Responsive Ad Slot

Latest

Sports

Gossip

Covered

Survey LSI & Bukti Kepanikan Ahok

Rabu, 11 Maret 2015



Saya jadi geleng-geleng kepala ketika mendadak muncul lagi hasil survey yang dirilis sebuah media (10/3/2015) yang mengatakan bahwa "70% warga Jakarta lebih percaya Ahok".

Saya fikir, dengan berlalunya era pilpres 2014--cara-cara suntikan persepsi (perception injection) ala konsultan politik Stan Greenberg sudah tidak dipakai lagi.

Seperti kita ketahui, Stanley Bernard "stan Greenberg mempunyai trik yang sangat identik dalam penanganan kesuksesan klien politiknya. Dari Bill Clinton, Al Gore hinga John Kerry pun memakai pola dan konsep yang hampir serupa, yaitu : "survey" dan "media".

Di Indonesia sendiri, gaya Stan sedikit dimodifikasi dengan menggunakan tambahan alat social media bernama "twitter".

Ya, saya manemui banyak survey "beneran" dan serius. Surveu-survey ini biasanya dilakukan oleh ahli-ahli statistik dan tidak digunakan dalam politik. Lebih pada kebutuhan internal perusahaan dan hasilnya tertutup.

Contoh survey yang paling sering saya temui adalah survey cita rasa rokok dari SPG-SPG nya. Mereka begitu serius membawa map dan pulpen. Kadangkala kita mendapat bonus PIN BB kalau mereka menyukai ketulusan testing rasa kreteknya.

Kalau politik? sampai saat ini saya tidak pernah sekali pun menerima telefon/survey dari lembaga-lembaga yang sering masuk berita tersebut. Bahkan boleh dibilang satu RT/RW yang saya temui di masjid-masjid atau warung pun juga tidak pernah mendapat survey tersebut.

Hal yang akhirnya saya sadari, sample yang mereka pakai (konon) hanya 2000 sd 3000 an orang yang tentu saja tidak mewakili 250 juta penduduk Indonesia. Saya menebaknya, sekedar formalitas saja. Yang penting ada bahan untuk membuat press realese ke media massa yang dianggap berpengaruh.

Padahal, konsep ini secura natural terpatahkan dengan konsep polling dan hasil pilpres/pilkada itu sendiri.

Hayo kita buka berita lama hasil polling. Walau dulu Jokowi digadang-gadang lewat survey akan menang telak satu putaran dengan 80% suara, hasil polling terbali. Prabowo menang telak dihampir semua polling. Menang antara 55% s/d 65% an.

Dan hasil Pilpres, walau saya pribadi masih menganggap Prabowolah pemenang sejati--tapi berdasar hasil ketetetapan KPU, Jokowi 51,x% saja suaranya. Tetap saja jaoooh bener dari hasil survey.

Jika membawa-bawa kata "Warga Jakarta", coba cek deh hasil pilkada DKI. Disana ada 40% warga yang golput. jadi jika pasangan Jokowi Ahok menang 54% sekalipun, itu berarti hanya 31%an warga DKI yang memilih dia. Sisanya golput + tidak memilihnya.

Untuk media yang blasting hasil survey tersebut, ya maaf. TST lah. Tahu sama-tahu.

Nah, satu alat tambahan di era digital adalah twitter. Bagi yang sudah ngglotok mainan twitter tentu sudah paham. Berapa persen sih pengguna asli twitter? Boleh cek, paling tinggi 1/7 jumlah akun twitter dari totalnya yang merupakan akun asli. sisanya siluman.

Soal trending topic, hadeh, sini siapa yang pengen namanya masuk TT? contoh: #PutinLoveCutMutia baik TTWI atau TTI saya bisa temukan broker-brokernya. Asal siapin dana promonya saja. Hehehe...

Ya, satu sisi memang ada kelebihan twitter ini. Aplikasi ini sejenis "micro blog" yang terindex di google. Berbeda dengan akun FB yang hanya jenis "halaman" saja yang bisa dimonitoring via google atau alat monitoring lainnya. Akun pribadi tidak. Dan kubu Prabowo, entah kenapa lebih suka memilih aplikasi ini. Mungkin terkait paket internet para pendukung Prabowo yang (maaf) pas-pasan.

Tentu saja, hal ini semakin mempermudah digunakan sebagai alat pengesahan dalam membuat berita di jalur mainstream.

Nah, kembali ke Ahok.

Jujur saja saya sempat simpati dengan si engkoh yang satu ini. Saya tahu dari sekpri-nya jika kalau Ahok kerepotan dengan gaya Jokowi yang lambat urusan administrasi karena ditinggal blusukan. Satu surat saja bisa 2 mingguan di eskalasi ke Ahok. padahal, wajarnya paling lama 3 hari atau kalau memang ahli birokrasi, sehari pun selesai.

Apalagi saat beberapa saat menjelang pilpres saya di utus untuk bertemu dengan Ahok di kantor gubernuran DKI.

Sayangnya, simpati ini mendadak menjadi cacat di mata saya saat sampai TKP saya mencium aroma pengkhianatan dan keanehan diruang kerja Ahok. Aroma pengkhianatan ini saya dapat dari ucapan keceplosan staff pribadinya yang pusing memikirkan bagaimana caranya Ahok bisa jadi "DKI 1" alias Gubernur.

Bayangkan saja, waktu itu masih kader Gerindra kok berani memikirkan menjadi "DKI 1"? Padahal jelas-jelas Jokowi masih gubernur dan Prabowo dalam persiapan maju ke Pilpres 2014. Keinginan menjadi DKI 1 = mendorong Jokowi menjadi Presiden atau Jokowi mati. Hanya itu saja pilihannya.

Sedangkan di ruangan kerja Ahok, saya menemui kejanggalan dan kecacatan integritas Ahok lainnya. Jauh sebelum beredar berita istri dan adik Ahok memimpin rapat di DKI--saya pernah melihat Ahok marah-marah di situs youtube Pemprov DKI karena ada orang tanpa seragam atau ID card di ruangan kerja Pemda.

Sedangkan kali saya masuk ke ruangan Ahok, saya menemui beberapa orang tanpa seragam pemda. Saya fikir itu anak atau keluarga Ahok yang sedang membawakan rantang makan siang Ahok. tapi melihat jam-nya, sepertinya sudah lewat waktu makan siang. jadi, siapa mereka?

Saya pikir Ahok nggak perlu ngeles soal ini. Saya cukup kenal irama kerja pemprov DKI. Boleh di cek staf-staf atau kadin-kadin-nya di gedung gubernuran atau Jatibaru. Sebut nama depan saya saja—nanti akan tahu bagaimana saya belasan tahun berurusan dengan Pemprov DKI.

Bahkan saya sempat menginisiasi adanya rapat koordinasi gabungan antara pemprov dan instansi terkait agar mengefisienkan rapat di DKI agar tidak perlu memanggil satu persatu instansi. Dan konsep ini sudah bertahun-tahun berjalan.

Nah, kembali soal jurus survey yang dipakai tim Ahok. Saya perlu kasih tahu ke Ahok, jurusnya sudah basi. Bahkan menurut saya pribadi, itu bukti Ahok panik. Kalap.

Padahal, hal ini tidak perlu terjadi jika Ahok masih konsisten dengan semangat “Jakarta Baru” yang dicita-citakan Prabowo. Tidak neko-neko hingga kesleo dari jalurnya.

Ya, anggota DPRD memang ada yang “nakal” tapi tak sedikit juga saya menemui yang benar-benar berjibaku demi kebaikan provinsi tempat saya menumpang mencari sesuap nasi yang halal untuk anak istri.

Akhir kata, sedikit saya mengutip kata mutiara dari Lao Tze, tokoh karismatik Taoism dalam kitab “Tao Te Ching” yaitu:

“Malapetaka yang paling besar tidak lain adalah perasaan yang tidak pernah puas. Kekeliruan yang paling besar tidak lain karena ingin mendapatkan sesuatu.”

Selamat pagi dan tetap MERDEKA!
Posting Komentar
Don't Miss