Responsive Ad Slot

Latest

Sports

Gossip

Covered

Duka Prabowo atas Nasib Guru Honorer dan Kedekatannya terhadap Para Pendidik dan Profesor

Sabtu, 24 Mei 2014

Kepadamu para guru, ustadz, dosen dan profesor, artikel ini khusus saya tuliskan...

========

Saya sedikit sedih saat membaca status seorang kawan yang dalam status FB nya mengatakan kurang lebih bahwa "walau dianggap gagal mengatasi permasalahan Jakarta dan "ndeso", namun dia tidak pernah DIPECAT..."

Ya, saya maklum--adalah hak politik seluruh warga negara Indonesia untuk mendukung dan memilih yang disukainya. Akan tetapi ada sebuah kata yang perlu saya garis bawahi yaitu soal kata "dipecat" ini.

Saya juga mengerti, kata negatif memang lebih cepat menyebar dan menjadi stigma buruk yang ditanggung Prabowo belasan tahun. Bukan hanya kawan saya tadi, masih banyak yang lainnya yang termakan statemen ini.

Padahal, kata tersebut tidak cocok untuk kejadian yang menimpa Prabowo. Prabowo memang dicopot jabatannya sebagai Panglima Kostrad, tetapi bukan dipecat sebagai anggota ABRI. Beliau pun hanya dipindahkan ke SESKOAD sebagai komandan di sekolah perwira tinggi Angkatan Darat tersebut. Boleh cek CV beliau yang diuanggah oleh situs resmi KPU.

http://www.kpu.go.id/koleksigambar/daftar_rwyt_hdp_prabowo.pdf

Walau pun soal sidang DKP yang sampai saat ini belum dibuka secara resmi isi dan hasilnya, Prabowo tidak suka berdebat atas pencopotan ini. Beliau anggap ini resiko menjadi seorang Komandan.

Karena beliau tahu dan pernah menyampaikan langsung jika bahaya jika sampai ABRI (TNI) terjadi perpecahan jika beliau ngotot menolak ini. Jikalau perselisihan politikus, paling hanya pada debat mulut saja, namun jika ABRI/TNI yang berselisih--negara lain akan senang melihat lemahnya tentara Indonesia.

Nah, setelah dipindah ke SESKOAD, barulah Prabowo meminta percepatan pensiun dini. Setelah berulang kali meminta, barulah tanggal 20 November 1998, Presiden RI waktu itu Habibie menandatangani permintaan pensiun dini Prabowo.

Informasinya saya kutip dari berita lama tahun 1999 dari Majalah TEMPO sbb:

Sebelum bertolak meninggalkan Jakarta, Prabowo, yang (saat itu) belum menerima surat pensiun, berulang kali menemui Wiranto untuk meminta pensiunnya dipercepat. Ia juga meminta izin pergi ke luar negeri untuk urusan keluarga di Eropa, dan juga untuk berobat. Maksudnya, agar ia bisa pergi sebagai orang sipil yang tidak terikat lagi dengan dinas militer.

Kata sebuah sumber, Prabowo menyatakan siap dimahkamah-militerkan kapan saja. Tapi Wiranto tidak bicara soal mahkamah militer. Panglima ABRI tadi akhirnya memberikan izin untuk Prabowo. Surat pensiun untuknya diteken Presiden B.J. Habibie pada 20 November 1998.

Sumber:

1. http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1999/01/02/0020.html
2. http://www.tempo.co.id/majalah/index-isi.asp?rubrik=nas&nomor=1 (file sudah hilang)

***

Namun, apalah arti blogger sekelas Hazmi Srondol ini untuk melawan stigma yang sudah belasan tahun menimpa ke Prabowo? Tentu akan sangat melelahkan untuk menjelaskan berulang kali. Sampai dower bibir ini juga paling susah diterima, jadi lebih baik saya membahas persoalan yang berhubungan dengan ini saja.

Dan anggap saja jika Prabowo "dipecat", lalu apakah setiap pemecatan adalah sebuah keburukan untuk negara?

Yuk sedikit kita melihat ke negara tetangga yang kini sudah menjadi "Macan Asia"--RRC. Disana ada sebuah nama yang sangat legendaris bernama "Deng Xiaoping".

Deng Xiaoping ini adalah anak seorang saudagar yang sangat kaya raya namun sangat peka dengan penderitaan rakyat. ia nyaris seperti Budha yang sedih melihat penderitaan orang lain.

Walau orangtua Deng mengharapkan ia menjadi pendeta atau pengusaha, ia lebih memilih masuk ke dunia politik bersama sahabatnya Mao Zedong sang pendiri partai komunis disana. Bahkan Deng ini adalah pemimpin tertinggi Partai tersebut setelah Mao.

Walau hubungannya sangat dekat dengan Mao, beliau sangat kritis. Saking kritisnya, Deng Xiaoping DIPECAT dan dicabut seluruh posisinya di partai dan pemerintahan tahun 1976.

Namun, setelah pemecatan itu--Tahun 1980-an Deng menjadi pemimpin negara RRC. Dan di zaman Deng Xiapoing itulah, pilar kekuatan ekonomi RRC dibangun dan kini menjadi nagara denga pertumbuhan ekonomi tertinggi dan terkuat di muka bumi ini.

Konsep awal Deng yang dulu dimusuhi yaitu memisahkan ideologi politik dan ekonomi negara tersebut akhirnya terbukti dan membuahkan hasil yang gemilang. Ideologi tetap komunis namun ekonomi tidak. Ekonomi menjadi terbuka.

Lalu ujungnya, secara lambat laun ideologi komunisme berubah menjadi sosialis yang modern, seperti yang pernah disampaikan Deng Xiaoping pada suatu ketika sebagai berikut:

"...tugas mendasar partai dalam periode bersejarah yang baru adalah membangun Cina menjadi sebuah negara sosialis yang modern dan kuat pada akhir abad ke-20...".

Disini kita bisa lihat, sebuah visi yang dibangun lama dan menantang arus yang mengakibatkan pemecatan dirinya tak membuatnya menjadi lemah. Makin semangat menjalankan visi "modernisasi dan reformasi" ekonomi RRC.

Visi dan misi yang kalau boleh saya rangkum menjadi beberapa hal sbb:

1. Kebijakan Empat Modernisasi : Militer, Iptek, Pertanian & Industri
2.Politik Pintu Terbuka (kaifang Zhenze)
3. Reformasi pada bidang: Politik, Ekonomi, Budaya dan hukum.

Reformasi ini juga disebut Deng Xiaoping sebagai 'revolusi kedua'. Hal yang mengingatkan saya akan istilah perjuangan Prabowo dalam Pileg dan Pilpres 2014 ini sebagai "perang kemerdekaan jilid II - perang ekonomi".

Menariknya lagi, ada satu kunci reforamasi Deng yang sangat mirip dengan Kaisar Jepang serta Prabowo Subianto sendiri yaitu perihal pentingnya peran guru dalam reformasi ini.

Deng sangat prihatin dengan rendahnya gaji guru saat itu, yang kurang dari $20 perbulan. Dan ketika Deng berkuasa, guru-guru dinaikan kesejahteraannya secara drastis. Mirip sekali dengan pertanyaan Kaisar Jepang saat negaranya hancur lebur terkena bom atom Amerika. Saat itu, pertanyaan pertama Kaisar Jepang adalah:

"Tinggal berapa guru-guru kita?"

Ratusan guru honorer yang tergabung dalam Forum Honorer Indonesia (FHI), dan Persatuan Honorer Sekolah Negeri Indonesia berunjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (3/5). Unjuk rasa tersebut di lakukan karena mereka menuntut perbaikan kesejahteraan bagi guru honorer serta dijadikan PNS 100 persen tanpa tes, dan dihapuskan sistem honorer.MI/ANGGA YUNIAR

Sungguh saya sangat tertegun saat suatu hari Prabowo berucap tentang keheranannya tentang masih adanya guru (honorer) di republik ini. Guru yang gajinya konon masih ada yang 50 ribu atau 100 ribu perbulan padahal anggaran pendidikan sudah sangat tinggi.

Hal yang harus di revolusi kesejahteraannya pertama dalam membangun bangsa. Hal yang juga sangat memalukan jika dibanding dengan negara tetangga--Thailand. Dimana di negara kerajaan tersebut, Guru dan Polisi adalah pegawai negeri dengan income tertinggi di negara tersebut. tak heran, pasangan pasutri guru-polisi, kedudukan sosial ekonominya sangat tinggi disana.

Kedekatan Prabowo dengan para pendidik ini pun bukan omong kosong. Saya tahu betul bagaimana dekatnya beliau dengan para guru besar dan profesor dalam meramu visi-misi-aksinya yang terangkum dalam buku "Membangun Kembali Indonesia Raya" yang diringkas menjadi 6 Program Aksi dan Agenda/Program nya sebagai Capres 2014.

Jangan heran jika kita pernah mendengar statement dari Prabowo yang kurang lebih begini "Lebih baik saya di dukung para guru dan profesor daripada didukung 100 panser dan pesawat tempur".

Dan kini, tak heran jika akhirnya saya paham kenapa Prabowo juga pernah bilang, "Kalau rakyat memberikan mandat kepada saya sebagai Presiden RI, saya ingin seperti Deng Xiaopingnya RRC".

Deng Xiaoping yang dulu pernah di fitnah dan dipecat berulang kali.

Sekian, selamat sore dan tetap MERDEKA!
Posting Komentar
Don't Miss