Film "Guru Bangsa Tjokroaminoto", Ke Mana Sosok KH Samanhudi?

Oleh:   hazmi SRONDOL hazmi SRONDOL   |   00.21
 

Seminggu ini, tuntas sudah target istriku untuk bisa menonton film di bioskop lima hari berturut-turut. Dari sekian hari tersebut, ada beberapa yang saya ikut menemani dan ada beberapa yang saya lebih memilih nongkrong di Garden Café sendirian sambil menikmati kretek nusantara dan membiarkan anak-anak menemani ibunya.

Manariknya, dari sekian film tersebut—ada satu film yang salah satu tokohnya disebut anak saya terkecil dalam “nglindurnya” dimalam hari.

“Bapak, tuan Tjokro tidak bersalah…. Zzz…”

Jelas kami jadi tertawa terbahak dimalam buta. Tidak menyangka, film berjudul lengkap “GURU BANGSA TJOKROAMINOTO” inilah yang malah masuk dalam alam fikiran bawah sadarnya.

Padahal, sempat saya prihatin saat masuk ke ruang bioskop menyaksikan film bergenre sejarah ini. Istriku yang bagian antri tiket sempat kebingungan, dari deretan antrian yang mengular hampir satu jam tersebut, penonton film ini tak lebih dari 25 an penonton. Berbanding terbalik dengan film “Fast & Furious 7” atau “Beauty & the Beast (La Belle et la Bete)” sekali pun.

Sebuah keprihatinan yang akhirnya terbayar lunas dengan suksesnya film tersebut dalam benak anak-anak. Setidaknya, film Indonesia sudah dihargai oleh anak-anak kami sendiri, calon penikmat film lokal masa depan.

Istriku sempat bertanya, bagaimana bisa sosok “tuan Tjokro” ini bisa lebih masuk ke persepsi anak-anak daripada film barat lainnya?

Ya, bisa jadi—ia agak terkejut saat ada namanya di scene awal. Saat itu, tuan Tjokro dipanggil karena menuliskan satu kata yang berkaitan dengan nama belakang anak kami, “Hijrah”. Atau bisa jadi karena pemeran film lokal ini berwajah orang Indonesia kebanyakan dan berbicara dengan bahasa Indonesia sehingga lebih menjiwai tiap adegan.

Namun apa pun itu, secara pribadi sangat puas dengan hadirnya film yang mengangkat sosok besar bangsa Indonesia: HOS Tjokroaminoto yang kondang dengan kata mutiaranya:

"...jika kalian ingin menjadi Pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator..."

Secara teknis cinematografi, tim pembuat film yang dipimpin oleh sutradara Garin Nugroho ini terlihat sudah sangat berusaha keras memberikan gambaran dan setting yang sesuai dengan kondisi riil saat awal pra kemerdekaan.

Kostum, properti mebel, keramik ruangan, hingga mobil kuno pun sangat sesuai. Walau memang ada beberapa “kecacatan” kecil yang susah sekali dihindari, misalnya:

1. Penampakan antena BTS saat naik kereta api uap di pegunungan. Ya, siapapun akan sulit menghapus tampilnya antena BTS ini. Namun tenang saja, saya yakin hanya terlihat saat di layar lebar, di layar monitor TV sepertinya tidak terlihat.

2. Kumis palsu pemeran utama—Reza Rahadian terlihat bekas cukuran kumis aslinya dibelakang kumis palsunya. Khususnya saat pengambilan gambar close up. Namun semua ini tertutupi oleh akting ciamik Reza.

3. Walau tinggi Peci/kopiah yang dipakai HOS Tjokroaminoto sudah benar memakai yang tinggi 12 cm, tetapi ada kesalahan model. Jika merujuk ke peci hadiah Agus Salim, maka model pecinya adalah model Sumatera Barat yang ada ‘punuk’ nya. Model peci ini juga dipakai oleh Bung Karno. Walau memang harus diakui, model peci 12 cm dengan punuk ini sudah jarang yang membuatnya. Terakhir kulihat yang masih memproduksi peci model ini adalah di pesantren Az Zaytun, Indramayu.

4. Sudjiwo Tedjo lebih pas daripada Reza Rahadian jika dilihat dari fisik asli HOS Tjokroaminoto yang bermata bulat seakan-akan keluar, berhidung mancung dan beralis melengkung kebawah, bukan keatas seperti pak Raden-nya si Unyil. Namun memang dari segi umur, Sudjiwo Tedjo sudah mulai uzur untuk memerankan tuan Tjokro muda.

1429378288283872985

Sudjiwo Tejo & Maia Ahmad (suber foto: twitter @sudjiwotejo)


Jadi, hal-hal kecil tersebut menjadi tidak berarti karena memang secara kualitas, film ini layak dijadikan tontonan keluarga yang mendidik.

Sedangkan pertanyaan lain dari istriku perihal keterkaitan sejarah dengan hilangnya sosok KH Samanhudi, mentor asli HOS Tjokroaminoto dalam film tersebut, yang memang kuat keterikatan antara sejarah “Sarekat Islam” dengan “Sarekat Dagang Islam” tentu ada alasan lain yang membuat tokoh ini tidak muncul.

Kemungkinan pertama, sejarah “Sarekat Dagang Islam” (SDI) akan bertabrakan dengan misi film ini yang ingin mempersatukan kaum pribumi dengan etnis Tionghoa, dimana jika akan memunculkan sosok KH Samanhudi dengan SDI nya—tentu temanya bisa berubah menjadi perseturuan pedagang pribumi dan Tionghoa.

Ya, yang dalam catatan sejarah, dimata SDI – pedagang Tionghoa terlalu banyak diberikan fasilitas dan status tinggi yang berbeda oleh pemerintah kolonial Belanda sedangkan kaum pribumi tidak sehingga menyebabkan KH Samanhudi menginisiasi lahirnya Serekat Dagang Islam ini.

Kemungkinan kedua, secara ploting dan tema cerita, kisah HOS Tjokroaminoto memang unik. Keunikan ini tentu perihal ketiga muridnya yaitu: Kusno (Soekarno), Muso dan Kartosuwiryo.

Dimana dalam catatan sejarah bangsa Indonesia kemudian—ketiga muridnya ini sempat berseberangan keras dalam bidang politik. Saat Soekarno menjadi presiden, Muso akhirnya meninggal dalam pemberontakan PKI di Madiun sedangkan Kartosuwiryo, meninggal dihukum mati di pulau Ubi, Kepulauan Seribu tahun 1962 karena membawa cita-cita membangun NII (Negara Islam Indonesia).

Dan tentu saja, kisah tiga murid tuan Tjokro ini sangat berpotensi menjadi film lanjutan berikutnya yang menurut saya, akan sangat menarik untuk dinanti.

===

Penulis,

@HazmiSRONDOL

Posting Komentar