CB150R Streetfire, Legenda CB100 “Gelatik” yang Berlanjut

Oleh:   hazmi SRONDOL hazmi SRONDOL   |   00.10
Sekitar lima tahun yang lalu, saya sempat terkejut dengan salah satu mahasiswa magang di tempatku berkerja saat datang ke acara makan siang bersama. Pasalnya, mahasiswa kampus tekno negeri di Bandung ini datang mengendarai motor CB100 berwarna putih dengan striping biru. Hal yang sedikit aneh untuk anak muda seusianya yang biasanya lebih memilih motor generasi terbaru untuk aktivitasnya.

Waktu itu, sempat kutanyakan alasan kenapa memakai motor tua itu—jawabnya sungguh mengagetkan. “Motor ini legendaris, pak. Lagian sekarang motor ini lagi diburu para kolektor motor antik” jelasnya sambil terkekeh.

Ya, sempat merasa aneh dengan alasannya. Harap maklum, dalam otakku—yang disebut motor antik dan legendaris itu hanya motor Inggris seperti BSA, Matchless atau AJS.

 

Mas Iwan Trobas, sahabat jurnalis yang bangga dengan CB100 "gelatik" nya

Namun beberapa bulan terakhir, seperti mendapat tamparan saat tanpa sengaja kumelihat display picture BBM sahabat yang berkerja sebagai jurnalis pada salah satu media nasional. Ada foto dirinya yang begitu bangga mengendarai motor CB100 tahun 1973 yang populer disebut CB “gelatik”.

Saya segera mengirimkan pesan pertanyaan soal motor ini. Sungguh mengagetkan. Jawabannya hampir serupa dengan jawaban mahasiswa magang, yaitu “Legendaris dan Antik”. Bahkan ia pun menjelaskan lebih detail jika motor miliknya adalah hasil restorasi dengan spare part yang hampir 100% orisinil. Ckckck!

Fanatisme beberapa sahabat terhadap CB100 ini akhirnya membuatku segera menjelajah ke dunia maya. Penjelajahan yang mengakibatkan muncul keterkejutkan lainnya. Ternyata, motor ini memang seperti terlahir sebagai legenda di masa depan (sekarang). Motor yang seri awalnya di tahun 1970 dikenal dengan kode mesin K0 dan K2 seri “gelatik” tahun 1973 ini ternyata ada embel-embel “Super Sport” di masanya.

Sempat bertanya-tanya, sisi mana yang membuat motor ini dengan begitu percaya dirinya menyebut super sport? Ternyata, memang dijaman tersebut, pabrikan Honda sedang membuat sejarah dan terobosan teknologi untuk dunia kendaraan motor beroda dua.

Dobrakan yang bisa dilihat dari bentuk tangki mungil yang seakan mirip dengan jenis motor enduro namun dengan roda khas kendaraan jalan raya. Design yang seperti sengaja dibuat untuk membuat posisi mengendara yang tegak, nyaman dan sangat lincah. Belum lagi mesin yang saat itu adalah paling irit serta canggih di jamannya.

Sampai-sampai, untuk generasi CB dengan kapasitas mesin lebih besar yaitu 750cc—dengan nama CB750 dinobatkan sebagai peringkat ketiga “Greatest Motor Ever” oleh majalah TOP GEAR dibawah peringkat dua Ducati 916 dan sang juara Honda Cub 50. What! Honda Cub (bebek) 50 cc? Nanti kapan-kapan kita jelaskan lebih lanjut.

 

CB150R Streetfire (sumber: www.welovehonda.com)

 

Nah, sekarang kembali ke motor Honda generasi CB terbaru ini. Setelah empat puluh tahun berlalu, tahun 2013 ini kembali Honda kembali meluncurkan generasi CB terbarunya. Kali ini bernama CB150R Streetfire. Banyak sebagian yang belum paham sejarah motor CB ini berangapan bahwa motor seri ini seperti mendompleng nama besar seri CBR. Padahal menurut saya pribadi, CB dan CBR dua hal yang berbeda. CB adalah legenda jalanan tersendiri.

Sempat beberapa kali mencoba mencoba membandingkan generasi awal CB tahun 70an dengan CB150R era sekarang. Apakah filosofinya masih sama atau malah semakin menjauh?

Syukurlah, ternyata spiritnya masih sama. Bahkan ada beberapa tambahan fitur yang semakin membuat motor ini menjadi motor canggih. Boleh dilihat dari design ergonomis dan riding position yang sama dengan leluhurnya. Tegak, nyaman dan semakin kuat dengan adanya tambahan rangka tubular yang disebut Honda dengan istilah Diamond Steel (Truss Frame / Trellis Type) di bagian depan motor.

Design juga sama cantik dan menariknya, tentu dalam format era masa kini. Seperti burung “gelatik” yang bentuk dan suara ciut-ciutnya menggoda siapapun yang melihat dan mendengarnya.

Belum lagi dengan teknologi mesin DOHC (Double Overhead Camshaft) dimana satu silinder mesinnya terdiri 4 klep, dua klep masukan bahan bakar dan dua klep buangan gas hasil pembakaran. Kecanggihan yang mendahului kompetitornya yang berkapasitas mesin yang sama. Semakin lengkap dengan hadirnya pasokan bahan bakar berjenis injeksi (PGM-FI / Programmed Fuel Injection) yang lazim digunakan pada mobil-mobil era modern.

Hal yang jelas ujung-ujungnya membuat konsumsi bahan bakar motor ini menjadi irit. Bahkan dari hasil tesnya, satu liter bensin bisa menempuh jarak 36 Km untuk pemakaian ‘beringas’ dan 50,25 Km untuk pemakaian ekonomis. Jika digunakan dengan pemakaian ekonomis atau bahasa bikers-nya “ngurut gas”, dengan kapasitas tangki 12 liter ini, dari rumahku di Bekasi hingga ke kampung halaman di Semarang, cukup sekali isi bahan bakar penuh tanpa perlu mampir lagi ke SPBU ditengah perjalanan saat mudik.

Cuman memang, dengan segala kecanggihan ini—pengendara motor CB150R mesti merupakan pengedara motor yang kelasnya sudah advance atau lihai. Walau pun sudah dilengkapi suspensi belakang Pro-link Rear Suspension yang lazim digunakan pada tipe motor sport atau balap, namun dengan tenaga 12,5 kW atau setara 17 tenaga kuda pada 10.000 rpm dan torsi yang mencapai  13,1 Nm (1,34 kgf.m) pada 8.000 rpm serta 6 tingkat kecepatan akan menjadikan motor ini bukan hanya cepat namun juga ringan tarikannya.

Ringan tarikan untuk penghalusan kata ‘beringas’. Hal yang bisa membuat  ‘kebanting’ buat pengendara yang baru terbisa mengendarai motor sekelas bebek atau skuter matic. Butuh pemahaman dan pengenalan lebih lanjut tentang karakter motor dan mesinnya ini.

Nah, dari lahir kembalinya generasi CB150R Streetfire ini—saya memprediksi motor ini akan kembali menjadi legenda pada 40 tahun kedepan seperti saudara tuanya. Motor yang memang design nya sudah dirancang sesuai dengan karakter jalan Indonesia yang berkelok-kelok serta tinggi dan berat badan yang sangat “Asia” banget.

Berani taruhan? Hehehe…

[Hazmi Srondol]

Posting Komentar