Responsive Ad Slot

Latest

Sports

Gossip

Covered

Pil "Ndablek" untuk Pendukung Prabowo

Rabu, 30 April 2014

Suka tidak suka, dalam Pilpes 2014 ini hanya akan terlihat “perang” dua kubu saja. Prabowo dan Jokowi.

Bukan bermaksud merendahkan capres lain, tapi memang begitulah faktanya. Dalam Pilpres ini pun, terlihat bahwa terjadi perang marketing dengan basis penggunaan “bahasa” Jawa sebagai inti komunikasinya. Setipe dengan pileg 2014 sebelumnya

Koalisi PDI-P dengan senjata pamungkas bernama Paklik Jokowi-- yang mempunyai brand ndeso dan blusukan digunakan sebagai pilar jurus “bed cover” nya budhe Megawati. Mungkin ada sesuatu yang ditutupi?

Dalam strateginya, bahasa ala Jawa “merendah meninggikan mutu” selalu dipakainya dalam setiap waktu. Efek memelas coba ditimbulkannya. Ndak papa, namanya juga strategi. Sah-sah saja.

Cuman menurut saya, yang paling bahaya buat pendukung adalah positioning kubu Jokowi yang mencoba menjadi ‘wasit’ dalam Pileg dan Pilpres 2014 ini. Coba perhatikan gaya bahasa mereka:

“Saya ndak mau nangepi, nanti-panas-panasan”

“Jokowi makin diserang, rakyat makin cinta”

“Kan kemarin (2009) nggak menang? Nggak berlaku dong perjanjiannya”

“Jangan sindir-sindir, adu program saja”

dan bla-bla-bla yang serupa.

Gaya bahasa “bersayap” atau bermakna ganda ini jelas mengarahkan Prabowo sebagai capres yang emosional anti woles, penyerang Jokowi, nggak move on dan satu-satunya yang punya program.

Padahal bersemangat berbeda dengan esmosi, mengabarkan bukan berarti menyerang, mengingatkan integritas bukan berarti patah hati dan adu program? uhuk-uhuk (keselek)—programnya blom jadi. Pas jadi pun--kok kayak dejavu ama sebagian kecil program Prabowo. hihihih...

Rasanya, ini akan sangat bodoh jika kubu Prabowo menuruti aturan main yang dibuat mereka. Aturan yang jelas berbeda bahasa dengan PRABOWO yang selama ini memakai “bahasa” Jawa BLAK BLAKA-SUTA. Blak-blak-an tanpa tedeng aling-aling apa adanya. Mirip bahasa orang Bugis, Batak, Papua, Aceh, Dayak, Surabaya dan luar Jawa Tengah lainnya.

Cuman bedanya, ketegasannya mesti diperhalus dengan imbuhan kata ‘maaf’ di depannya. Contoh:

“(maaf) Tidak mau!”

“(nuwun sewu) ora sudi”

“(sepurane) sak karepmu”

dan lain sebagainya.

Dan dalam sejarahnya, BLAKA SUTA selalu sukses mengobrak-abrik bahasa ‘bersayap’ yang gaje ala cewek lagi menstruasi ini. Boleh cek gaya Gajahmada, Sultan Agung, Pangeran Diponegoro, Soekarno hingga Sinuhun Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Identik!

1398730525348944874

Hadist tentang Kuda


Jadi, bagi rekan-rekan pejuang politik pro Prabowo—tetaplah BLAKA SUTA. Tetap dan teruslah jujur blak-blak-an apa adanya.

Mau ngingetin soal penjualan aset negara zaman pemerintahan Megawati, monggo.

Mau terus tagih janji Perjanjian Batu Tulis, monggo.

Mau ngasih tiket Jokowi pulang kampung ke Solo, monggo

Mau sebarluaskan 6 Program Aksi Gerindra, monggo

Mau selfie ama Mas Garuda, Monggo

Mau bahas kode keris dipinggang Prabowo, monggo

Mau pamerin drumband Gerindra dimana yg lain gak punya, monggo

Mau jelasin hadist Nabi soal keutamaan belajar berkuda, memanah dan berenang, monggo

Mau suruh aktivis abal-abal cari bocoran isi DKP (dewan kehormatan perwira) yang ada catatan wawancara Prabowo Subianto soal 98 pakai wikileak atau tuyul sekalian, monggo

Mau ....(tulisen dewe), monggo

Namun, ada satu syarat agar ‘bahasa’ BLAKA-SUTA ini sukses dan paripurna, yaitu minum pil rahasia yang bernama : PIL NDABLEK.

Atas ijin Allah, menengak pil ajaib ini—Ibu Pertiwi yang menjelang sekarat bisa diselamatkan.

Kalau bukan kita, siapa lagi?

Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Salam,

Hazmi Srondol
Posting Komentar
Don't Miss