Bahaya Buku "The Best Monday FlashFiction" Untuk Penderita Sakit Jantung

Oleh:   hazmi SRONDOL hazmi SRONDOL   |   03.29
“Tapi, mas. Cerita ‘fiksi’ kadangkala lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri” kata Si Bengal Liar—nama pena pemilik suara manja ini mengagetkan. Tepat saat seperti biasa kami berdiskusi soal tulis menulis ini. Sedangkan malam itu, kami membahas soal ‘fiksi’ ini.

“Maksudnya?” kataku penasaran

“Coba deh beri seseorang topeng atau tameng berupa kata ‘fiksi’ dalam tulisannya maka ia akan menjadi dirinya sendiri” jelasnya lagi berfilsafat.

Kalimat yang jelas memaksaku untuk segera bertanya darimana ia mendapatkan kalimat ajaib ini.

“Uknown, mas” jawabnya sambil terkekeh.

Ya, kadangkala dalam hidup kita masuk dalam perangkap standar sosial. Standar perilaku yang dibatasi oleh nilai-nilai yang sudah terbentuk oleh sikap kita sendiri atau masyarakat sekitar. Nilai yang menjadi patokan eksistensi kita pada lingkungan terdekat, jika tidak mampu menjaganya—bisa-bisa kita terdepak dalam lingkarannya.

Dan ternyata, ada sebuah lorong kecil untuk bisa menjadi diri sendiri yaitu memanfaatkan kata ‘fiksi’ untuk bercerita tentang kepribadian atau perasaannya yang asli. Tempat melepaskan energi yang terpenjara oleh kungkungan yang kusebut sebelumnya sebagai kotak “sosial”.

Walau sebenarnya, ini sebuah penyalah gunaan kata fiksi itu sendiri. Tapi tak mengapa, toh tak ada larangannya. Apalagi memang tak ada undang-undangnya yang membahas soal ini.

Nah, bagaimana dengan menulis kisah fiksi yang asli?

Menurut Kang Pepih Nugraha—seorang senior jurnalis sekaligus pendiri blog keroyokan Kompasiana pernah mengatakan bahwa menulis fiksi adalah salah satu teknik menulis yang tersulit. Apalagi jika harus melepaskan kepribadian kita dalam penokohan cerita fiksi yang kita buat. Hal yang harus kuakui, bagiku sendiri adalah hal yang terberat dalam menulis.

Karena kalau itu yang menjadi tolak ukurnya, bisa jadi para penulis fiksi asli ini tak ubahnya sebuah antena penangkap frekuensi ala televisi. Yang boleh jadi, dirinya adalah sekedar alat pencatat cerita “nyata” pada dimensi, waktu atau kejadian nyata yang berada entah dimana.

Tak heran dahulu salah satu atasanku di kantor pernah mengatakan bahwa “kemampuan menulis adalah sebuah kutukan”. Sebab ketika energi dan kisah dari alam semesta yang sering kita sebut “ide” itu muncul, mendadak kita seperti orang gila, sakau atau salah tingkah tidak karuan.

Keadaan yang hanya bisa dihentikan ketika kita sudah memegang pena atau keyboard komputer. Saat-saat dimana para penulis ini menjadi sejenis alat untuk menyampaikan pesan dari alam semesta.

Hal yang akhirnya membuatku sering dikritik oleh sebagian kawan karena selalu memberi nilai bintang lima untuk semua buku atau cerita fiksi ini.

Bukan perkara tega atau tidak tega, namun bagaimana pun cara menulisnya—apa pun hasil karya fiksi tersebut. Para penulisnya jelas berada satu tingkat diatasku. Mereka melakukan hal tersulit yang belum tentu bisa kulakukan.

Begitu pula pada suatu malam, sepulang berkerja—tergeletak sebuah buku yang kupesan dari nulisbuku.com. Sebuah buku berjudul : Kumpulan Flash Fiction dan Fiksimini “The Best of Monday FlashFiction” dari komunitas MFF (Monday Flash Fiction) yang digagas oleh Carolina Ratri atau lebih akrab dipanggil mbak Redcarra.

Ya, semenjak membaca bab pertama berjudul 25 Menit karya Latree Manohara yang bisa dibaca secara gratis dari situs buku penerbitnya, aku langsung begitu tertarik dan penasaran dengan bab lain yang hanya bisa dibaca jika kita sudah membelinya.

Bagaimana tidak penasaran, dari bab pertamanaya saja sudah jelas terbukti kata dari Kang Pepih. Dalam cerita tersebut, setting kisahnya adalah sebuah acara pernikahan di sebuah gereja. Sedangkan penulisnya sendiri, jelas jelas beragama yang ibadahnya tidak di gereja. Jilbaban pula.

Belum lagi kisahnya yang mempunyai plotting unik, yaitu set-up dan twist yang mengejutkan. Baru satu cerita dari 34 cerita saja sudah shock dan terkaget-kaget. Bagaimana jika membaca semuanya, sepertinya dibutuhkan obat anti serangan jantung agar tidak ngap-ngapan dan sesak nafas dadakan.

Efek psikologis membaca kumpulan cerita ini ternyata memang menjadi ciri khas dari konsep menulis flash ficton atau fiksimini ini. Dikutip dari kata pengantar bukunya, untuk flash fiction mempunyai aturan tidak boleh lebih dari 1000 kata. Sedangkan fiksimini tidak boleh melampaui 500 kata. Namun efek kejutnya sama. Kayak petir (flash). Hehehe…

Nah, beberapa kejutan lain juga kutemukan selain dari cerita dalam buku ini. Contohnya adalah adanya beberapa nama yangpernah kutemui secara langsung seperti Ajen Angelina, bunda Yati Rachmad, Sri Sugiarti dan lain sebagainya.

Baru ngeh mereka ternyata sangat lihai dalam merangkai kata untuk membungkus ide cerita fiksi dan tergabung dalam komunitas MFF ini.

Sedangkan penulis lainnya, hampir 80 persen pernah kubaca tulisannya saat blogwalking atau ada beberapa yang pernah berkirim pesan lewat pesan elektronik seperti Miss Rochma.

Cerita dalam buku setebal 166 halaman ini juga sangat kompleks sudut pandang ceritanya, ada yang membahas soal jebakan sekretaris sexy, MLM, jin dalam kendi, hutang jaman sekolah hingga yang membuatku ikutan ngilu hati dan mewek dadakan karena kisah penemuan cinta sejati tepat saat salah satu dari mereka akan fitting baju menikah dengan orang lain. Hehehe…

Cerita-cerita tersebut disusun dalam tiga bagian utama cerita, yaitu Pernikahan, Stasiun Gambir dan Salju. Pembagian yang baru kutahu dari salah satu adminnya memang hal itu merupakan bagian dari konsep menulis keroyokan mereka. Konsep ini disebut prompt. Untuk prompt Stasiun Gambir inilah yang sempat membuatku terasa tercerahkan dari beberapa persoalan lain yang berkaitan dengan dunia kreatif.

Pasalnya, tak seberapa lama dari kedatangan buku ini—sekitar bulan November 2013 dalam sebuah peluncuran program televisi internet, para personal production house dan indie film maker pernah dikumpulkan dan ditantang untuk membuat film pendek untuk mengisi program di aplikasi video milik perusahaan telko plat merah terbesar di Indonesia ini.

Lalu disana muncul berbagai macam masalah klasik, yaitu anggapan soal minimnya stok cerita fiksi—khususnya dengan setting lokasi yang sama agar menghemat biaya ijin lokasi dan bisa saling mambantu untuk memperbanyak konten film pendek berkualitas. Sedangkan prompt Stasiun Gambir ini seperti hadir menjawab persoalan klasik ini.

Sebuah simbiosis mutualisme antara pembuat cerita dan penerjemah cerita ke bentuk audio visual. Yang semoga kode-kodean rahasia lewat twitter sesama filmmaker untuk saling berkolaborasi bisa direalisasikan. Kalau pun tidak, para filmmaker ini sudah tahu kemana mereka mengejar bahan cerita untuk karyanya, tentu para penulis cerita fiksi mini ini. Iya tho?

Nah, kemabali ke soal buku dan prompt. Ada beberapa hal kecil yang kutemukan dan sedikit menganggu ke asyikan membaca buku ini yaitu penempatan dua buah cerita dengan prompt yang sama dan ternyata dua cerita itu (Boneka Untuk Risa – Hairi Yanti & Mama Tidak Gila - Istiadzah) kebetulan mempunyai nama tokoh yang sama pula (Bayu & Risa).

Padahal dua cerita tersebut bercerita kisah dan setting yang berbeda. Agar tidak menganggu imajinasi dengan lompatan backround yang berbeda ini, sepertinya menyisipkan sebuah cerita lain dengan nama tokoh yang berbeda menjadi solusi sederhana pada penataan bab dan cetakan selanjutnya.

Solusi yang tentu tidak begitu sulit untuk layouter komunitas MFF ini. Tinggal mengedip secepat flash lampu blitz. Bukan begitu sodara-sodara?

Hehehe…

----

follow : @hazmiSRONDOL

Posting Komentar