Situs Porno Pertama

Oleh:   hazmi SRONDOL hazmi SRONDOL   |   21.25

“Internetnya di block Ndol,”, bisik Joe pagi-pagi.
“Hah, serius Joe?”, bisikku sambil mendelik.
”Coba cek”, kata Joe lagi.

Aku jadi penasaran sekali dan langsung buru-buru untuk membuka browser di PC kantor. lalu coba ketik ”www.google.com”. Buset, ternyata kata Joe benar, yang muncul cuman layar putih dengan tulisan:

…. Based on your corporate access policies, access to this web site http%3A%2F%2Fwww%2Egoogle%2Eco%2Eid%2F&type=dns&ISN=B28CEF79B158419BA478AE9FAAAB5668&ccv=130&cnid=966134&cco=US&ct=11 ) has been blocked because the web category “Search Engines” is not allowed……..



Makin penasaran, aku coba situs berita harianku “www.detik.com”. Hasilnya sama, di block juga karena termasuk katagori situs berita. Kemudian aku lanjutkan buat coba buka situs gaul Facebook dan blogging Kompasiana, sudah aku duga juga bakalan di block, tapi walau sudah tahu begitu tetep saja aku nekad pengen buka buat memastikan penderitaan. Hasilnya pas betul dengan dugaan, di blok. 


Aduuuh, aku jadi sediiih sekali.



Mosok perusahan telekomunikasi dan informasi tercanggih di Indonesia ini. Perusahaan yang notabene punya segala jenis lisensi jasa telekomunikasi ini kok tega-teganya malah membuat karyawannya bagai katak dalam tempurung.



Aku ngerti sih, kalo perusahaan pengen karyawan nya efektif dalam bekerja, menghemat bandwith dan bla-bla-bla. Tapi gimana mau bantu promosikan product internet broadband perusahaan jika situs-situs gaul kayak facebook, twitter dan blogging kompasiana juga ikutan di block? Bukankah pelanggan internet baru itu tumbuh karena situs gaul itu? Kenapa tidak coba meniru perusahaan tetangga atau politikus yang malah mewajibkan karyawan atau calegnya aktif di situs gaul buat mendongkrak pelanggan dan pemilih. Malu?

Tapi mo gimana lagi? Ini perusahaan orang, punya orang, bukan perusahaan punya engkong saya. Mau tidak mau, suka atau tidak suka aku mesti nurut dan pasrah. Daripada ntar juragan gede di pucuk perusahaan bilang ”cintai atau tinggalkan perusahaan ini!”… kan malah repot. Toh aku juga masih butuh cari sesuap nasi dan sepiring berlian disini.



Joe tambak tersenyum senyum kecil melihatku cemberut sambil melamun di depan PC.Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu. Takl lama dia mendekat dan berbisik:


”Wes Ndol, nggak usah cemberut, pakai jalur alternatif aja”, bisiknya sambil tersenyum.
”Males Joe, pakai modem USB. Lambat. Apalagi sekarang gara-gara di block semua orang akses keluar pakai usb modem, makin lambat deh.”, keluhku pada Joe.
“Tenang Ndol, minggir sono”, katanya sambil memberi kode agar aku menyingkir dari kursiku.



Joe lantas duduk dikursiku dan mengetikan sesuatu di PC ku. Emang rada lama, tapi kecepatan jarinya menari diatas keyboard seperti memberikan harapan kepadaku.



“Wes!”, kata Joe sambil tersenyum puas.
”Coba cek lagi”, katanya.



Langsung aku buka semua situs favoritku. Dari detik, Facebook, Kompasiana sampai (ups!) situs dewasa.



Hore! Aku mengangkat kedua tangan keudara. Puas dan senang. Kecepatannya pun 100Mbps. Kecepatan downloadnya juga dasyat!



Joe memang hebat urusan perkomputeran begini. Nggak salah dia dikantor dia jadi expert transmisi dalam dan luar negeri. Bangga juga punya temen seanggakatan sekolah seperti dia. Udah gitu selama 12 tahu ini, kami selalu sekantor bahkan pernah se-kamar kos bareng waktu masih bujangan.



”Ndol gayamu kayak dulu. Kita mengulang sejarah!”, katanya lagi.
Dan kamipun tergelak tertawa bersama. Kompak. Ingat sejarah 12 tahun yang lalu.



……



Sore itu ruang pak Bei sepi. Kami berdua coba cek. Aman.



Semua karyawan sudah pulang. Office boy juga sudah pulang. Mas Amo yang bawel bin nyelekit kalau ngomong juga sudah tidak jelas dimana. Hahahah. Ini saat yang tepat buat belajar Internetan.

Joe cerita kalau dia sudah bisa internetan. Tempat dia kerja praktek waktu sekolah di Surabayaada internetnya, jadi dia sudah mahir berinternet ria. Tapi, yang lebih bikin penasaran dia sudah pernah buka situs cerita dewasa. Wuiiiih, aku yang masih sangat muda saat itu langsung terbelalak. Penasaran dan selalu mengejar-ngejar Joe buat ngajarin internetan. Maklumlah, saat itu internet kesannya adalah dunia pornografi. Bukan seperti sekarang yang kesannya adalah facebook dan chattingnya buat anak muda. Sampai sampai handpone sekarang wajib banget ada 2 aplikasi tersebut. Kalau nggak, kesannya nggak gaul alias nggak online.

Namun situasinya saat itu sangat sulit, kami yang masih karyawan baru (kontrak lagi) masih segan bertanya dan meminjam komputer buat internetan. Paling selintas-lintas ngelirik dan mencuri-curi pandang ke monitor senior senior yang membuka internet.

Dan sore ini, di kantor kami yang tempatnya di ujung pantai utara Jakarta. Kami seperti menemukan kebebasan yang luar biasa. Komputer mas Amo sengaja belum dimatikan, aku pura-pura pinjam buat bikin laporan mingguan buat rapat hari senin. Joe duduk di kursi dan aku berdiri tepat di belakangnya.

Bagai seorang mentor kursus komputer, Joe mulai memberikan arahan cara berinternet.

“pertama, klik gambar huruf E bulet. Tunggu sampai hurup E nya berputar dan keluar lembaran internet”, kata Joe memulai.
”Iyo”, kataku sambil menganguk-angguk.
”Nah, ini sudah keluar halaman internetnya. Sekarang ketik ’www.yahoo.com’ di kotak kecil memanjang diatas ini.”, kata Joe sambil mengetik.



Waah, hebat sekali. Sepertinya halaman Yahoo pertama yang aku lihat itu tampak indah sekali. Seperti lukisan berwarna ungu dengan tulisan-tulisan yang tertata rapi. Oh, sepertinya aku sudah menembus dunia baru, dunia maya. Selamat tinggal ’Ndeso’, kataku dalam hati.



Joe ikutan tersenyum melihat wajahku yang melamun senang, dan aku lihat dia menuliskan sesuatu: 
’Cerita Seru Wiro’… di kotak yahoo tersebut.


”Apa itu Joe?”, kataku
”ini isinya keren, cerita keren”, jawabnya menahan senyum.
”Ogah ah, kalo isinya cuman cerita silat, Wiro Sableng lagi. Udah hapal Joe”, jawabku kesal.
”Bukan, tunggu bentar”, lanjutnya lagi sambil meng-klik deretan tulisan yang keluar dari Yahoo!.

”Tuuuh, lihat dan baca!”, kata Joe lagi.



Waaaaah, ternyata isinya cerita porno dewasa, bahasa indonesia lagi. Lebih keren daripada cerita di buku stensilan waktu SMP yang pernah membuatku dihukum guru BP karena ketahuan ikut-ikutan baca di pojok kantin dengan teman-teman se gank dulu. Belum lagi gambarnya, buanyak sekali. Saking girangnya, aku maksa Joe buat mencetak cerita di situs itu. Rencananya mau aku bawa pulang ke kos-kosan buat di baca di kamar.



“ayo Joe, cepet print! Print! Print!”, kataku mengejar.



Dan Joe pun menurut, tiba-tiba mesin printer diseblah PC itu berbunyi, berderit suara printer dan … kertas itu bergerak naik dengan tulisan yang mulai tercetak!



HOREEE!!



Kami berdua mengangkat tangan keatas, berjingrak-jingkrak merayakan kesuksesan membuka situs dewasa ini dan sekaligus mencetaknya. Kebahagiaan ini hanya bisa di tandingi dengan kebahagiaanku saat terjadi gol Bambang Pamungkas ke gawang Bahrain waktu menonton langsung sepakbola piasa Asia antara Bahrain dan PSSI di Senayan.



Disaat gerumuruh kebahagiaan di ruang pak Bei itu masih bergema, tiba tiba entah sejak kapan datangnya, ada pak Jion berdiri di pintu ruangan.


Langsung saja tawa kami tersekat di leher. Kami blingsatan tidak karuan. Aku coba tutupin layar monitor PC dengan punggungku. sedangkan si Joe tampak kebinggungan mengumpulan kertas cetak cerita dewasa itu sambil mencoba mematikan printer kuno yang suaranya berisik itu.

Gagal.

Kami makin panik.

“Pak Bei dah pulang?”, kata pak Jion, manager bagian sebelah.
“E.. E.. Sudah pak”, jawabku gugup.
“O… Yo wes”, kata pak Jion sambil membalikan badan dan ngeloyor pergi.
“Huff… Hampir saja”, kami langsung lemas sambil melanjutkan tawa. Tapi tawa kami sekarang cuman berkikik saja, cuman lamaaa sekali waktu tertawa cekikian itu.

…..

Sekarang pun kami juga terkikik menahan tawa, ingat kejadian itu. Oh ya, Pak Jion yang dulu membuat terkaget-kaget sekarang malah menjadi atasan kami di bagian kami sekarang.


Ajaibnya kehidupan, tiba-tiba juga pak Jion melonggokkan kepalanya sambil bertanya. Mungkin dia penasaran kenapa kami berdua tiba-tiba pada tertawa cekikikan pagi-pagi begitu.

“Ono opo tho Ndol?”, katanya dalam logat suroboyoan yang kental.
“Nggak ada apa-apa pak’, jawabku.

Kami makin melanjutkan tertawa.

Pak Jion makin binggung.

Heheheh

[Jakarta, 19 Maret 2010]


Diposting juga di KOMPASIANA

Posting Komentar