Responsive Ad Slot

Latest

Sports

Gossip

Covered

SBY, SMS 9949 & Kedaulatan "Sejengkal" Jalan NKRI

Selasa, 21 Oktober 2014

 

Dulu, sekitar tahun 2005--Stasiun Gambir masih berfungsi sebagai tempat berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang KRL Express. Saya yang berkantor di Jalan Medan Merdeka Barat, sering berjalan kali membelah lingkar Monas yang rimbun dengan pohon-pohon untuk menuju tempat kerja.

Namun kadangkala, saya berjalan menyisir trotoar sisi luar Monas yang tepat berada di depan deretan Kedubes AS, Istana Wakil Presiden hingga Gubernuran DKI.

Nah, saat itu ada hal yang sangat menjengkelkan dan membuat sepet mata. Ya, saat itu di depan Kedubes AS terpasang pembatas beton "Dusaspun" yang memakan setengah jalan Merdeka Selatan. Sudah begitu, tambahan lilitan kawat berduri sepanjang batas dusaspun tambah merusak pemandangan. bahkan jalan dibawah rel layang kereta yang disamping Kedubes juga ditutup. Ojek dan pengendara motor dari arah Gondangdia tak bisa melewatinya.

Ya kalau sedang ada demo sih masih bisa diterima. Tetapi ini sudah lama musim demo-demoan Kedubes AS. Kulihat, sepertinya malah area dalam kawasan "khusus" itu dipakai untuk antrian pengurus izin Visa ke Amerika.

Sebulan lewat saya masih bisa diam dan maklum, namun lama-lama, berbulan-bulan kok tidak dibongkar dan digeser-geser mendekat Kedubes.

Saat kesal memuncak, pengen sekali demo menolak pagar beton tersebut sendirian. Tapi melihat banyaknya petugas jaga berrompi dan berhelm baja dengan senjata senapan serbu yang bisa dilipat popornya--niat ini aku urungkan. Kan repot jika malah diajak main "airsoft gun" dadakan disana.

Setelah berfikir keras cara memprotes, mendadak kubaca berita jika SBY--Presiden RI baru (saat itu) membuka layanan SMS 9949 di situs berita online yang kubaca dari ponsel tipe E398 itu.

Sejenak berdiri ditrotoar seberang Kedubes AS, kukirimkan pesan penolakan pagar berduri dan beton tersebut. Tentu saja tidak kutuliskan jika pagar tersebut yang memakan setengah jalan Medan Merdeka Selatan itu sebagai bentuk merebut tanah air Indonesia walau hanya "sejengkal" saja.

Namun sedikit diplomatis, alasan menganggu pemandangan untuk wisatawan luar negeri yang hendak berjalan-jalan di Monas dan mengesankan Indonesia tidak aman lebih kuutamakan. Lengkap nama asli dan alamat rumah kumasukan dalam pesan.

Dan, setelah pesan terkirim--mengejutkan! Esok harinya, saat berjalan lagi menuju kantor. Pagar beton dan berduri itu sudah di geser tepat dibatas trotor Kedubes AS. Hal yang masih bertahan hingga saat ini di tahun 2014. Itu pun sudah semakin manusiawi, hanya tinggal pembatas beton dusaspun tanpa kawat berduri. Kalau petugas berseragan tempur lengkap, sih. Masih ada. Hahaha...

Nah, gitu dong, itu baru namanya win-win solution. Kedubes AS dan staffnya sudah menjalankan tugas mereka sesuai aturan negaranya dan kita--selaku rakyat Indonesia berhak mendapatkan hal memakai jalan Medan Merdeka Selatan secara utuh dan sempurna. Kecuali jalan dibawah rel kereta layang Gambir yang kembali tertutup untuk parkir tamu Kedubes AS sana.

Jepretan Layar 2015-06-20 pada 02.43.53

Ya, saya mungkin sedikit ke-GR-an. Bisa jadi pergeseran itu memang sudah dalam jadwalnya atau memang, (uhuk), SMS saya sangat berpengaruh. Hehehe...

Entah mana yang benar, berhubung pihak Istana waktu itu tidak konfirmasi lewat SMS balasan--setidaknya saya sudah ikut berjuang menjaga kedaulatan negara yang hanya "sejengkal" saja tersebut lewat bidang yang saya tekuni, telekomunikasi.

Sekian secuil kisah saya bersama SMS 9949 nya pak SBY .

Terucap terimakasihatas pengabdiannya selama 10 tahun dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Selamat beristirahat sejenak untuk tugas lainnya diluar jabatan Kepala Negaranya, pak SBY.

Salam,

Pelapor SMS 9949 tahun 2005
Posting Komentar
Don't Miss