Hasil Investigasi Tim Ad Hoc KOMNAS HAM 2006 : Prabowo & Kopassus Tidak Bersalah

Oleh:   hazmi SRONDOL hazmi SRONDOL   |   03.04
Ada pernyataan dan saran dari beberapa kawan untuk untuk mengklarifikasi soal kejadian yang menimpa aktivis 1998.

Saya paham dan mengerti, permintaan ini selalu selalu muncul apabila rekan-rekan sedang berdiskusi atau berdebat soal standar dasar pemilihan pemimpin. Dari filtering ala calon pengantin seperti "bibit, bebet, bobot" atau konsepsi, ideologi dan program calon Presiden.

Memang akan terjadi ketimpangan besar jika beberapa calon Presiden dibandingkan sosok yang sedang kita usung untuk memimpin bangsa dan negara sebesar Indonesia ini--Prabowo!

Prabowo dan segala syaratnya sangat detail dan terbuka untuk diketahui. Sedangkan calon lain masih abu-abu bahkan cenderung gelap gulita. Padahal bagi yang pernah mempelajari Taoism, sangat jelas bahwa keterbukaan dan kejelasan calon 'raja' itu hal yang sangat penting dan mendesak.

Dan kebanyakan, ketika diadu dan terdesak--pasti ujung-ujungnya dilarikan ke perihal penangkapan aktivis 1998. Bahkan bisa di ek kampanye baru tentang nasib penyair "Widji Tukul" yang keberadaannya entah dimana. Cerita ini pun dikemas, didaur ulang dan diarransemen dengan berbagai macam jenis. Yang tetap saja semua menjadi alat fitnah untuk memojokkan Prabowo.

Padahal, kasus penangkapan aktifis 1998 ini sudah sangat loud and clear--terang dan jelas dari hasil investigasi Tim Ad Hoc KOMNAS HAM yang hasilnya sudah keluar tahun 2006 silam.

Prabowo dan Kopassus tidak bersalah dalam "OPERASI MANTAB JAYA"--sebuah operasi pengamanan aktivis yang disebut sebagai "SETAN GUNDUL" saat menjelang sidang Umum MPR 1998.

Prabowo, Kopassus dan semua Panglima dan petinggi ABRI hanya menjalankan perintah/instruksi dari Presiden Soeharto karena menurut daftar nama yang dikeluarkan Badan Intelejen ABRI (BIA)--para "SETAN GUNDUL" ini perlu diamankan karena memenuhi unsur joint criminal enterprise.

Hasil operasinya pun jelas,

9 "SETAN GUNDUL" berhasil diamankan sementara oleh KOPASSUS dan dilepaskan kembali secara bertahap. 9 nama tersebut adalah : Haryanto Taslam, Pius Lustrilanang, Desmon J Mahesa, Andi Arief, Nezar Patria, Mugiyanto, Aan Rusdianto, Faisol Reza dan Rahardjo Waluyo Jati. Kesemuanya sekarang sehat wal'afiat bahkan beberapa diantaranya menjadi bagian dari Partai Gerindra pimpinan Prabowo Subianto.

untuk 9 "SETAN GUNDUL" lainnya juga diamankan secara PERMANEN oleh ABRI non-KOPASSUS. Penyair "Wiji Thukul" pun ternyata masuk dalam daftar operasi oleh Non Kopassus ini selain : Yani Afri, Sonny, Herman Hendrawan, Deddy Hamdun, Noval Alkatiri, Ismail, Suyat, Petrus Bima Anugrah.

Hasil ini pun sebenarnya sudah pernah dimuat dalam ediki khusus majalah Tempo tentang Tragedi Mei 1998-2013 dengan judul besar "Teka-Teki Wiji Thukul". Dalam majalah nomer ISSN: 0126-4272 di halaman 78-79 juga secara gambang menjelaskan duduk perkara perihal tidak ada sangkut pautnya Prabowo dan Kopassus dalam operasi penangkapan Wiji Thukul.

Link majalah :  http://www.joomag.com/magazine/tempo-edisi-khusus-wiji-thukul-13-19-mei-2013/0025370001393685698?page=42

Namun entah kenapa berita ini tidak tersebar luas. Saya menduga ada beberapa faktor, antara lain:

1. Jumlah edisi cetak khusus "Wiji Thukul" tersebut tidak terlalu banyak beredar. 2. Malas membaca majalah Tempo edisi online-nya atau sengaja tidak mengindahkannya. 3. Memang adanya niat mengkomoditaskan hal ini dalam dunia politik Indonesia untuk memojokkan Prabowo--hal yang sering disampaikan oleh Alh. Munir semasa masih hidup dan belum meninggal tanggal 7 September 2004. 4. Tidak adanya lembar hasil investigasi Komnas HAM tahun 2006 tersebut yang beredar di masyarakat.

Jadi, disini--saya tidak akan membahas gaktor 1 sd 3 tersebut. Saya hanya membantu memberikan file dokumen untuk melengkapi faktor no. 4 tersebut agar apa yang disampaikan oleh pak Prabowo Subianto perihal "becik ketitik, ala ketara" yang berarti "yang baik akan tertandai dan yang jelek akan terlihat" semakin terbukti.

Sebuah ungkapan bahasa Jawa yang kalau boleh saya menambahkan menjadi "Becik ketitik, ala ketara. Sopo sing salah, seleh". Yang arti terakhirnya adalah "Siapa yang salah akan terkapar dengan sendirinya"

Selamat malam dan tetap MERDEKA...!

Posting Komentar