Responsive Ad Slot

Latest

Sports

Gossip

Covered

Kisah Batalnya "Menara BTS" di Masjid Kami

Rabu, 20 Mei 2015

Sudah beberapa bulan terakhir ini saya tidak melihat beberapa bapak-bapak tetangga saat sholat subuh di masjid komplek. Saya sungguh penasaran, kemana gerangan beliau-beliau ini. Konon kabar yang beredar, bapak-bapak yang saya cari ini sudah tidak tinggal di perumahan kami lagi.

Sungguh saya mendadak bergidik. Saya teringat kejadian sekitar setahun lebih yang lalu. Saat itu mendadak saya mendapat tamu, ustadz DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) komplek. Ustadz dengan tergesa-gesa mengundang saya untuk hadir ke masjid malam ini juga untuk membantu menjelaskan soal tower BTS ke jamaah.

Hah? Awalnya agak heran. Tumben-tumbenan saya diundang membahas urusan tekno di masjid. Sempat GR juga, jangan-jangan saya sudah dianggap "ustadz" khusus tekno oleh warga. Hihihi.

Sesampainya di Masjid, terlihat banyak bapak-bapak warga dan pengurus DKM sudah hadir membentuk lingkaran. Gelagatnya kok sepertinya lain. Ternyata, setelah saya datang dan acara langsung dimulai dengan penjelasan dari DKM jika pengurus mendapat proposal dari salah satu vendor operator seluler untuk memasang BTS di masjid kami. Konsepnya adalah meninggikan menara beberapa meter sesuai spesifikasi teknis yang diperlukan.

Oooo, jadi paham. Sepertinya jemaah perlu tanggapan saya , ehem, sebagai tokoh senior dunia telekomunikasi. Setidaknya di kompleks kami.

Ya, walau sebenarnya agak sungkan dengan operator yang mengajukan proposal ini karena operator tersebut bukan tempat saya berkerja, namun sebagai salah satu jemaah masjid tersebut, saya perlu sampaikan untung rugi adanya BTS tersebut.

Pertama soal kerugian yang saya sampaikan. kerugian yang paling mendasar adalah kemungkinan lompatan listrik saat petir menimpa menara masjid tersebut. Walau pun kemungkinan kecil jika sistem grounding bagus dan lokasi kota kami, Bekasi tidak seperti Bogor yang curah petirnya tertinggi di dunia--namun resiko ini tetap perlu disampaikan.

Perlu kehati-hatian dan kepastian dan terjaminnya sistem grounding penangkal petir ini. Jangan sampai sistem grounding bagus tetapi kabel tembaga tersebut tercuri--ya, sama saja. perlu tambahan sistem arau personil yang stand by 24 jam di masjid. kalau tidak ada satpan, setidaknya marbot-nya ditambah.

Setelah itu, baru saya sampaikan segudang manfaat adanya BTS yang berbentuk menara masjid ini. Secara nasional, hal ini sangat bermanfaat untuk mengurangi banyaknya menara besi yang sangat tidak cantik. Apalagi Indonesia terkenal dengan "hutan tower" nya ini. Perlu kamuflase untuk penanganan estitika tower ini.

Manfaat lain adalah, dengan hadirnya tower BTS yang berbentuk menara--setidaknya masjid bisa menumpang listrik dari BTS tersebut. Baik PLN maupun genset pada saat darurat. Bakal mengurangi cost biaya listrik masjid yang ratusan ribu rupiah tersebut perbulan.

Manfaat lain yang utama tentu adalah perihal dana sewa lokasi ini. Dari proposal yang saya baca, kontrak pertahunnya puluhan juta dengan kontrak minimal 5 tahun. Angka yang sungguh sangat besar untuk menjalankan program-program masjid seperti rencana pembangunan madrasah, pagar, paving blok halaman masjid dan lain sebagainya. Bahkan sangat memungkinkan  untuk memberi uang saku ke da'i kondang jika ada acara keagamaan. Pokoknya, secara finansial, masjid benar-benar "makmur" dalam hitungan saya.

Namun sayangnya, ada beberapa warga yang menolak. Alasannya ada dua. yaitu soal "fikih" masjid digunakan sebagai tempat usaha dan perihal bangunan masjid yang merupakan wakaf dari orang Arab yang katanya tidak boleh digubah bentuknya.

Soal fikih tersebut tentu debatable. Hanya saja, ketika saya hendak menjelaskan jika di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi sekali pun, sinyal telefon sangat kuat walau pun tidak tampak antenanya. Saya menduga, antena-antena tersebut sudah dimodifikasi menyesuaikan bentuk bangunan sekitar. Bahkan di halaman Masjidil Haram adalah salah satu tempat favorit saya mencari sinyal wifi gratisan saat di tanah suci, e, ustadznya mencolek pinggang saya untuk tidak perlu berdebat.

Dan saat itu juga, walau hanya seberapa gelintir warga yang menolak--ustadz memutuskan untuk menolak proposal tersebut.

Sangat disanyangkan sebenarnya. Sempat saya berucap "ustadz, kan enak dapat sewa BTS. Kita nggak perlu keliling bawa teromol ke warga kalau ada acara". Dengan tertawa, ustadz menjawab "Nggak papa, pak. Mungkin ini jalan warga agar tetap berkesempatan sodakoh. Biar nggak manja juga".

Ya, sudahlah. Toh saya juga mengerti kekhawatiran pengurus DKM jika dianggap "mencari duit" dalam proposal tersebut. Memang daripada menjadi fitnah. Mendingan tidak usah sama sekali.

Walau saja, ketika beberapa bulan kemudian beberapa bapak-bapak yang sangat keras menolak BTS tersebut , bahkan sampat mengebrak lantai masjid mendadak menghilang saat sholat Subuh. Satu-satunya waktu termudah warga untuk berinteraksi sebelum tenggelan dalam aktifitasnya, tentu ini menjadi perhatian dan ke-kepo-an tersendiri.

Apalagi setelah terkonfirmasi jika menghilangnya ini karena memang pindah rumah karena (konon) usahanya merugi dan terpaksa menjual rumahnya dan pindah ke perumahan yang lebih jauh bahkan mengontrak, saya jadi ngeri sendiri.

Setidaknya bagi keluarga di rumah saya wanti-wanti dengan keras agar tidak main-main dengan urusan "kemakmuran" masjid dan umatnya.

Walau memang berbau gotak gatik gatuk atau penuh praduga, namun boleh saja dong saya tetap berhati-hati. Apalagi kan kita hidup di dunia ini tidak sendiri. Ada malaikat, ada jin atau mahluk-mahluk lain ciptaan Allah yang bisa jadi tidak terima dengan batalnya kemungkinan bertambahnya makmur dan nyamannya masjid yang bisa jadi--mereka juga jemaahnya.

---
Posting Komentar
Don't Miss