Semangat Majapahit untuk Indonesia 2015

Oleh:   hazmi SRONDOL hazmi SRONDOL   |   19.16
 

Satu hari menjelang pergantian tahun 2014 ke 2015 Masehi, akhirnya datang juga 'pin' Majapahit yang saya pesan dari salah satu rekan di FB yang mengasuh grup dengan nama serupa.

Ya, bagi sebagaian orang--benda kecil dari bahan kuningan itu tiada berarti apa-apa. Namun bagi saya, tidak!

Pin kecil ini sesungguhnya sudah sangat lama sekali saya inginkan dan baru beberapa bulan ini ada rekan yang mau ber-ribet ria untuk membuatnya. Saya rasa, ini bukan sebuah kebetulan saja.

Sekedar informasi, dari beberapa model lambang Kerajaan Wilwatikta atau nama lain dari emperium Majapahit yang lazin disebut dengan "Suryo Mojopahit" ini, pin yang saya dapatkan ini sangat mengena dengan apa yang saya coba rasakan dan bayangkan dari esensi kerajaan Majapahit setelah membaca banyak referensi baik buku atau pun artikel lepas lainnya.

Coba saudara-saudara perhatikan, disana ada 8 sudut pancaran sinarnya. Kalau boleh saya tebak, ini mewakili simbol delapan arah mata angin. Simbol musim di bumi dan alam semesta.

Klop dengan semboyan "Jaya, Jaya, Wijayanti" nya. Simbol kejayaan pertama: atas kelahiran, kejayaan kedua: atas kehidupan sebagai manusia dan wijayanti (kejayaan abadi): kejayaan di alam sesudah kematian.

Maksud saya, dari simbol dan semboyan kerajaannya kita bisa melihat salah satu kunci kebesaran dan kemasyuran kerajaan yang telah membangun emperium atau koloni yang disebut Nusantara ini. Sebuah koloni yang terdiri dari Negara Agung (kerajaan inti) dan Mancanegara (kerajaan gabungan).

Kunci yang saya maksud adalah harmonisasi manusia dengan alam semesta. Sebuah simbol keterkaitan erat antara manusia, alam dan Tuhannya. Sebuah kerajaan yang religius sekaligus (istilah sekarang) nasionalis.

Saya yakin benar dengan hal ini karena bisa kita cek peninggalan-peninggalannya. Dimana ada jejak Majapahit--disana selalu ada dua hal yang selalu berpasangan, prasasti sebagai simbol kekuasaan dunia dan candi/pura sebagai simbol peribadatan dan peng-hamba-an atau ketertaklukan kepada pencipaNya.

Peninggalan lain yang semakin melengkapi pandangan saya ini adalah undang-undang Negaranya yang dalam Negarakertagama disebut "Kutara Manawa Dharmasastra” sebuah kitab yang terdiri dari sekitar 275 pasal aturan yang sangat ketat. Jauh lebih banyak dari UUD 1945 yang terdiri dari 30-an pasal.

Dari kitab tersebut, kita bisa menduga bahwa kehidupan di zaman Majapahit ini sangat teratur dengan sistem penegakan hukum (law enforcement) yang sangat kuat. Tak heran, seorang Majapatih seperti Gajahmada-pun bisa menegur rajanya jika langkah kebijakannya bertabrakan dengan Negarakertagama.

Hingga hal ini membuat saya sempat berfikir, konsep "freedomisme" semaunya tidak berlaku di zaman ini. Zaman Majapahit sepertinya adalah zaman kontra ego individu. Zaman yang sudah saya sebut sebelumnya, zaman harmonisasi manusia dengan alam semesta dan aturan Tuhan.

Walau sepertinya tampak berseberangan dengan gerakan global saat ini, toh dengan konsep kebijaksanaan lokal-nya. Kerajaan Majapahit mampu bertahan hingga 200-an tahun.

Bahkan saat pada puncak kemasyurannya, kerajaan sebesar Mongol dari Tiongkok yang merupakan negara adidaya saat itu-pun gentar dengan Majapahit. Apalagi pernah salah satu utusan Mongol dipotong telinganya saat mereka coba-coba berkuasa dan meminta upeti kepada kerajaan Majapahit.

Ditambah teknik diplomasinya yang menurut saya pribadi sangat unik dan memaksa saya untuk tersenyum dengan gayanya. Bayangkan, untuk 'memaksa' kerajaan mancanegara bergabung dengan emperium ini, pada kelas kerajaan besar ditantang perang dan negara kecil cukup ditakuti lewat kiriman surat.

Untuk kerajaan yang 'nanggung' atau sok berani, ketika berlagak diplomatis menolak bergabung dengan Majapahit--tak lama Majapahit mengirim kapal perangnya yang ukurannya (mungkn) sebesar kapal induk zaman sekarang.

Dalam sebuah kisah, ada kerajaan 'nanggung' ini yang ketika ujung layar kapal perang Majapahit muncul dari balik cakrawala atau batas lautan--segera raja tersebut mengirim utusan untuk langsung bersedia bergabung. Bahasa sekarang--jiper. Hahaha...

Nah kembali ke simbol 8 arah mata angin, kita juga bisa melihat betapa wajar Majapahit begitu sukses sebagai negara agraris sekaligus negara perdagangan.

Industri pertaniannya sangat luar biasa dan sistem moneter-nya juga sudah canggih dengan sudah memakai mata uang baik berupa emas, perak atau tembaga. Sebuah jenis mata uang yang saya yakin bebas inflasi dan dipermainkan kurs-nya seperti era kita dizaman ini. Hehehe...

Sistem perpajakan terhadap pedagang India dan Tiongkok-pun sudah ada dizaman itu. Bukti perlindungan terhadap pedagang dan petani lokal Majapahit sudah terjadi sejak zaman tersebut.

Terakhir, yang membuat saya makin senang dengan pin tersebut ya karena (mungkin) kebetulan tahun 2015 ini angkanya juga sama-sama 8 (delapan) jika dijumlahkan.

Bisa jadi, ada pertanda khusus dengan semangat leluhur Majapahit kepada anak-cucunya yang bernama "Indonesia" dibulan ke-delapan juga.

Bisa jadiiiiii...... hahaha...

Sekian, selamat Tahun Baru Masehi 2015 dan tetap MERDEKA !

======

NB: Ultah saya tahun 2015 di bulan ke-delapan (Agustus) :p

Posting Komentar