Tanggapan tentang Urutan Al Qur’an

Oleh:   hazmi SRONDOL hazmi SRONDOL   |   03.47
Beberapa minggu yang lalu, saya dikagetkan dengan banyaknya pesan inbox yang merequest agar saya membuat status tanggapan atas artikel hipotesa dari Richard Bell (Bell’s Introduction to The Qur’an).

Artikel yang ternyata isinya malah berisi anggapan bahwa Al Quran tidak sempurna karena urutannya kacau balau.

Sebagai pemeluk agama Islam yang masih pemula pemahamannya, sebenarnya saya sungkan menanggapi bahasan yang sangat personal—kayakinan beragama. Namun, setelah istri juga menanyakan pertanyaan serupa dan setelah mencoba menjelaskan menurut sudut pandangku, e, malah juga ikut didesak untuk meuliskannya dalam status di facebook atau blog.

Baiklah, kalau sudah istri yang mendesak, susah sekali menolaknya. Dan kurang lebih berikut pendapat saya atas artikel Richard Bell tersebut:

Pada intinya, secara mutlak saya menolak pandangan Richard Bell. Konsep urutan yang menjadi tolak ukur kesempurnaan Al Quran sangatlah terlalu “manusiawi”. Hanya berdasar pada keterbatasan otak manusia yang hanya beberapa kilo beratnya saja. Sedangkan Al Quran sendiri adalah miniatur alam semesta yang dapat digenggam. Baik berupa “buku” atau software aplikasi di ponsel.

Tata urutan yang ada sekarang, hanyalah alat bantu membaca dan mempelajarinya. Dimulai dari surah Al Fatihah dan diakhiri oleh surah 114 An Naas. Itu pun urutan dibuat oleh manusia. Namun, jika kembali ke esensi Al Quran adalah miniatur alam semesta, maka sejatinya yang awal dan yang akhir, hanyalah Allah–Tuhan Semesta Alam ini yang tahu.

Seperti halnya kita memandang pagi atau malam, manakah yang sebenarnya lebih dahulu? Tentu bagi bayi yang lahir di pagi hari, awalan adalah di saat itu. Demikian pula bagi bayi yang lahir di tengah malam buta atau menjelang manghrib.

Atau juga pertanyaan, manakah yang duluan? Ayam atau telur. Bahkan pertanyaan klasik para pecinta, kapan cinta sejati itu muncul? Saat menikahkah? Sesudah menikahkah? Atau saat sedang pedekate? Atau jangan-jangan cinta yang dimaksudnya sudah terikat sejak masih berupa ruh, belum bertemunya ovum dan sperma.

Tentu saja, filosofi ala urutan kisah novel atau kisah cinta Cinderella tak cukup untuk menjawabnya. Kalau hanya berdasarkan tata urutan ala manusia seperti itu, betapa tertipunya kita. Apalagi yang sudah terjebak kata “bahagia selama-lamanya” setelah pangeran menikahi Cinderella.

Padahal, setelah pernikahan, urusan dan perjuangan jauh lebih panjang daripada saat masih lajang. Belum lagi, kehidupan manusia dan kisahnya adalah bagian keciiiiil sekali dalam alam semesta ini. Dimana alam semesta ini adalah satu kesatuan.

Begitu pula Al Qur’an. Kita bisa saja membacanya urut atau boleh membukanya dari halaman apa pun. Bahkan di tengah-tengah. Karena hidayah dan pemahaman, malah kebanyakan muncul dari ayat yang secara tidak sengaja kita menemukannya.

Ayat yang mungkin anda sendiri tidak tahu urutan berapa jika dimulai dari Al Fatihah. Titik awal yang berbeda-beda dari setiap manusia inilah yang malah membuktikan kesempurnaan Al Quran itu sendiri.Selanjutnya, monggo dibaca ayat-ayat lain yang kalau mau jujur, tak ada satu pun yang saling bertolak belakang.

Jadi jangan heran jika sering mendengar kalimat ini: “sampaikan, walau pun hanya satu ayat”. Karena yang satu itu pun, sudah awalan sekaligus akhiran bagi mereka yang hatinya tergetar.

Namun, jika ingin mendapat gelar “khatam”, sebuah gelar yang lagi-lagi dari manusia untuk manusia, tata urutan ala manusialah yang akhirnya juga harus kita ikuti. Dan saya, memilih untuk tidak terlalu memikirkan hal-hal manusiawi seperti ini. Kembali, urusan agama adalah sisi paling private dan rahasia dari tiap individu manusia.

Sekian dari saya, bagi yang sependapat boleh di “share” dan memberi tambahan masukan, yang tidak sependapat—tolong bantu saya agar tidak buang-buang waktu untuk berdebat kusir.

Monggo dibuat status atau tulisan sendiri di akun masing-masing. Terima kasih.

Wallaualam bi shawab,

————

follow: @HazmiSrondol, Tokoh Fesbuk Nasional

Posting Komentar