Misteri 1% Setoran Freeport dan Rahasia Tambang Emas Prabowo

Oleh:   hazmi SRONDOL hazmi SRONDOL   |   03.20
“Coba cek ulang datanya. Jangan sampai mencampur adukan asumsi dan faktanya, bung” kata Prabowo Subianto saat kucoba menanyakan soal statement beliau terkait kesan “membiarkan” Freeport Indonesia terus melakukan operasi pertambangannya di Papua. Padahal konon isyu setoran Freport ke pemerintah Republik Indonesia hanya 1%.

Aku tertegun dan kaget . Jika mengutip istilah Sultan Batugana—ini statement ngeri-ngeri sedap. Seakan menabrak pemberitaan dan beragam tulisan mengenai Freeport di Indonesia ini. Ini jelas tidak populis dan berpotensi mengundang pandangan negatif kepada Prabowo. Dalam bahasa marketing dan politik, ini jelas bukan trik “pencitraan” yang bagus.

Namun, bukan Prabowo Subianto namanya jika tidak ndablek terhadap kebenaran dan pandangan yang diyakininya. Bahkan pada suatu konferensi pers peluncuran 6 Program Aksinya, jawaban pertanyaan dari wartawan terkait pandangan terhadap Freeport juga tidak jauh berbeda.

"Freeport telah bersama Indonesia selama 30 tahun. Satu persen dana yang dikucurkan itu hanya untuk dana CSR saja belum untuk yang lain. Sumbangan langsung kepada rakyat setempat, bayar royalty pajak, mereka berinvestasi besar untuk Indonesia” jelasnya.

Kemudian Prabowo pun menutup jawaban dengan statemen seperti ini:

"Kita seharusnya berpikir rasional untuk kepentingan nasional Indonesia bahwa kita meneruskan Freeport untuk kepentingan  suku-suku disekitar lingkunganya!"

Nah, terdapat dua clue dari Prabowo yang bisa dijadikan petunjuk. Pertama adalah data (berikir rasional) dan kedua perihal kepentingan nasional dan suku-suku Papua disekitarnya.

Untunglah, kita sekarang hidup di era internet yang mudah mencari segala informasi. Pencarian pertama adalah lokasi pertambangan Erstberg dan Grasberg melalui situs Wikimapia dan Google Earth. Disana terlihat dengan jelas gambaran dari satelitnya.

Tambang pertama—Erstberg yang berdiameter sekitar 500 meter persegi tampak sudah tidak diolah lagi. Terlihat bayangan air hijau lumut tanda lokasi tersebut sudah menjadi waduk buatan. Sedangkan lokasi tambang Grasberg berdiamater kurang lebih 2,3 kilometer. Untuk kedalamannya tidak bisa saya prediksi. Hanya “menurut” berita yang sudah beredar, sekitar 800 meter. Untuk soal kedalaman ini perlu adanya survey lapangan langsung.

Ya, memang perjalanan panjang Freeport untuk menjadi operator tambang di Papua mengundang banyak pertanyaan dan rasa ingin tahu bagaimana Freeport ini, dalam istilah Prabowo disebut “operator tambang”.

Kisahnya dimulai dari awal tahun 1936 ketika dua petualang Colijn dan Jean Jacquest Dozy melakukan ekspedisi untuk membuktikan adanya kawasan gletser (salju abadi) di puncak gunung Jayawijaya yang pertama kali dicatat oleh Capt. Johan Carsten tahun 1623. Padahal seharusnya hal itu mustahil karena berada pada daerah tropis. Disana tanpa sengaja mereka malah menemukan lokasi tambang tembaga yang terhampar di permukaan tanah (wow!) dikawasan Erstberg.

Hal yang akhirnya menarik perusahaan tambang Freeport Sulphur, walau pun sempat Dozy dianggap gila atas laporannya. Namun, setelah Forbes Wilson melakukan penelitian, ia pun yang malah terbalik menjadi gila karena bukan hanya tembaga, terdapat kandungan bijih perak dan emas dalam gunung tersebut yang menurutnya—harus diganti nama menjadi Gold Mountain.

Usaha penambangan ini pun seret karena hubungan Indonesia semakin memanas tehadap Belanda. Makin susah ketika Soemitro Djoyohadikusumo—ayahda Prabowo berhasil mendesak JF Kennedy untuk membatalkan bantuan Marshall Plan kepada Belanda. Belanda panik dan bertekut lutut menyerahkan Papua Barat kepada Indonesia.

Usaha penambangan di Erstberg pun baru bisa dilaksanakan sekitar tahun 1967 sd 1988 di era Orde Baru. Daerah yang sebelumnya hutan belantara itu pun disulap menjadi kota, lengkap dengan beragam fasilitas serta bandar udara yang kini menjadi kota Timika.

Sedangkan lokasi tambang Grasberg yang lebih besar, yang diameter lubangnya saja lebih dari empat kalilipat dari Ertsbers baru dibuka tahun1988. Sekitar 25 tahun yang lalu.

Nah terkait penambangan tersebut serta statement setoran 1% Freeport ke Indonesia yang muncul pertama kali oleh statement Amien Rais di era Orde baru dan masih menjadi pandangannya hingga saat ini, khususnya pada akhir tahun 2013 tepatnya 28 Desember 2013 pun membuatku kembali mengorek datanya.

Data utama yang menjadi rujukan adalah laporan Annual Report perusahaan Freeport-McMoRan Cooper & Gold Inc. di (http://www.fcx.com/ir/ar.htm) Disana tersedia laporan dari tahun 2003 s/d 2012. Data yang esensinya tidak jauh berbeda kutemukan dalam situs wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Freeport_Indonesia).

anual report

Dari komparasi tersebut, dari laporan tahun 2004 saja—muncul kekagetan yang luar biasa. Ternyata Freeport memberikan setoran benefit ke pemerintah Indonesia berupa dari pajak, royalty, dividen, biaya, dan dukungan langsung lainnya sejumlah $ 260 juta kepada. Belum termasuk keuntunganSama persis dengan yang tertulis di Wikipedia.

Padahal, dengan angka tersebut, berarti setoran Freeport tersebut dibandingkan produksi emas yang dikeruknya sekitar 37%. Jauh lebih besar dari asumsi 1% yang sering kita baca atau dengar.

Nah, lebih mengejutkan lagi jika dilihat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Waktu aku coba utak-atik data produksi emas yang ditambang freeport, lalu di kalikan dengan harga emas dunia rata-ra per ounce, dan kemudian harga emas tersebut di persentasekan terhadapsetoran benefit ke pemerintah Indonesia adalah sekitar 105%. Artinya, emas yang dikeruk semua di kembalikan ke pemerintah.

presentase

Bahkan lebih mengagetkan, tahun 2006 dan 2007—pajak yang diminta pemerintah Indonesia lebih besar dari jumlah emas yang berhasil di tambang oleh Freeport. Bisa kita artikan, biaya operasional dan keuntungan Freeport kali ini semua berdasar dari keuntungan tambang tembaganya saja. Ibaratnya, Freeport kini pun sudah menjadi “kuli tambang” emas untuk rakyat Indonesia. Hal yang wajar dan seharusnya terjadi. Hehehe…

Jadi, melihat data tersebut diatas--jika masih terlaporkan hanya 1% saja yang masuk dari Freeport ke Pemerintah. Berarti yang berapa puluh % lainnya menguap entah kemana dan oleh siapa.

Nah,  inilah yang akhirnya aku paham kenapa Prabowo begitu ngamuk-ngamuk terhadap pencurian dan kebocoran anggaran negara yang mencapai Rp. 1.100 trilyun pada tahun 2013. Kebocoran yang menjadi momok baru negara Indonesia. Padahal dulu sempat aku kebingungan, darimana datangnya uang sebesar itu ? Ternyata salah satunya dari ini selain selisih ekspor dan impor nasional.

Namun, tetap saja aku khawatir—bagaimana dengan sisa emas yang masih ada di Grasberg, Papua? Sedangkan dari datanya—hasilnya selalu menurun tiap tahun.

Sambil tersenyum, Prabowo membisikan rahasia besar yang membuatku merinding bergidik. Rahasia yang makin diketahuinya semenjak juga menjadi penambang minyak di Kazaktan dan Yordania. Rahasia yang sayangnya dibocorkannya sendiri di akun twitternya. Prabowo bilang :

“Bung @alfa_violist, saya beri tahu satu rahasia: Kita masih bisa bangun minimal 10 tambang sebesar Freeport lagi di Papua. Kita begitu kaya.”

tweet prabowo

Waduh, pak. Tolong jangan dilanjutkan lagi ke 10 titik-titik lokasi rahasia di Papua tersebut. Jangan pula buka rahasia lokasi tambang emas lain di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

Konsentrasi saja dulu ke swasembada pangan dan energi. Kalau lah nanti rakyat sudah kenyang dan sejahtera dan kemudian mental maling, korupsi dan kompradornya sudah hilang—barulah kita buka lagi untuk membangun kembali negara kita menjadi  Indonesia Raya.

Apalagi nih, pak. Ada ramalan kuno Joyoboyo yang membuat saya bergidik. Ada suatu masa “wong Jowo tinggal separo, cino londo tinggal sejodo”—saat goro-goro besar penuh pembunuhan berdarah di Nusantara. Ya, saat dimana emas dari perut bumi di Nusantara ini dibuka.

Ngeri.

[Bekasi, 19 Januari 2014]

 

Posting Komentar