Sepatu Kembar dan Kentut

Oleh:   hazmi SRONDOL hazmi SRONDOL   |   21.30

“Bapak, aku minta parfumnya!”, kata thole di pagi hari.
“Buat apa mas?”, tanyaku heran.
“Aku mau kayak bapak, pakai parfum”.
“Hahaha, bagus nak, itu baru anak Bapak!”, kataku bangga sambil melirik istriku.
“Sebagai bapak yang baik, bapak harus memberi contoh selalu tampil rapi dan wangi. Biar mantap ke ketemu rekan dan kolega dikantor. Lihat thole, dia mewarisi karakter hebatku”, kataku bangga.
“Oke deeh!”, jawab istriku.


Setelah rapi, akupun duduk dikursi sambil mengambil sikat sepatu dan semir. Thole datang sambil membawa sepatu kecilnya. Kebetulan, model sepatunya sama. Sepatu PDH yang aku beli di pasar Senen. Sepatu yang paling nyaman yang aku punya. Made in Indonesia lagi.



Sedangkan yang lainnya menang mahal doang. Menang gengsi tapi kurang nyaman. Kalau punyaku, yang ukuran 42 dan yang kecil 28 buat thole sekolah. Walau berbeda ukuran, ada yang aneh. Harganya sama semua, masing-masing 85 ribuan rupiah.

“Aku mau kayak bapak, sepatu disemir!”, pinta thole kemudian.
“Hahahah, bagus nak, itu baru anak Bapak!”, kataku bangga sambil tak lupa melirik istriku.
“Sebagai bapak yang baik, bapak harus memberi tauladan ber-penampilan yang baik. Sepatu bapak juga harus mengkilat. Berapapun harganya, kalau mengkilat, lebih mantap jalannya. Lihat thole, dia mewarisi karakter hebatku”, kataku lagi dengan bangga.
“Oke deeeh”, jawab istriku sambil membawa secangkir teh hangat.


Kemudian kamipun melanjutkan kegiatan kami masing-masing, aku berangkat kerja, thole berangkat sekolah Playgroup dan istriku ke kios garasi rumah ngurusin bisnis laundri kiloan kami.
Pagi yang luar biasa.

…………..

“Assalamualaikum!, bapak pulaaaaang maaaas!”, teriakku di depan pintu rumah.
“Wa’alaikum salaaam, bapak bawa apa?”, tanya thole menyambutku dengan riang.
“ini, bapak bawain telur asin bakar oleh-oleh temen bapak”, jawabku sambil menyerahkan kotak telur yang paling ditakuti telor yang lain.

Satu-satunya telor yang ber-tatto didunia, tatto bertuliskan “Telor Asin Brebes”.
Setelah beres-beres dan mandi, aku ke kamar buat sholat Isya sebentar. Sedangkan anak, istri dan pembantu berkumpul duduk di karpet menonton TV.

Selesai sholat, aku keluar kamar dengan hati-hati. Pintu aku buka pelan-pelan agar tidak terdengar bunyi decit engselnya yang sudah mulai karatan. Nah, saat perlahan buka pintu aku mendengar suara letupan yang sangat keras..

“DUUUUUT”

Naik darahku, aku lihat istriku cengar-cengir.

Sebagai kepala keluarga yang baik, hal ini tidak boleh dibiarkan, harus segera diberi teguran!

“Siapa yang kentut! Tidak sopan sekali!”, teriakku menatap tajam sang tertuduh, istriku.
“UGH! Pffft! Bau lagi, sangat-sangat tidak sopan Ibu! Suami pulang kok disambut dengan ketidak pantasan, tidak menghargai suami itu namanya. Subversif….!!”, lanjutku marah demi menjaga harga diri keluarga.

“Yee, kok Ibu yang dituduh”, sangkal istriku membuat pledoi pembelaan.
“Loh, siapa lagi?”, kataku menyerang.
“Mas Thole tuh”, kata istriku menunjuk thole yang asyik menonton TV.
“Ah masa si mas? Keras dan bau seperti orang dewasa gitu”, kataku tak percaya.
“Yaah, kalo gak percaya tanya aja sendiri”, jawab istriku santai.
“Bener mas yang barusan kentut?’, tanyaku perlahan dan di lembutkan agar thole jujur menjawab.
“Iya bapaaaak! Keras ya pak bunyinya?”, jawab thole dengan polos.

Rasanya ada aliran hangat ke arah wajahku, panas sampai ke telinga, Sepertinya mukaku mulai berwarna merah. Malu.

“Hahahah, bagus nak, itu baru anak Bapak!”, kata istriku tak kuat menahan tawa.

Nyindirrrrr!!!!

[Bekasi, 19 Maret 2010]
Diposting juga di KOMPASIANA

Posting Komentar