Puasa & Jebakan Rasa Lapar

Oleh:   hazmi SRONDOL hazmi SRONDOL   |   23.49
 

"Makan dulu...!"

Itulah kalimat yang paling sering diucapkan istriku ketika kami hendak keluar bepergian keluar rumah. Khususnya ketika hendak belanja sesuatu. Termasuk saat belanja kuliner alias hendak makan di restoran, walau pun hanya sekedar 2-3 sendok makan.

Pernah suatu hari saya bertanya kepadanya, kenapa harus begitu?

"Rasa lapar itu berbahaya..." jelasnya.

Ya, saya harus mengakui kebenaran kata-katanya. Banyak kejadian hal-hal tak penting terjadi saat sedang lapar.

Salah satu contohnya adalah beberapa helai baju, celana, alat-alat tulis, renik-renik yang terbeli saat main ke mall dalam kondisi lapar. Saat pulang dan kenyang, muncul kebingungan. Buat apa barang-barang ini? Bahkan ada yang saat dipajang di toko begitu keren dan menarik, sampai rumah kok jadi biasa-biasa saja.

Pernah juga ada kejadian, sekitar seminggu yang lalu saat berada di mall baru di simpang Proyek Bekasi. Saat itu, saya dan anak sedang lapar-laparnya karena usai membeli baju dan celana untuk anak.

Seperti di cucuk hidung ketika di salah satu resto cepat saji, mbak pelayan seperti menawarkan sesuatu dengan gaya mengobrol.

"Mau paket, pak?"
"Kasih es cream root beernya? Enak looh"

Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang seperti membuat waktu pelayanan terasa lama dan sekali lagi benar kata istriku, lapar ini berbahaya! Saya menuruti semua tawaran tersebut. Saat itu pikiran saya yang terkuasai rasa lapar hanya ingin satu hal: buruan ayam goreng dan nasinya keluar! Saya mau empok secepatnya.

Alhasil, melongo-lah kami ini. Daftar paket yang ditawarkan ternyata masuk sejenis kue brownis dan ada olesan es krimnya. Itu pun saya baru tahu, roti brownis dan eskrimnya ada tarif tambahan. Es krim untuk root beer juga ada tambahan tarif. Padahal yang saya butuhkan bukan itu.

Ya, sudah kadung (terlanjur). Sudah bayar pula. Toh saat itu saya positif thingking bahwa ujung-ujungnya yang di makan hanya akan jadi ampas saja. Jebakan marketing lewat rasa lapar ini saya telan mentah-mentah saja. Hitung-hitung buat "biaya kebodohan".

Namun, beberapa saat keluar dari parkiran mall--saya baru ingat bahwa tas kresek berisi baju-baju anak tertinggal di sana. Saya segera keluar dari mobil dan berlari dengan anak kembali ke resto untuk menanyakan perihal tas kresek yang tertinggal ini.

Dengan muka entah beneran polos atau tidak, beberapa pelayan/petugas resto menjawab dengan beberapa kalimat:

"Saya tidak lihat, pak"
"Sudah dibawa ibu-ibu yang tadi, pak"
"Kami ada CCTV nya, pak"

Dan lain sebagainya yang seperti membela diri dan sangat mustahil. Ini tempat terakhir yang saya kunjungi di mall ini. Istriku sudah jelas-jelas tidak membawa tas tersebut. Jawaban-jawaban ini mulai membuat darah mendidih, apalagi mendadak dengan beraninya anak saya nylonong masuk ke belakang kasir dan dapur. Menggeledah.

Alamak!

Tas kresek berisi baju dan celana tersebut ada dipojokan dekat kasir! Thole dengan suara meninggi berteriak: "INI DIA BAJUNYA...!!"

"Ini punya orang yang ketinggalan" kata mbak kasir dengan gemetaran.

"Ya ini yang saya cari tadi. Kok baru ngaku setelah digeledah? Mau jadi maling?" kataku geram.

Suasana mendadak hening. Tangan sudah mengepal keras. Ruang dan jarak aku ukur untuk menentukan ruang bertarung. Beberapa karyawan resto itu kutatap satu-satu, sepertinya bakal banyak yang babak belur.

Apalagi kalau ada satu ucapan mereka keluar sore itu. Hawa diri sendiri sudah sangat khas kusadari, sama plek ketika sedang menghadapi preman-preman yang sering memaksa meminta uang "koordinasi" saat sedang mengawasi proyek kantor di jalanan.

Namun ternyata semua membuang muka, bahkan mbak kasir tempak menunduk. Tak berani menatap.

Namun mendadak sepertinya ada malaikat yang membisiki "Sudahlah, mungkin mereka sedang lapar".

Ya, bisa jadi mereka sedang lapar juga. Ketika melihat tas berisi baju, mereka teringat adik atau saudaranya yang hendak ia belikan tapi gaji berkerja di resto tidak mencukupi.

Bisa jadi mereka anggap "rejeki" jika ada barang belanjaan baju tertinggal di meja makannya untuk dibagi-bagi sesamanya. Apalagi mall tersebut memang sebagian besar adalah toko baju. Dan apes saja jika kali ini, saya dan thole teringat bajunya yang tertinggal. "Rejeki" mereka batal untuk hari ini.

Usai kejadian itu, di rumah kami pun berdiskusi soal bahaya rasa lapar ini.

Jadilah kami menghubungkan dengan ibadah puasa yang akan kita jalani beberapa saat lagi. Ternyata memang benar, puasa (shaum) artinya al imsyak atau menahan-- esensinya lebih dari sekedar menahan reaksi lambung yang kosong saja.

Namun juga kesempatan mengenali reaksi bawah sadar kita ketika sedang lapar agar bisa mengontrolnya.

Hal yang salah satu manfaatnya adalah menghindari "jebakan marketing". Dimana rasa ini sepertinya sangat dipahami para "pedagang" ke pembelinya. Seperti yang terjadi pada saya sebelumnya. Hahahaha.

Sekian, selamat beribadah puasa buat saudara saudariku yang menjalaninya. MERDEKA!

***

follow: @hazmiSRONDOL

Posting Komentar