Ironi Kesuksesan Festival Jajanan Bango 2013 di Semarang

Oleh:   hazmi SRONDOL hazmi SRONDOL   |   13.01
Kami agak terseok-seok saat berjalan menuju lapangan Diponegoro, tempat dilaksanakannya hajatan Festival Jajanan Bango 2013 di Semarang.

Kalau tidak diberitahu adik sepupuku, mungkin aku akan terheran-heran dengan padatnya pedagang dadakan di jalan samping stadion tersebut. Katanya, semenjak para pedagang kaki lima di sekitar simpang lima di gusur—maka lokasi samping stadion inilah yang digunakan sebagai tempat relokasi pedagang asongannya.

Relokasi yang selain berfungsi untuk merapihkan kota, secara tidak langsung berfungsi juga untuk membubarkan habitat “ciblek” yang sempat membuat wilayah Simpang Lima mendadak identik dengan sisi malam yang negatifnya. Untuk arti ciblek versi ini, jelas bukan arti harfiah burung kecil yang berterbangan—lebih jelasnya monggo cek sendiri-sendiri di mbah google. Hehehe…

Untung saja aku terbiasa berdesak-desakan saat berangkat kerja naik kereta KRL, jadi tidak terlalu kaget. Hanya sebatas rasa heran saja. Toh, keterkejutan sudah dihabiskan saat berangkat dari bandara menuju Semarang dihari sebelumnya. Ya siapa yang tidak kaget, aku terbiasa melihat pelayan rumah makan memakai ID card dan seragamnya. Aku juga terbiasa melihat bulu mata palsu.

Namun jika melihat pelayan yang memakai ID card bernama dan berseragam cowok itu memakai bulu mata palsu gede ala Syahrini—sumpah aku tidak terbiasa. Bahkan binggung saat membayar dan menerima uang kembalian makanan di café pojokan luar terminal 2 Soekarno Hatta tersebut. Bingung mesti bilang mas atau mbak saat mengucapkan sambungan yang lazim digunakan sebagai pelengkap kata belakang “terima kasih, mas/mbak” nya.

Keterkejutan yang juga bertambah saat akhirnya tahu lokasi acara tersebut bersebelahan dengan bekas kantor departemen dimana dahulu almarhum Ibuku berkerja sebelum beliau meninggal dunia. Benar-benar acara kegemaranku (makan-makan) ini sangat menyenangkan sekaligus mengudak-udak emosi masa lalu.

Antara kerinduan yang menggebu dan rasa bersalah karena sampai beliau meninggalkan kami, beliau belum sempat melihat pencapaian-pencapaian yang kuraih serta belum sempat melihat kedua cucu nya yang berwajah tampan dan gagah seperti anak lelaki satu-satunya ini. Boro-boro berbakti menaikan haji—merasakan gaji atau honorku saja tidak pernah.

Rasa bersalah yang akhirnya membuatku membuat peraturan khusus di rumah, peraturan jika anak-anak boleh berdebat dengan bapaknya, mengeyel jika memang alasannya logis dan masuk akan bisa diterima, tapi jangan sekali-kali terhadap ibuknya. Keras hukumannya. Bisa-bisa anakku mesti duduk dua jam di kursi plastik hukuman dan dijauhkan dari semua mainan, gadget serta komputer tempatnya biasa main internetan. Sebuah siksaan berat untuk anak seusianya.

Nah, kembali ke soal acara—setelah melewati kepadatan pedagang asongan kini aku juga kembali terheran-heran. Bayangkan saja, acara yang resminya dimulai pukul 9 pagi namun satu jam sebelumnya sudah padat pengunjung. Meja dan Kursi pengunjung pun sudah terisi, kalau pun hendak duduk—kebanyakan sudah di tag ala di facebook.

“Ada yang duduk, pak” katanya sambil memegang kursi kosong tersebut yang di atasnya di beri tanda tas kresek. Tas kresek yang entah isinya apa, mungkin sekedar untel-untelan kertas koran bekas. Wong jelas di acara kuliner ini, semua makanannya langsung saji. Jarang yang dibungkus untuk dibawa pulang. Konsep tagging ini pun hampir semua sudut meja kutemui.

Sepertinya Mark Zukerberg mesti berterima kasih dan berbagi royalti dengan warga Semarang yang memberikan inspirasi untuk konsep penandaan tagging di aplikasi socmed buatannya. Hal yang sempat membuatku ngomel-ngomel panjang sebelum diingatkan saudara jika waktu kecilku juga begitu, lebih parah katanya. Malah sampai menandai kursi dengan kapur dan spidol biar tidak dipakai orang lain. Eit, hampir lupa kalau darah Semarangan masih kuat mengalir di urat nadi. Hehehe…

Antusiasisme masyarakat yang masih menyisakan keheranan lagi. Padahal masya Alloh, panasnya TKP luar biasa. Bahkan panasnya kota Semarang itu berbeda loh ya dengan panasnya kota Jakarta atau Surabaya yang sama-sama berada di pinggir pantai. Sekedar informasi, kota Semarang ini terbagi dua wilayah yaitu Semarang bawah dan Semarang atas. Semarang atas identik dengan daerah perbukitan yang tinggi dimulai dari daerah Gombel hingga gunung Ungaran.

Kondisi grografis inilah yang diperkirakan menjadi penyebab panasnya ini. Udara pantai tidak tertiup ke daerah lain ke selatan, tetapi berbalik kembali ke kota karena terbentur perbukitan. Wajar jika panasnya kota Semarang menjadi kuadrat. Istilah bahasa Jawanya, selain panas namun juga sumuk.

Kata ‘sumuk’ ini aku belum menemukan padanan kata yang pas dalam bahasa Indonesia. Lebih baik sekali-kali mencoba hadir ke kota ini untuk merasakan sensasi sumuk kota bawah Semarang. Kata adik sepupu--Spa alami untuk melangsingkan badan. Hehehe…

Keramaian pengunjung ini ternyata bukan hanya saat awal pembukaannya saja, namun hingga terakhir saat aku meninggalkan acara ini sekitar ba’da maghrib—antusiasnya tidak berkurang. Bahkan bertambah besar hingga sekitar pukul 5 sore sudah banyak stan yang sudah kehabisan stok. Tak heran ada beberapa pengunjung mengomel karena setelah lama antri di salah satu stand lalu kehabisan saat gilirannya memasan tanpa pemberitahuan.

Belum lagi beberapa ocehan tentang susahnya mencari penjual minuman saat menjelang sore. Hingga banyak pengunjung akhirnya membeli minuman di luar acara atau sudah mempersiapkan botol minuman karena sebelum masuk sudah diberitahu kerabat atau saudaranya jika didalam acara akan kesulitan mendapatkan minuman.

Terlepas dari komplain kecil ini, setidaknya satu sisi terlihat jika hajatan oleh kecap Bango ini bisa dibilang sangat sukses. Membludaknya pengunjung seperti tidak diduga oleh panitia jika berdasarkan cepat habisnya  stok makanan dan minuman  yang dipersiapkan. Saya menduga ukuran stok nya sama dengan ukuran hajatan Warisan Kuliner Nusantara di lokasi sebelumnya seperti Surabaya atau Malang.

Namun sayangnya, dibalik kesuksesan acara tersimpan ironi yang berkebalikan dengan kondisi ‘bango’ yang lain.

Seperti kita tahu, semenjak kecap merk “Bango” diakuisisi oleh Unilever tahun 2001, pertumbuhannya sangat luar biasa. Jika di bandingkan dengan merk kecap ABC, maka di hitung sejak tahun 2002 sampai dengan tahun 2007—Kecap ABC anjlok penguasaan pasarnya di Indonesia dari 69% menjadi 33%.

Sedangkan Bango malah naik dari 20% menjadi 32%, berimbang posisinya dengan kecap ABC di tahun itu. Dan untuk akhir tahun 2012 sendiri, saya belum mendapatkan data jelasnya, namun dengan tagline “hadir di rumah setiap keluarga Indonesia” serta grafiknya--kita bisa menebak seberapa besar penguasaan dan kenaikan pasarnya.

Kenaikan yang ternyata tidak berimbang dengan jumlah ‘bango’ penghuni pohon di kawasan Srondol, Semarang. Tak jauh dari tempatku dilahirkan. Burung bango yang disebut oleh warga Semarang dengan nama burung ‘kuntul’ ini sungguh mengenaskan nasibnya. Eit, jangan mikir yang jorok-jorok yah karena namanya nyrempet ungkapan kasar kelamin pria. Lha wong, memang sejak aku kecil, memang begitu kami menyebutnya.

136477625124503386

Burung Kuntul Srondol



Seingatku dulu seaktu masih kecil, sekitar tahun 90-an. Jumlah burung kuntul yang bersarang di pohon depan markas batalyon infantri Yonif 400/Raiders (Banteng Raiders) ini jumah mencapai ribuan. Masih jelas dalam memori masa kecilku, betapa ajaib kuntul-kuntul ini berputar-putar seperti angin tornado sebelum hinggap di barisan pohon angsana, asam atau mangga tersebut. Suara mirip berkoteknya nyaring dan menjadi kebanggaan dan ciri khas tersendiri bagi warga Srondol - Semarang.

Namun kini jumlahnya hanya berkisar 200 an saja. Padahal, dari 6 jenis burung keluarga bango langka didunia—4 diantaranya berada di kawasan Srondol ini yakni kuntul besar (Egretta alba), kuntul perak (Egretta intermedia), kuntul kecil (Egretta garzetta), dan kuntul kerbau (Bubulcus ibis).

Dua jenis lainnya adalah kuntul karang (Egretta sacra) yang banyak di jumpai di kepulauan Karimunjawa dan kuntul china (Egretta euphoes) yang jelas dari namanya tidak ada di Indonesia.

Sedangkan satu jenis bango lain yang juga mulai langka lagi adalah bango Storm (Ciconia stormi) yang kebetulan dipakai sebagai logo kecapmilik Unilever ini. Namun bango yang ini lebih beruntung—jikalau kelak punah, setidaknya wujudnya masih tetap diingat karena ada jutaan gambar bango jenis ini di botolnya.

Kadang sempat berfikir untuk memberikan usulan ke Unilever perihal logo ini agar memakai logo bergambar jenis bango lain yang langka ini di produk turunannya seperti kecap asin atau kecap pedasnya. Toh selain bisa mempermudah pembeli membedakan jenis kecapnya juga sekaligus wujud tanggung jawab telah memakai merk dengan nama burung legendaris kota Semarang ini.

Apalagi nama “bango” yang dipakai itu tidak sembarangan.

Disamping burungnya yang memang mulai langka, kisah dibalik burung ini sangat luar biasa. Salah satunya adalah kisah Sadako Sasaki, seorang gadis cilik dari jepang yang saat berusia dua tahun negaranya terkena bom Atom. Bom yang radiasinya menyebabkan ia menderita sakit leukimia. Hingga pada saat sakitnya semakin parah, di usia 12 tahun ia masuk rumah sakit dan membuat origami berbentuk burung bangau.

Rencananya, ia akan membuat 1000 burung bango kertas sebagai upaya penyembuhan penyakitnya. Hal ini ia lakukan karena ia percaya dengan cerita kuno dari negaranya Jepang, jika ia membuat burung kertas sebanyak itu maka ia akan sembuh dari penyakitnya. Namun sayangnya, baru sampai 644 burung ia buat, ajal sudah menjemputnya. Hal ini membuat para sahabat dan kawan-kawannya berduka lalu meneruskan kegiatan ini hingga selesai 1000 burung kertas terbuat.

Untuk mengenangnya, kawan-kawannya mengirimkan catatan dan surat untuk penggalangan dana pembuatan monumen untuk peringatan bahaya dampak penyalah gunaan atom/nuklir untuk senjata pemusnah masal bagi anak-anak sedunia. Akhirnya, pada tahun 1958, patung Sadako yang memegang burung bangau emas dipajang di Taman Monumen Perdamaian Hiroshima, yang disebut Genbaku Dome dengan plakat dikakinya yang berbunyi:

Kore wa bokura no sakebi desu. Kore wa watashitachi no inori desu. Sekai ni heiwa o kizuku tame no yang artinya"Ini adalah seruan kami. Ini adalah doa kami. Untuk membangun kedamaian di dunia."

Sedangkan di Semarang atau masyarakat Jawa umumnya juga terdapat pepatah yang berbunyi :"Golekana tapake kuntul mabur" (carilah telapak kaki bangau yang terbang).

Sebuah sanepan (peribahasa) yang merupakan salah satu cabang ilmu kesempurnaan. Ilmu yang harus didapatkan melalui tirakat dan laku karena melihat telapak burung bangau terbang adalah sebuah kemustahilan kecuali kita mengosongkan diri dari ikatan logika dunia melalui jalan awal kesabaran. Kesabaran melihat pertanda alam saat sang burung akan mendarat. Saat dimana telapak kaki itu baru terlihat.

[embed]https://www.youtube.com/watch?v=maDf5uEXwh8[/embed]

Mengosongkan diri yang juga dalam etimologi Tionghoa disebut wu wei dan dalam bahasa Jepang disebut Mushin (Mu = tiada/tanpa; Shin = hati/pikiran). Atau lebih sederhananya dalam bahasa Indonesia adalah kata ‘ikhlas’.

Jadi tak heran yang suka menonton film Kungfu Panda akan paham kenapa dalam film tersebut, ternyata jurus rahasia yang diperebutkan ternyata hanyalah gulungan kertas putih kosong. Kertas kosong yang berarti emptiness/nothingness atau ikhlas itu sendiri sebagai titik kesempurnaannya.

Nah, jadi bukan suatu kebetulan kan jika acara wisata kuliner dari kecap Bango ini dimulai pertama kali di Semarang? Acara yang pernah dilaksanakan sekitar bulan Mei 2005 karena (kebetulan) kedekatan filosofis dan etimologis. Walau sayangnya, baru terulang setelah hampir 8 tahun berlalu. Saking lamanya, sehingga banyak sekali kawan-kawan yang tidak tahu dan menganggap acara tahun ini adalah yang pertama kali di Semarang.

Ironis.

[Semarang, 1 April 2013]

 

Posting Komentar