSER: Lokasi titik yang dipotong sesudah kelahiran seorang manusia. Berwarna hitam. Istilah biologinya "pusar"

Nah, untuk "limo pancer" nya adalah diri kita sendiri, Dilihat dari keutuhan secara jasad atau jasmani.

Selanjutnya, dalam perkembangannya sebagai manusia ketika sudah dilahirkan dan hadir di muka bumi. Keempat saudara ini tetap menemani dalam wujud yang lain. Menurut Sunan Kalijaga, keempat saudara dirahim ini berwujud emosi atau nafsu yang menemani jatidiri kita sebagai manusia.

Emosi/nafsu itu adalah:

1. Nafsu Aluamah: Insting dasar manusia untuk makan, minum, berpakaian, bersenggama dan lainnya yang merupakan unsur simbolis dari tanah.
2. Nafsu Sufiyah: nafsu akan duniawi untuk dipuji, untuk kaya, mendapat derajad , pangkat. dan lainnya. Nafsu ini menggambarkan sifat udara yang selalu ingin memenuhi ruang selagi ruang itu ada (ruang kosong).
3. Nafsu Amarah: nafsu yang berkaitan dengan keinginan untuk mempertahankan harga diri, ego, emosi, marah atau sebutan lain yang bersifat panas laksana api.
4. Nafsu Muthmainah: nafsu yang mengajak kearah kebaikan. Berhawa dingin dan memberi kehidupan untuk diri sendiri dan orang lain. Sebuah gambaran dari unsur air.

Nah dalam tataran filosofi Jawa, keempat saudara (nafsu) ini bisa kita jaga, diruwat, dirawat dan dihormati--entah dengan simbolik bancaan/tumpengan atau hal-hal lain seperti puasa, dzikir dan ibadah ritual lain maka nafsu itu malah akan menjadi "pemomong" atau sang penjaga manusia. Namun sebaliknya, jika tidak dirawat atau dibiarkan semaunya, maka akan menghancurkan diri kita sendiri.

Atau dalam istilah lain, jika mampu megendalikan keempat saudara ini maka kita akan mampu menggendalikan sang "limo pancer" atau sering disebut juga "super ego". Hal yang akan membuka "bashiroh", yaitu mata bathin yang bersumber dari kesejatian 'min Ruhi' yang dianugerahkan oleh Allah sang Illahi.

punokawan

Nah, saat dahulu--tidak kalah dengan film "Inside Out" yang mempunyai perwujudan sosok kartun, leluhur kita juga mempunyai gambaran yang tidak jauh berbeda. Keempat saudara dan satu sosok utama manusia (limo pancer) digambarkan dengan punakawan dan sang ksatria.

Punakawan yang terdiri dari Semar, Petruk, Gareng dan Bagong mempunyai beragam sifat yang berbeda-beda. Walau digambarkan dalam sosok lucu, tetapi punakawan juga terkenal mempunyai kesaktian yang luar biasa. Bahkan dewa-dewa di khayangan pun bisa gentar ketika salah satu Punakawan yaitu Semar sedang marah.

Kemudian, dalam ceritanya--para Punakawan ini selalu mendampingi sang Ksatria ketika dalam masa pertapaan, masuk hutan gelap yang penuh hewan buas dan raksasa. Dengan bantuan punakawan inilah, sang Ksatria mampu lolos dari aneka jebakan dan serangan hingga akhirnya, kemenangan besar bisa diraihnya.

Nah, sayangnya. Konsep yang dahulu sangat populer di Nusantara ini mulai berkurang pemahamannya pada generasi muda. Saya sendiri pun juga begitu, kalau saja tidak menonton film ini--mungkin juga kelupaan menjelaskan pemahaman budaya kita yang adiluhung ini.

Dengan hadirnya film "Inside Out" ini, memang satu sisi saya merasa terhibur, namun tetap saja muncul keprihatinan. Prihatin kenapa konsep "Sedulur Papat Limo Pancer" ini, versi animasi terbarunya malah orang Amerika yang membuatnya? Bukan orang kita sendiri.

Padahal, animator-animator Indonesia tidak kalah kemampuannya. Jangan sampai selanjutnya, local wisdom bangsa kita yang lain diambil lagi dan dimodifikasi dengan gaya mereka. Generasi dibawah kita pun hanya sekedar menjadi penonton...

[Hazmi Srondol]

Posting Komentar