Responsive Ad Slot

Latest

Sports

Gossip

Covered

Tips Menjaga Cinta Dengan Resep "Warisan Kuliner Nusantara"

Selasa, 16 April 2013

“Why did you leave me?”

Aku membaca pesan yang masuk ke ponsel itu dengan helaan nafas panjang. Sedikit berat. Sempat beberapa detik mata ini terpejam secara otomatis. Sebuah reflek dimana otak membutuhkan sebuah ruang gelap untuk memancarkan kembali nostalgia awal-awal perjumpaan. Semua mendadak menjadi sangat jelas, seperti proyektor yang disorot di dalam gedung bioskop.

“Kereta ke Semarang jam berapa ya, mbak?” tanyaku dengan memasang tampang pura-pura kebingungan waktu itu. Padahal sih memang itu bagian dari trik atau istilah anak muda jaman sekarang adalah ‘modus’ untuk mencoba berkenalan saja.

Sudah kuduga, gadis yang masih memakai rok berwarna abu-abu itu jadi gelagapan. Entah karena mendadak terpesona melihat ketampananku atau malah ketakutan dikira bakal dipalak preman. Aku menyadari situasi sulitnya itu. Kembali jurus pura-pura melihat-lihat jadwal kereta aku luncurkan.

Berhasil, ketakutannya mereda dan obrolan ringan yang kuharapkan pun terjadi. Lengkap dengan nomer telepon nya sebelum ia pergi dan aku kembali ke teman kerjaku yang sudah menunggu, menunggu sambil menghembuskan nafas lega dan menyeka keringat didahinya.

“Tumben nggak digampar, Ndol” katanya sambil terkekeh.

Aih sudahlah, aku sudah terbiasa mendapat reaksi iri khas para pria yang kalah nyali lalu mengintimidasi dengan kata-kata model seperti ini. Hihihi…

Lalu kembali senyum cengengesan adalah jurus terbaik untuk menjawab pertanyaannya. Tak perlu berbalas kata, toh sebentar lagi juga bakalan ia yang melamun sendiri. Mungkin memaki-maki dirinya sendiri yang melewatkan kesempatan langka ini. Kalau sudah begitu, aku yang kemudian gantian tertawa terkekeh melirik wajahnya yang seakan kosong menatap lantai stasiun kereta api. Wakakaka. UPS!

Ya, setelah lewat sekitar tiga hari aku baru menelepon nomer pemberiannya. Bukan lupa, cuman kurang lebih itulah teknik pdkt ideal yang kutahu dari hasil  diam-diam membaca majalah cewek di toko buku. Ajaib, telepon pertama itu sukses dan membuatku bisa melakukan pertemuan lanjutan walau sempat terseok-seok mencari alamat tempat tinggalnya.

Aku mengerti, banyak kenangan yang terjadi dan akhirnya membuatnya bertanya seperti bait pertama di tulisan ini.

Bukan maksud membela diri. Sepertinya aku sudah beberapa kali menanyakan kesiapan untuk melamarnya. Bukan! Bukan karena aku yang sudah kenafsuan dan tegangan tinggi. Tapi memang faktor tubuh ini yang tidak bisa menunggu untuk segera menikah.

Ya, perutlah yang utama. Bukan faktor dibawah perut. Walau iya sih, ada nyrempet-nyrempetnya kearah sana. Dan jawaban yang kuterima selalu sama. “Kita nikmati saja dulu kondisi seperti ini, mas”, kondisi tidak memikirkan menikah dulu maksudnya.

Tapi…. Bagaimana yah?

Sejak lulus SMP aku sudah sekolah di luar kota. Usai sekolah juga mesti kerja dan kuliah di Jakarta. Hidup di kos-kosan hingga bertahun-tahun. Masih mending jika ada orangtua yang perhatian. Lha ibu ku sendiri sudah meninggal dunia disaat pertengahan tahun kedua aku hidup diperantauan. Terbayang kan begaimana sulitnya?

Kesulitan bukan hanya masalah psikologis kehilangan sosok utama pencurah perhatian, namun juga kesulitan soal kebutuhan dan jadwal makan tentunya. Dari menu yang selalu begitu-begitu saja, bahkan boleh dibilang jauh dari standar empat sehat lima sempurna.

Satu sehat saja sudah syukur, pokoknya filosofinya asal kenyang dan glegekan—beres! Hingga jadwal makan yang kacau balau. Istilah break fast, lunch dan dinner jauh dari kehidupan sehari-hari.

Yang ada adalah jadwal makan yang berbarengan dengan jadwal sholat. Sholat dhuha jam 10, sholat asar jam 3 dan sholat tahajud tengah malam kalau pas lagi ingat dan muncul alarm keroncongan di dalam perut. Kalau sudah terlanjur ketiduran karena kecapekan, jadwal makan akan di jamak (digabung) esok harinya.

Alhasil, dengan ritme hidup seperti itu—penyakit typus dan maag menjadi langganan sehari-hari. Pernah gara-gara sakit maag akut, aku sampai harus dijejali sesendok minyak tanah oleh teman kos karena muntah-muntah padahal sudah dikerok sampai merah berulang kali. Sumpah, aku kapok dengan pengobatan cara seperti ini. Disamping rasanya sangat tidak enak dan getir, rasanya kok aku seperti dianggap lampu teplok saja. Hiks.

Dan dari kejadian itulah akhirnya aku memutuskan bahwa masa penderitaan menjadi anak kos itu, harus segera diakhiri.

…….

“Kerupuk apa ini? Kok enak sekali” tanyaku keheranan bercampur kagum.

Dia hanya tersenyum tertahan.

“Kok rasanya kayak jengkol yah?” kataku lagi untuk memastikan.

Dan meledaklah tawanya di warung makan yang tak jauh dari kampus tempatnya kuliah di ranah Minang ini. Sambil menahan tawa ia pun membenarkan memang yang aku makan adalah krupuk jengkol. Salah satu spesies krupuk langka yang jarang ditemukan di daerah lain. Walau pun memang rasanya enak, sebenarnya banyak yang gengsi memakan krupuk itu. Apalagi kaum muda dan pada kencan pertama.

Yayaya,

Krupuk jengkol itulah moment pertama aku kami berkencan. Rada tidak lazim memang, tapi itulah yang terjadi. Perasaan cinta yang tumbuh dan kesat rasa krupuk jengkol menjadi sebuah adonan perasaan yang saling terkait dan tak bisa aku lupakan.

Perasaan yang akhirnya membuatku untuk memutuskan, bahwa ialah yang memang terpilih dan pantas kupilih untuk menjadi istriku. Sebagai pendamping hidup sekaligus pengobat sakit hati, eh, sakit maag di perut.

Keputusan yang besar dan tentu saja sulit. Apalagi almarhum ibuku duhulu selalu mewanti-wanti untuk tetap ‘nalar’ dalam mencari pendamping hidup. Hal yang kurang lebih berarti aku harus bisa meletakkan akal sehat dan perasaan secara seimbang dalam berurusan dengan gabungan lima hurup paling universal di dunia, yaitu C-I-N-T-A.

Waktu itu aku hanya tertawa-tawa saja  saat mendengar salah satu petuahnya itu. Maklum, umur juga masih beberapa bulan melewati usia akhil baliq. Saat itu aku hanya menganggap kata ‘cinta’ hanyalah istilah situasi dimana mata pria dipaksa mampu bertahan lebih dari 10 detik menatap lawan jenisnya. Bila perlu sampai leher melintir mengikuti posisi pergerakan perempuan yang berjalan kaki berpindah tempat.

Namun bertambahnya usia dan perubahan hormon menuju taraf dewasa. Apa yang dikatakan beliau sungguh sangat benar sekali. Aku juga teringat saat beliau suatu hari bercerita bahwa lelaki dan perempuan itu bukan hanya berbeda bentuk fisik dan model bajunya tetapi juga isi didalam otak dan perasaannya. Kalau yang berbeda di dalam baju, maaf nggak usah dijelaskan saja yah, toh pasti sudah pada mengerti. Hehehe.

Dan perbedaan itu tidak mudah untuk disatukan, bahkan oleh almarhum bapak ibuku sendiri diusia senjanya. Sampai sampai, istilah ‘nerimo’ pun muncul. Kata sederhana yang sering aku dengar semenjak kecil. Kata yang kali itu dijelaskan dengan pandangan yang berbeda. Nerimo sebagai kunci awal untuk bisa belajar mengerti perbedaan dengan pasangannya.

Nah, kembali ke menyeimbangkan akal sehat dan perasaan ini. Ternyata urusan mencari lokasi tempat makan menjadi salah satu tahapnya. Dan anehnya, dengan sewaktu belum menikah dulu—istriku selalu pintar memilih makanan yang kemungkinan cocok dengan lidahku.

Harap maklum, kami dulu termasuk penganut hubungan jenis LDR (long distance relationship). Saya di Jakarta dan dia di Padang. Sedangkan kota itu, kurang bersahabat untuk lidahku yang sangat Jawa dan doyan makanan manis-manis.

Ketepatan memilih makanan itulah yang membuatku menerka-nerka, jika calon istriku ini sepertinya pandai memasak. Kepandaian dibalik dirinya yang manis, kuning dan memabukkan laksana durian dari Sumatera.

Dugaanku benar, ia sangat terampil membuat masakan—khususnya masakan Padang. Masakan fast food tercepat didunia. Dimana fried chiken baru berani menawarkan layanan 60 detik—di rumah makan Padang, anda belum pesan masakan, sudah terhidang. Sudah begitu, kecuali di bulan—rumah makan Padang selalu ada di belahan bumi yang lain, khususnya dipertigaan atau perempatan jalan.

Walau tetap saja pada sempat saat awal-awal menikah, aku ditakut-takui kawan-kawanku jika akan selalu dibuatkan masakan yang pedas-pedas. Tapi nyatanya ternyata tidak. Ia malah lebih banyak masakan dengan olahan kecap. Hal ini sempat membuat orangtuanya secara bercanda pernah berucap dengan kata ‘cabai mahal’ di rumah kami gara-gara susahnya mencari sambal dan banyaknya masakan manis dan berkecap ini.

Namun menjawab candaan ini, istriku menjelaskan bahwa memang menu ini disengaja untuk menetralisir asam berlebih di lambungku. Owalah, aku baru tahu ternyata kecap itu salah satu obat atau cara murah untuk penyakit bekas anak kos sepertiku ini.

Jujur saja, terbersit rasa kagum atas usahanya membuat masakan non Padang ini di rumah. Aku jadi ingat awal-awal menikah dulu juga, saat ia sering sekali berburu resep masakan Jawa di toko buku dan bereksperimen membuatnya.

Bahkan ketika kemunculan aplikasi Warisan Kuliner di ponsel Android, Iphone dan Blackberry sekitar akhir tahun 2012 yang lalu pun ternyata ia lebih dulu tahu daripada aku yang baru tahu beberapa minggu yang lalu. Aplikasi kumpulan resep Nusantara yang praktis dan mudah dibuka dimanapun berada selama ponsel masih ada baterainya dan menyala.

Entah mengapa, memang sudah bakat atau kerja kerasnya—hasilnya kebanyakan memuaskan. Bahkan lebih memuaskan daripada bayanganku sendiri.

Jadi harap maklum, aku sering tanpa sengaja memuji atau membanggakannya soal masakan olahan istriku ini. Kadang aku ingin mengatakan ke para pria agar mencari wanita yang pintar memasak sebagai salah satu point dalam memilih pasangan untuk dinikahi, namun urung aku lakukan karena takut di bully di era emansipasi wanita zaman ini.

Selain takut juga terjadi salah tafsir karena dianggap hanya ingin menikahi perempuan karena ingin menjadikannya koki gratisan dirumah saja. Sumpah, bukan itu maksudku. Aku hanya ingin berbagi pengalaman bagaimana pujian lezatnya masakannya itu adalah pujian paling tulus dan bakal abadi kepada istri-istri kita.

Pujian yang tidak perlu berbohong saat ditanya “masihkah aku cantik, pak?” ketika mereka sudah mulai menua dan keriput nanti. Pujian yang juga merupakan kata tidak langsung kepada istriku bahwa aku sangat mencintainya.

………

“Kue tart buat ultah anakku..”

Demikian kata yang tertulis di salah satu foto yang di unggahnya di facebook. Sepertinya pujian memasak istriku dibacanya dan ia berusaha menunjukan kemampuan membuat kuenya. Terlambat, tapi tak masalah—itu kemajuan yang luar biasa. Mungkin memang sudah takdir aku bukan jodohnya.

Toh yang penting, jangan sampai tidak jodoh berarti peperangan dan permusuhan. Ini hanya masalah suratan takdir, rencana dan design Tuhan yang Maha Kuasa. Melupakan juga bukan sikap yang baik, lagian mana bisa aku menghapus kejadian masa lalu. Karena memang masa lalu juga bagian dari hidup dan pembelajaran kehidupanku.

Aku segera memencet keyboard laptop dan mencoba menulis,

“Luar biasa sayang,….”

Tapi kuurungkan, sepertinya aku salah menempatkan tanda koma dan kurang lengkap kalimatnya. Seharusnya jadi,

“Luar biasa, sayang bukan masakan nusantara berkecap”

Eh, kok malah sadis begini kalimatnya. Ya sudah, komentar di facebook kubatalkan dan kuganti dengan memencet tombol jempol saja, tanda aku ‘laik diz’ fotonya kali ini.

[Hazmi Srondol]
Posting Komentar
Don't Miss