Responsive Ad Slot

Latest

Sports

Gossip

Covered

Jeritan Pak Guru di Papua Itu Didengar Operator Seluler

Sabtu, 15 Oktober 2011

"on the jet plane. approved 2 site. happy?”

Sebaris pesan pendek SMS masuk di hapeku. Pesan yang sontak membuatku berteriak kegirangan dan langsung kubalas dengan kalimat norak “VERY VERY VERY HAPPPYYYY!” dan membuat istri dan anakku terkaget-kaget. Maklum, malam ini listrik di komplek rumahku sedang padam dan suara berisik sebuah genset tua bermesin 2-tak penuh asap itu biasanya membuat suasana rumah suram dan tidak nyaman.

Setelah sedikit meredakan kegembiraan, akupun menjelaskan ke istriku soal pesan dari salah satu pejabat dari operator seluler Indosat. Pesan pendek yang bermakna besar, karena ‘approved 2 site’ berarti disetujuinya pembangunan 2 site BTS (Base Tranceiver Station). Sebuah alat besar, lengkap dengan antena tingginya yang berfungsi untuk menjembatani perangkat ponsel dari suatu jaringan ke jaringan lainnya.

Hal yang tentu sangat diluar dugaanku. Sebelumnya aku fikir saat aku membaca artikel dari mas Arif Lukman Hakim, seorang guru muda yang ditugaskan di Karas, Fak-Fak, Papua di blog keroyokan Kompasiana yang menceritakan betapa susahnya masyarakat ditempat pak guru Arif mengajar mendapatkan sinyal telefon seluler. Artikel yang kemudian aku kirimkan kepada para pihak dan pejabat Indosat. Sempat jantung mpot-mpotan saat tahu bahwa informasi yang aku masukan sedikit terlambat karena sudah akan berakhir program CSR (Corporate Social Responsibility) nya di tahun 2011 ini.

Belum lagi beberapa pertanyaan tentang lahan dan warga yang bersedia membantu menge-lap panel listrik tenaga surya untuk BTS yang konon memakai type khusus untuk daerah terpencil. Ditambah lagi informasi soal biaya pembangunan tiap satu BTS yang mencapai angka milyaran rupiah. Sudah, makin putus asa saja rasanya.

Namun, malam ini siapa yang sangka. Ternyata Indosat mendengar jeritan warga distrik Karas, Fak-Fak Papua. Tidak tanggung-tanggung, 2 BTS sudah disetujui untuk dipasang dan diinstal di Distrik Karas dan Kampung Tarak. Hmm, serasa ini kado yang harganya milyaran rupiah dari Indosat yang kudengar dari berita jika pelanggannya kini sudah mencapai 50 juta.

Ah, terbayang sebentar lagi ku bisa teleponan dan sms-an dengan pak guru Arif dan masyarakat Karas disana. Tak perlu lagi kini menelefon penyiar RRI Fak-Fak hanya untuk meminta tolong mengirimkan kabar ke pak guru Arif seperti sebelumnya. Dan ponselpun disana akan kembali kepada fungsi utamanya yaitu telefon dan SMS, bukan pemutar musik MP3 dan main games saja. Yang konon dari cerita pak guru Arif, walau tiap rumah disana sudah punya rata-rata 2 ponsel tapi memang begitulah saja fungsinya.

Waduh, ini sama artinya membeli kulkas dan dipakai sebagai lemari pakaian karena tidak adanya listrik. Cuman bedanya, ponsel warga disana tidak ada SIM card di slot kartunya.

BTS

.....

“Jadi kapan BTS nya jadi pak?” tanyaku mengejar

“Paling lambat akhir Februari 2012 Insya Alloh mas sudah bisa nyala sinyalnya” jawabnya ditelefon

“Kok lama amat? Gak bisa cepetan lagi?”

“Ya kita harapkan kontraktor pelaksana bisa bergerak cepat mas. Kalau mereka bergerak cepat bulan Desember tahun ini juga bisa selesai”

“Gak bisa November depan pak?”

“Jangankan November mas, besok pagi juga bisa kelar mas. Tapi kalau pekerjanya jin lho ya... bukan manusia!” Jawabnya diseberang.

“E....”

[Hazmi Srondol]

Note:

1. Tulisan pak Guru Arif perihal Pembangunan BTS dari sudut pandangnya :-) --> Berita Panggilan Untuk Nusantara

2. Berita dr ANTARA Manado perihal BTS di pulau Karas, Fakfak, Papua Barat :-) --> Indosat Hadir di Karas dan Kampung Tarak Papua Barat

Posting Komentar
Don't Miss