Buku: Antara “SUBWAY” ala Novel Ouda Saija dan MRT Jakarta

Oleh:   hazmi SRONDOL hazmi SRONDOL   |   04.01
Tepat sesaat kendaraan yang aku kemudikan berjalan tidak lebih dari 1 km dari rumah, mendadak aku menerima pesan pendek di Blackberry dari istriku. Pesan yang sangat mengejutkan, pesan yang ternyata kabar datangnya sebuah surat dari Amerika tepatnya dari Chicago.

Langsung saja aku menelepon balik dan menanyakan siapa gerangan pengirimnya dan apa isinya.

Diseberang telefon istriku memberi kabar jika ternyata isinya adalah sebuah buku berjudul “EVIL EYES ON THE SUBWAY” karya sahabatku nun jauh disana, Om Ouda T. Ena yang sering aku panggil 'prof Ouda' karena aliran tulisan flash fiction yang berbentuk sebuah cerita pendek yang tak lebih dari 500 kata.

Cerita yang digarapnya selalu meninggalkan bekas memori dan imajinasi yang jauh lebih panjang dari kata-katanya. Khas garapan orang ber-itelejensi tinggi ala profesor-profesor di kampus-kampus perguruan tinggi. Andaikan saja tidak ada janji Kopdar di TIM dengan teman-teman  sebelumnya, tentu aku sudah berbalik arah dan kembali ke rumah untuk segera membaca kumpulan cerita pendek ini.

Eit, jangan berprasangka kalau aku menulis kata-kata diatas hanya untuk menyenangkan hati sahabatku ini. Tapi memang ada hal yang membuat aku memang sangat membutuhkan cerita tersebut. Hal tersebut adalah soal kata SUBWAY di judul sampul buku itu.

Sudah bukan rahasia lagi memang aku termasuk anggota 'roker' Bekasi alias rombongan kereta KRL sebagai sarana transportasi utamaku menuju ke kantor. Sudah begitu, sudah setahun terakhir aku terlibat dalam proyek relokasi utilitas jaringan fiber optik kantorku yang bersinggungan dengan proyek MRT Jakarta alias Mass Rapit Transport yang merupakan proyek subway pertama di Indonesia.

Dimana proyek tersebut merupakan proyek pemerintah pusat dan pemerintah daerah dengan pembiayaan dana-nya sebagian besar dari Jepang (JICA) dengan skema Special Term for Economic Partnership (STEP).

Dalam berbagai seminar dan meeting koordinasi yang aku ikuti perihal ini, aku sering menerima paparan baik berupa file cetak maupun video yang menggambarkan pembangunan tahap 1 (Lebak Bulus- Bundaran HI)-nya yang sepanjang 15, 7 Km dengan bagian bawah tanahnya sekitar 5,9 Km. Dan panjang ini seperrtinya akan di perpanjang sampai Stasiun Kota jika pembangunan tahap 1 nya tidak menemui banyak masalah.

Nah, dari beberapa paparan tersebut membuatku sering berandai-andai atau membayangkan bagaimana kirannya suasana dalam stasiun dan kereta subway tersebut. Walaupun pernah merasakan sedikit pengalaman naik kereta subway di luar negeri, tapi rasanya masih belum memuaskan. Terlalu sedikit sudut pandang yang aku lihat.

Dan di novel ini, aku menemukan kepuasan tersendiri. Banyak istilah-istilah tentang kereta subway aku temukan dari nama stasiun seperti Roosevelt Station, Chichago station, Red line train station, Filder Street Station atau istilah lain seperti subway tunnel dan lain sebagainya.

Belum lagi memang setting beberapa ceritanya banyak yang berlatar belakang suasana baik stasiun maupun di dalam kereta subway itu sendiri. Sekali lagi, langsung terbayang jika kata-kata didalamnya adalah Senayan Station, Istora Station, Bendungan Hilir Station dan lain sebagainya.

Bahkan lebih gawatnya, aku mendadak juga membayangkan kisah asmara nyata di subway New York dimana ada seorang ahli design web bernama Patrick Moberg dari Brooklyn yang jatuh cinta pada pandangan pertama pada sosok gadis cantik yang ia temui di kereta subway Manhattan dan sayangnya dia kehilangan jejak dan untuk menemukan sosoknya dia menyebarkan sketsa gadis tersebut di internet.

Ajaib, dalam waktu 48 jam, atas bantuan email, chat dan telefon dari warga New York akhirnya gadis itu dapat di temukan. Ternyata gadis berambut pirang itu adalah Camille Hayton dari Melbourne, Australia.

Nah, jadilah kisah mereka disebut sebagai kisah “Romeo Bawah Tanah” yang sangat terkenal di dunia maya abad ini.

Kembali kepada soal buku Prof Ouda ini, gambaran lain kisah di sekitar subway banyak terwakilkan dan tentu saja kisah-kisah didalam buku ini bakal menginspirasi penulis lain dalam mencari setting latar belakang cerita baik fiksi maupun non fiksi jika MRT 'subway' Indonesia sudah selesai pembangunannya. Tentu dengan cita rasa ala Indonesia.

Termasuk juga aku sendiri. Jadi, siapa cepat dapat. Hehehe...

Namun begitu, dibalik kehebatan buku ini, terdapat juga sedikit kekurangannya. Kekurangannya adalah soal bahasa, maklum saja semuanya berbahasa Inggris. Dan untuk peraih nilai TOEFL pas-pasan asal sesuai standar masuk kerja sepertiku, perlu sahabat lain dalam membaca buku ini yaitu kamus dan tentu saja mbah google translator. Heheheh...

[Hazmi Srondol]

Posting Komentar