Profesor Suhardi dan Samudra Ma'rifat di Partai Gerindra

Oleh:   hazmi SRONDOL hazmi SRONDOL   |   03.10
Sering kali saya bertanya ke tukang ojek atau sopir taxi begini : "Tahu Gerindra?". Jawabannya hampir semuanya identik, yaitu : "Tahu! Prabowo!".

Ok, benar.

Tapi jika ditanya pertanyaan kedua, barulah muncul aneka ragam jawaban. Soal tersebut adalah : "Siapa Ketua Umum Partai Gerindra?" Jawabannya: Prabowo, Fadli Zon dan kebanyakan sih tidak tahu. Hahaha...

Ya, kecuali kader internal Gerindra sendiri--memang tak banyak yang mengenal nama Ketum partai ini.

Wajar. Lha jangankan njenengan--saya pun sempat kebingungan saat pertama kali tahu bahwa nama "Prof. Suhardi" lah yang tertulis sebagai ketua umum partai ini. Bukan Prabowo Subianto. Prabowo hanya ketua dewan pembina dan calon presiden yang diusung partai ini.

Lha gimana tidak kaget, setiap berita di TV atau koran--nama Prabowo dan Fadli Zon lah yang paling sering muncul dan mudah diingat namanya. Sampai-sampai ada seorang kawan mengatakan jika saking tidak terlihatnya Prof. Suhardi ini dengan mengistilahkan "Pak Suhardi tidak 'murup' (menyala), beda dengan Prabowo yang seperti cahaya di tengah samudera."

Hmm... Ada benarnya--tapi saya tidak sependapat jika Prof. Suhardi ini diremehkan begitu saja.

Soalnya, setelah saya telusuri biografi dan beberapa pertemuan langsung--betapa saya sangat terkejut. Sosok yang satu ini luar biasa.

Kekaguman pertama tentu soal masa kecilnya yang sangat sederhana--jika sungkan menyebut miskin. Jarak sekolahnya di Klaten yang sangat jauh dan mesti ditempuh dengan jalan kaki.

Saking kekurangannya, saat kecil beliau ingin melihat kota Klaten dan niat awalnya gagal karena tidak sanggup di tempuh dengan jalan kaki. Barulah beberapa waktu kemudian beliau bisa melihat kota Klaten setelah mendapat pinjaman sepeda bersama sahabatnya.

kekaguman lainnya adalah pada bidang pendidikan. Walau kini sudah menjadi Profesor Kehutanan dan Pangan dan menjadi salah satu guru besar di kampus UGM Yogya, pendidikan kehutanannya dimulai dari STM. Sebuah 'kasta' sekolah yang dianggap kelas dua dibanding SMU. Bukan hanya saat itu, sekarang pun sepertinya masih begitu.

Hal inilah yang membuatku bersemangat karena jujur saja, aku juga lulusan STM teknik. Sekolah yang konon identik membawa penggaris besi kemana-mana untk persiapan kalau ada tawuran. Padahal nggak begitu, saya nggak pernah bawa penggaris besi, kalau obeng gede yang ujungnya ditajemin grinda sih pasti. wakakaka...

Nah, baru setelah lulus dan sudah berkerja, baru kuliah kelas karyawan dan dapat gelar sarjana. Itu pun kagak kepake, lebih terkenal nama penanya sebagai blogger atau penulis daripada nama asli beserta gelarnya. Semoga saja kelak bisa menyusul jadi profesor seperti pak Suhardi, Amiiin.

Kekaguman terus bertambah setelah tahu gaya hidupnya sehari-hari. Pak Profesor ini ternyata tidak pernah lepas puasa senin-kamis. Kuat qiyamul lail (sholat malam) nya. Sudah begitu, beliau sangat terkenal dengan sumpah gandum nya. Sebuah sumpah untuk tidak memakan makanan dari produk luar--khususnya gandum. Lha pantas beliau pernah nanya "pernah liat pohon gandum di republik ini?".

Ya, saya melongo, sekian banyak roti beredar di bumi pertiwi, saya memang belum pernah melihat pohon gandum. Hal ini lah yang membuat saya terkejut setelah tahu prof Suhardi ini lebih memilih makan 'telo' atau singkong daripada roti. Ini pun sudah berlangsung 25 tahun lebih. Jadi hilang kagetnya saat acara di DPP kok menu sajiannya bukan roti, tapi aneka pisang, singkong dan kacang rebus jadi menu utamanya. Ada profesor "telo" sih. (note: telo ini serius berarti singkong yaaa)

Makin takjub, saya juga baru tahu jika selama ngajar di Yogya beliau ngontel sepeda. Profesor gitu loh... Bahkan saya dapat info jika pak ketum ini rajin olahraga lari pagi usai sholat subuh. Makanya saya jadi malu berat saat pernah melihat pak Suhardi jalan kaki memakai sandal jepit dari DPP Gerindra ke masjid untuk sholat Jumat sedangkan saya melihatnya saat hendak turun dari mobil yang baru berhenti parkir. duh...

Dan terakhir, satu keistimewaan pak Suhardi yang (maaf) hanya diketahui oleh sebagian orang. Jika kalau kita jujur--Profesor yang satu ini sudah mencapai level 'makrifat' untuk sisi relijiusnya. Sebuah level tertinggi dari sudut pandang hati pelaku ilmu tasawuf.

Bukan sekedar beliau cuek bebek saat pemilu tahun 2009 tidak lolos jadi anggota DPR, namun lebih dari itu. Kita coba cek cara beliau bicara dan menjawab pertanyaan dari presenter TV atau dengan kita sendiri lah. Betapa beliau seakan-akan membuat kita terasa adem, sejuk, tenang, tentram dan seakan masuk bersamannya secara private. Ramah dan sopan ala Jawa tanpa dibuat-buat.

Lalu wajarlah jika kita akhirnya akan melihat Prabowo akan diam manggut-manggut seakan akan berkata: "ya benar, ya benar, ya benar" saat Profesor ini sedang berbicara.

Jadi, memang betul Prabowo adalah obor di tengah laut. Tapi, pak Suhardilah laut itu sebenarnya. Laut samudra yang bisa menampung semuanya baik Prabowo yang full cas energi, Fadli Zon yang cerdas, Hazmi Srondol yang ganteng dan usil (abaikan yg ini) atau kader serta simpatisannya yang bersemangat. Tenggelam dalam kepribadian dan auranya.

Kurang lebih begitu, selamat pagi, selamat menunaikan sholat subuh dan jangan lupa cari sepatu kets nya buat nyoba rutin lari pagi.

MERDEKA

Posting Komentar