Filosofi dari Dapur

Oleh:   hazmi SRONDOL hazmi SRONDOL   |   03.38
Gegara sakit perut dan mesti beristrahat di rumah, malah dapat info baru dari bini bahwa masakan daging di Minang itu ada 3 tingkatan, yaitu Gulai, Kalio dan Rendang.

Nah, berhubung Thole suka kalap makan kalio--tak seperti gulai dan rendang yang gampang diteukan di warung, mau tidak mau-- ibunya mesti berjibaku di dapur.

Dari obralan dapur--jadi mikir, memang sepantasnya rendang kita klaim balik jd milik Indonesia. Ada tingkatan filosofinya disana. Harus tahu bedanya. Belum lagi barusan ada penjelasan tambahan, ada lagi sodara rendang--namanya malbi. Mirip rendang tapi masih cair dan isinya jeroan sapi.

Hanya pembeda utamanya, malbi hanya khusus dihidangkan pas lebaran dan populer di Palembang dan sekitarnya. Gak seperti rendang yg bisa kapan saja. Cuman aku belum paham filosofinya apa.

Sumpah, urusan masak gini--mesti nyembah ama bini. Chef yang ada di tv mah lewat. mereka berbasis percampuran bumbu dan takaran panas apinya saja. Teknis.

Sedangkan bini, filosofis. Jadi paham kenapa Indonesia disebut bangsa yang "berbudaya". Apa pun yang dilakukan/dibuat oleh warisan nenek moyang semua ada filosofi dasarnya. Gak asal-asalan. Karena teknis bisa ditiru. Bahkan diperbanyak melalui mesin. Filosofi tidak.

Filosofi muncul dari kearifan lokal, tanda penyatuan manusia dengan alam. Cuman ujung-ujungnya jadi gak enak ati saat anak bertanya, "kenapa bapak sakit perut?".

Pertanyaan yang disamber jawaban "Soalnya bapakmu keseringan jajan di luar".

Yang jelas, ini harfiah--bukan filosofis.

------
Follow: @hazmiSRONDOL

Posting Komentar