Membaca 'Takdir' Tuhan Lewat Sidik Jari (Finger Test Print)

Oleh:   hazmi SRONDOL hazmi SRONDOL   |   05.35
Kami semua menatap tajam cincin yang digantung dengan seutas tali di dalam gelas dan dibiarkan bergerak mengenai gelas yang berisi air setengah bagian.

“Yes, dua puluh tiga!” sorak salah satu teman pacarku.

“Egh! Empatpuluh dua” kata satu lagi sahabatnya dengan wajah memelas.

Aku menggeleng saja saat pacarku (sekarang istri) hendak melakukan ritual serupa. Aku hanya terkekeh melihat para perempuan itu mencoba meramal umur mereka akan menikah.

Ya, memang begitulah manusia. Ada satu hal yang tidak pernah habis dibahas, dari era rekiplik hingga era social media merajalela. Membaca takdir atau nasib namanya. Jika perempuan kebanyakan berusaha meramal usia pernikahan, dengan siapa menikah dan syukur-syukur suaminya adalah pangeran berkuda putih atau bermobil mercy putih laksana Pangeran William. Kalau para pria tidak jauh-jauh dari soal jabatan, posisi kerja yang cocok dan proyek yang  intinya adalah tentang nasib kantongnya kelak. Tebal atau tipis.

Memang, perdebatan soal takdir ini menjadi hal yang sangat seru. Ada yang pasrah mengikuti takdir atau yang setengah mati jungkir balik mencoba melawan takdir dengan bermagai macam cara. Dari yang normal dengan berkerja keras hingga yang ‘rada-rada’ seperti main dukun atau pengasihan.

Pertanyaan serupa tentu saja pernah kualami, aku saat itu lebih memilih untuk menjalani apa saja yang mesti dilakukan yaitu sekolah dan tentu saja melamar pekerjaan sesuai ijasah sekolah. Alhamdulillah, ‘takdir’ membawaku ke sebuah perusahaan yang termasuk bonafit di negeri ini.

Persoalan dasar yaitu finansial sudah mulai terselesaikan satu persatu. Walau belum berkelimpahan hingga meluber laksana Aburizal Bakrie atau Sandiaga Uno, setidaknya aku harus sangat bersyukur tidak menjadi sosok gembel di belantara Ibukota. Bisa bersahabat dengan kehidupan Jakarta sungguh sesuatu yang harus aku syukuri atas pemberian Tuhan semesta alam ini.

Namun, persoalan lain muncul yaitu saat menjadi seorang orang tua. Bukan lagi seorang suami, namun hadirnya dua Thole di keluarga kamilah yang membuatku menjadi banyak merenung. Sering kupandang dalam-dalam wajahnya saat mereka tidur dan bertanya tanya, bagaimana kehidupan mereka kelak? Apakah lebih baik dariku atau kelak menjadi bebanku dimasa tua?

Terngiang kata ‘Ayah Edy’ di siaran radio, “Setiap anak terlahir menjadi Jenius, tinggal kita lah sebagai orang tua yang harus bisa metani (mencari) sisi jenius itu”.

Aku terperangah. Ayah Edy benar, dan yang menjadi persoalan adalah bagaimana caranya metani kejeniusan anak? Dan dimana memulainya? Memang aku sedikit banyak bisa membaca tanda-tangan orang, but... itu terlalu terlambat untuk menunggu anak bisa dibaca tanda-tangannya. Bisa-bisa anak sudah setres disaat perjalanannya menuju ‘takdir/nasib’nya.

Hilir mudik aku mencari referensi, dari kitab suci, buku, bungkus kacang rebus hingga dukun maya (internet). Hingga suatu ketika tanpa sengaja saat kami sedang berbincang-bincang soal rencanaku mengajak anak untuk test psikologi ke psikiater untuk mencari bakat dan minatnya, mendadak istriku teringat tentang adanya cara baru membaca psikologi dari sidik jari, Finger Test Print istilahnya yang didapatnya dari milis ibu-ibu yang rajin di gelutinya.

...........

Kami menunggu giliran sambul duduk-duduk di teras sebuah rumah  di bilangan Pondok Indah, tidak jauh dari rumah juri Indonesian Idol—Ahmad Dhani. Setelah kami menunggu, akhirnya anakku dan aku mengikuti test itu. Sederhana saja, hanya cukup menempelkan satu persatu ke sepuluh jari ke sebuah alat pembaca sidik jari dan hasilnya langsung di rekam dalam laptop.

Aku sungguh terperangah, saat giliran anakku dan aku dibacakan karakter sidik jarinya, aku melihat apa yang disampaikan sangat akurat. Sisi-sisi kepribadianku yang selama ini aku abaikan ternyata muncul tertulis dengan jelas. Bahkan, disana juga dijelaskan persentase kuadran profesi ala Robert T Kiyosaki yang sesuai dengan karakterku.

Waktu itu aku belum sempat menanyakan, bagaimana sistem ini bekerja dan bagaimana cara membacanya. Antrian terlalu panjang dan rasanya sangat sungkan untuk melakukan sesi tanya jawab diluar agenda.

Untunglah, beberapa bulan yang lalu, saat istriku mengikuti bazaar di FX Plaza Jakarta yang dilaksanakan oleh komunitas Bundagaul.com aku melihat ada sebuah stand finger test print. Walau berbeda operator dan pemiliknya, namun kali ini aku berkesempatan berbincang-bincang dengan operator tersebut.

Penjelasan sistem ‘Analisa Sidik Jari’ adalah dengan membaca pola sidik jari yang terdiri dari pola : Arch/Tented, Loop, Double Loop, Concentric, Spiral, Press, Composite, Peacok Eye dan Whorl untuk melihat tipikal manajemen diri kita dan cara berelasi dengan orang lain.

Dari sinilah akhirnya aku sadar, perdebatan siapa yang menentukan takdir—manusia atau Tuhan terjawab.

Tuhan sudah memberi tanda berupa sidik jari yang langsung diberikanNya saat kita lahir. Namun dalam perjalanannya, lingkungan sosial membentuk pilihan manusia. Banyak juga yang sukses tanpa mengikuti pola talenta/bakat dalam sidik jari namun tidak kurang banyak yang merasakan ada ‘ganjalan’ di hatinya. Ganjalan itu bernama ‘passion’ atau ‘hasrat’.

Passion ini lah yang kadangkala beralih rupa menjadi sesuatu yang disebut ‘hobi’ diluar pekerjaan rutin yang dilakoninya sehari-hari.

Tidak heran, ada seorang pensiunan perusahaan minyak yang mengaku terkejut juga saat melakukan finger test print. Beliau dengan jujur mengatakan walau sukses berkarir, tetapi penasaran dengan bathinnya yang merasa kosong.

Beliau merasa, dirinya ibarat robot dalam bertugas. Hatinya tidak benar-benar mencintai apa yang dilakukan. Kalaupun ada rasa cinta, lebih banyak muncul karena tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga. Dan kini, setelah ‘tanggung jawab’nya selesai, beliau mencoba menjalankan apa yang sesuai terbentuk dalam sidik jarinya. Ajaib! Pencapaiannya lebih cepat daripada 27 tahun beliau berkerja sebelumnya.

..................

“Jadi bapak sekarang mengerti kenapa bapak suka sekali menulis, travelling dan bercerita? Bapak juga sudah mengerti kan bagaimana mengarahkan 'takdir' anak-anak agar lingkungannya besok sesuai?” kata istriku sambil tersenyum

“He-eh” kataku sambil mengemudi mobil menuju kota kelahiranku—Semarang.

“Berani alih profesi?” tantangnya.

“............” aku terdiam sambil menggeleng.

Kendaraan pun akhirnya berhenti. Aku termenung di perempatan lampu merah kota Tegal itu. Siapa juga yang berani keluar dari zona nyaman. Apalagi bekal belum cukup. Lamunanku ini mendadak terganggu dengan sura gerombolan motor besar Harley Davidson yang berhenti di sebelah kendaraan kami.

Aku menoleh dan melonggo. Ternyata pengemudinya tua-tua, tampak dari kumis dan janggut mereka yang tampak memutih dan keriput ibu-ibu di boncengannya. Aku kembali melamun.

“Buk, apa mesti bapak setua itu untuk bisa muter-muter naik Harley sambil goncengin ibuk?” tanyaku.

Istriku tersenyum saja. Aku menunggu jawabannya.

Do something big, pak! Ibuk kasih waktu maksimal sampai umur 40 tahun jadi karyawan. Setelah itu, buruan pensiun dini. Ibuk bantu kumpulin duitnya biar bapak bisa melakukan apa yang yang bapak sukai”.

Aku tersenyum lebar, pengertian sekali dia. Aku menghitung umur, itu tinggal 8 tahun lagi. Kami berdua tahu, persentasiku sebagai seorang self employee dan investor alias seniman, penulis, sutradara, artis atau apapun namanya ternyata jauh lebih besar daripada kuadran employee dan business owner.

Rasanya aku makin mencintai sosok yang kuibaratkan durian Jambi ini. Kuning, manis dan tentu saja memabukkan.

Hahay!

[Hazmi Srondol]

Posting Komentar