Responsive Ad Slot

Latest

Sports

Gossip

Covered

Pak Prabowo, Saya Tidak Ridho...

Minggu, 19 Oktober 2014

Siang tadi (17/10/2014)--tak lama sebelum waktu adzan sholat dhuhur/Jumat berkumandang, kabar jika pak Prabowo Subianto akan sholat jum'at di masjid Al Latief Lt.5 Pasaraya Blok M dari para sekretaris pribadinya kudapatkan

Lokasi sholat jum'at yang berjarak sekitar 10 km dari kantor tempatku berkerja di depan air mancur Monas, membuatku segera menuju pangkalan ojek langganan di samping kantor.

Alhamdulillah, salah satu dari dua abang ojek favoritku masih asyik duduk dibawah pohon. Seperti kuduga--melihat gelagatku yang tampak tergesa-gesa, ia pun segera sigap berdiri dan menyodorkan helm.

Hanya cukup menyebutkan nama lokasi, ojek pun berjalan dengan kecepatan dan aksi kelak-kelok yang bolehlah diadu dengan voridjer BM Polisi/Dishub. Bedanya--ojek langgananku tidak memakai sirine. Cukup klakson dan bleyer gas keras-keras.

Selama perjalanan, pikiran dan perasaanku masih berkecamuk. Hilir mudik bayangan kenangan saat memanjat pagar kantor untuk berdemo menentang penjualan perusahaan telekomunikasi tempatku berkerja dijaman pemerintahan Megawati. Kebijakan yang membuat perusahaan tempatku berkerja kini sangat amburadul dan berantakan.

Ditambah kejadian pengkhianatan perjanjian Batu Tulis. Bukan sekedar sikap inkosisten, namun yang paling mengesalkan adalah cacian pendukung lawan yang menganggap Prabowo panik dan sentimen negatif lainnya. Padahal saat itu, kutahu benar--beliau sedang memberikan pelajaran tentang etika berpolitik yang sehat. Membatalkan perjanjian itu boleh saja, tapi apa salahnya jika ngomong secara terbuka? Tidak perlu sampai tidak mau menemui saat lebaran Iedul Fitri menjelang kompetisi.

Belum lagi tikaman dari belakang yang dilakukan oleh salah satu 'anak didiknya' saat maju dalam pilgub DKI yang telah dibiayai dan diperjuangan bukan saja oleh Prabowo sendiri, namun seluruh kadernya untuk mewujudkan cita-cita Jakarta Baru yang lebih baik dan manusiawi. Namun lacur, janji Jakarta Baru sudah diingkari. Rencana membangun Jakarta Baru "ditinggal glangang colong playu" hanya untuk sebuah kompetisi jabatan duniawi yang lebih tinggi. Semua tampak jelas tergambar di kepala. Seakan sedang menonton film layar lebar dalam bioskop kelopak mata.

Dari sebagian kisah itu, aku masih tidak percaya, benarkan Prabowo memberikan ucapan selamat kepada Jokowi?

Ya, sejak semalam berita perihal pertemuan beliau dengan Jokowi sudah kubaca desas-desusnya di beberapa media. Bahkan sampai pagi hari aku coba konfirmasikan kehadiran Jokowi di Rumah Kertanegara ini. Duh, ternyata benar. Pertemuan itu ada.

Rasanya berat membendung airmata ini, apalagi sempat kudengar--pak Prabowo sempat melakukan kembali salam penghormatan ala militer kepada Jokowi. Semakin tidak nyaman saja mendengarnya.

Bagiku, apa iya pantas Prabowo melakukan itu? Kepada lawan politik yang berulang kali menyakiti hatinya serta pendukungnya? Walau kemudian beberapa saat aku mulai teringat saat beliau melakukan hal serupa kepada Megawati--ya, mungkin saja, beliau melalukan ini berdasarkan dari realitas keputusan KPU dan MK memutuskan Jokowi terpilih.

Namun, tetap saja aku khawatir, ucapan selamat ini merupakan pengakuan atas kemenangan yang penuh kecurangan yang sistematis. Pembenaran atas cara-cara yang bagiku tidak fair dalam sebuah kompetisi. Dan keberatan ini, harus aku sampaikan langsung kepada beliau.

Alhamdulillah, walau berada diposisi shaf belakang sholat Jum'at di masjid dalam mall yang besar itu. Aku masih diberi kesempatan untuk bersama-sama sholat bersama Prabowo. Walau sempat beberapa kali tak sengaja darah berdesir saat sang khatib berceramah tentang kisah pengorbanan Rasulullah semasa hidupnya.

Ditambah contoh kisah pengorbanan tersebut seperti saat Rasulullah tetap memberi makan dan merawat anjing peliharaan orang Yahudi, walau orang tersebut sering melukai perasaan Rasulullah. Jujur saja--ketika khatib menyebut kata 'anjing', rasanya kok gimanaaaaa, gitu. Beda.

Usai sholat Jumat--saat sedang menunggu hidangan makan siang hadir, aku pun segera menemui pak Prabowo.

Pertama kali tentu basa-basi dengan mengucapkan selamat ulang tahun kepada beliau. Selanjutnya dengan perasaan bergemuruh--dari persiapan kalimat yang ingin kusampaikan, namun tercekat dan hanya mampu berkata lirih kepada beliau:

"Pak, saya nggak ridho..."

Ya, saat itu kubenar-benar tidak ikhlas melihat penyataan selamat pak Prabowo. Tidak ikhlas beliau memberikan salam hormat kepada Jokowi. Dan tidak ikhlas tentang bla-bla-bla lain yang tak sanggup aku urai satu persatu.

Puk!

Aku terkejut saat mendadak beliau menepuk dan memegang pundak kiriku. Dengan tatapan yang mengingatkan tatapa almarhum bapakku, beliau berkata:

"Sabar, saya tahu kamu terluka, kamu kecewa. Tapi ingat, ada satu hal yang lebih utama dan penting dari ini semua, yaitu keselamatan bangsa dan negara...."

Tapi, pak.....

Entahlah, saya tidak mampu berkata-kata lagi. Mungkin jiwa saya yang masih sangat kerdil dibanding beliau. Saya hanya bisa terisak, menahan tangis saat menjauh, membelakangi beliau.

:-(

 
Posting Komentar
Don't Miss