Sumpah Celana Dalam

Oleh:   hazmi SRONDOL hazmi SRONDOL   |   01.24



Ding!

Hmm, aku melirik kedip merah di Blackberry ku yang kusimpan dikantong saku depan. Tanda sebuah pesan pertanyaan dari istriku lewat BBM. Pertanyaan yang rada aneh.

“pak, coba perhatikan di fesbuk, YM ama BBM. Ada gak yang nulis status tentang warna?”, tanyanya di layer.
“ntar, lihat dulu”, jawabku.

Didalam rapat itu, aku sempat-sempatin melihat update status di fesbuk, YM maupun BBM. Betul, banyak sekali hari ini yang statusnya hanya berupa warna. Ada yang memakai bahasa Inggris, bahasa Indonesai, bahasa Jawa, bahasa Sunda, sampai bahasa Alay (anak layangan alias gaul kampong… hehehe)

“ada bu, banyak”, balasku lagi.
“apa aja pak?”, Tanya istriku.

Aku jawab,

Ratih Asnawati , status, “Biruuu…”
ErNa cIntya Kmuh, status, “pInkY-PinKy.”
Asmarandani Piyatno, status, “Krem”
Ceuceu Manies Geulis, status, “hejo”
Gadis Ndut BAnget, status, “skin brown”
Arin Macho Girl, status, “loreng”

Dan lain-lain dah.

“Emang knapa bu, kok pada kompakan bikin status warna?”, tanyaku heran.
“Nggak, warna yang mereka sebutkan tadi… hmmm”, jawab istriku nggantung.
“Apaan sih? Buruan, lagi rapat nih..!”, tanyaku makin penasaran.
“…itu warna celana dalam dan bra yang mereka pakai hari ini..”

Glek!

Leherku serasa tercekat.

“sekarang Underwear Day pak”, tambah istriku.

Uhuk! Hampir tersendak aku dibuatnya. Gila! Aneh-aneh saja perempuan-perempuan ini. Melalui pesan-pesan rahasia, ternyata para perempuan ini sedang ber-kode-kode tentang celana dalam dan bra yang mereka pakai. Beberapa mata sempat melirikku diforum rapat ini. Untung keadaan segera bisa diatasi. Aku pura-pura mencatat di buku agenda.

Pff…aku menarik nafas panjang sambil berfikir betapa mudahnya budaya barat yang nggak penting menular disini. Mbok ya budaya ngantrinya aja yang diadopsi gitu. Selaian itu, aku juga jadi teringat sumpah lamaku.

……………

“gimana Cem?”, tanyaku penasaran.
“iya, gimana, berhasil?”, si kacaminus yang pendiem tiba-tiba ikutan

Kami berlima mengerubungi Cemplon makin penasaran. muka cemplon tampak aneh, murung Dan tampak menyesal. Kami makin kebingungan. Ibu Kantin yang nunggu di warung kantin sekolah juga seperti binggung melihat sikap Cemplon yang aneh, biasanya dia punya joke-joke dan komentar nyletuk yang lucu. Kok tiba-tiba jadi pendiam begitu.

“wah, detektif kita sepertinya sudah kehilangan pamor, sudah nggak ahli”, kata Budi mulai memanaskan suasana.
“kowe gagal ngintip celana dalem si Delia yo Plon?”, tanyaku mendesak.
“Payah kowe Plon”, kesal Yudi.
“Opo sih! Aku sudah berhasil ngintip celana dalam si Delisa! Krem!”, teriak Cemplon mengagetkan kami.
“HAH! Kapan Plon? Serius” mendelik mata Joko.
“Trus kok mukamu jadi muka berak begitu? Harusnya kan seneng.”, heranku pada Cemplon.
“Lha coba kamu ikutan ngintip tadi, pasti kalian juga bakal mules”, jelas Cemplon.
“Aku tadi sempat seneng bisa ngintip, tapi setelah keintip, lha kok ternyata, celdam Delisa kolornya sudah “medok”, Wes jan, persis Indomi medok gitu!” Kata cemplon kesal.
“Ilang napsu makan aku”, lengkap Cemplon.

Tiba-tiba keheningan seperti menerpa kami, Joko meletakkan indomie rebus yang dipegangnya ke meja. Budi mendadak berhenti mengunyah mendoan di mulutnya. Dan aku tiba-tiba merasa kenyang.
Terbayang di pelupuk mataku indomie yang kelamaan direbus, lalu didiamkan sampai dingin. Indomi itu jadi “medok” mengembang seperti cacing. Dan terbayang juga kira-kira celana si Delia yang medok, karena karet kolornya molor.

Kami semua kena sindrom celana dalam kolor ‘medok” secara berjamaah. Siang itu kami bersumpah, kelak walau pakai baju dan celana murahan. Jerohan kami harus yang terbaik, jangan sampai ada bolongnya, apalagi sampai medok kayak indomi. Nggak lucu kalo tiba-tiba ada yg sakit mendadak kemudian di masukkan ke rumah sakit, pas dibukain dokter dan bidannya, dalam keadaan tanpa sadar tahu-tahu kita bangun dalam keadaaan cuman bercelana kolor medok. 

No Way!

Tak lama berselang, tampak si Delia berjalan lewat di depan kampus, adik kelas yang paling cantik ini tampak tampak berjalan dianggun-angunin serta di luwes-luwesin. Tebar-tebar pesona. Beberapa cowok seangkatannya Dan kakak kelas yang lain tampak tersenyum mencari celah perhatian, ada yang terang-terangan bersiul dan menggoda.

Tetapi, kami tiba-tiba saling berpandangan Dan… HUUEK!

………

“Underwaer Day dirayakan besar-besaran di Brazil lo pak”, tambahan pesan istriku.
“Mereka pada pakai underwear keliling kota”, jelas istriku.

Aku diam saja.

“pak”
“pak”
“pak”

Aku tidak membalas. Masih diam saja. Berharap budaya ini nggak menular disini.

[Bekasi, 2 Maret 2010]

Diposting juga di KOMPASIANA

Posting Komentar