Presiden Dilarang Mendengkur!

Oleh:   hazmi SRONDOL hazmi SRONDOL   |   03.41














“Bapak!”, tanya anakku tiba tiba.
“Ada apa?”, jawabku malas-malasan.

Heran, sepagi ini kok thole sudah bangun, adzan subuh saja belum berkumandang. Thole tampak terus memandangi wajahku yang kusut, maklumlah, namanya juga nyawanya belum kumpul.

“Knapa bapak tidurnya mendengkur?”, tanyanya lagi.
“Karena bapak kecapaian kerja mas, kan baru sampai rumah jam 11 malam. Mas nggak tahu, wong mas udah bobo pas bapak pulang”, jawabku mencoba menjelaskan.
“Oo, begitu ya pak”, katanya.
“Iya”, jawabku pendek.

Aku lalu beranjak ke ruang tamu, sekilas aku lihat istriku sedang memindahkan cucian londri nya dari mesin pengering gas nya. Aku juga heran, jam berapa dia bangun? Kok sepagi ini sudah keringetan begitu. Assistennya juga tampak sudah memasukan beberapa baju ke keranjang sesuai nama-nama pelanggan. Aku clingak-clinguk mencari sesuatu. Gak ketemu. Terpaksa pakai jurus ‘voice command’ alias perintah jarak jauh ke istriku.

“Kopi mana bu?”, tanyaku.
“Tuh, dah di meja” jawabnya singkat sambil terus bergerak mencet-mencet tombol pengering bajunya yang aku nggak paham fungsinya buat apa.

Hmm, kopi AAA dari jambi ini memang luar biasa nikmatnya, untung mertuaku sering membawakan kopi ini kalau menegok cucunya. Pokoknya, kalau sudah nyoba kopi ini, kopi sachetan dari warung Uda lewat dah.

 “Srrup… !”, hmm nikmat.

 ….

 “Bapak nggak boleh kerja!”, tangis anakku suatu pagi.


” Loh knapa? Bapak kan mesti berangkat kerja. Kalau nggak kerja, bapak mesti bayar pakai apa cicilan rumah, mobil, ama bayar sekolah mas?” Jawabku coba menjelaskan.

“Belom lagi kita mesti bayar telefon, internet, blackberry, indovison dan jajan mas..”, tambahku.

“Bapak mengerti, kamu sedih bapak kurang waktu bermain dengan kamu mas, tapi mengertilah nak, ini semua buat kamu dan kita sekeluarga”, jelasku sok bijak sambil tersenyum.
Terbayang betapa anak-anakku ini sangat mencintai dan menyanyangiku, sampai-sampai dia tidak rela di tinggalkan sejenak oleh bapaknya buat bekerja.

Rasanya, pagi ini aku adalah bapak terbaik di dunia.

Dan kalau sudah begini, rasanya aku pantas mencalonkan diri sebagai Presiden atau anggota DPR. Wong mengutip kata seorang ustadz, ‘pemimpin sejati itu teruji di rumah, jika dirumah juga dianggap hebat oleh keluarganya maka hebatlah pemimpin itu dalam keseluruhan. Karena kepemimpinan di rumah adalah kepemimpinan paling nyata, tanpa kemunafikan, tanpa basa-basi dan dibuat-buat’.

Bahkan cerita ustadz itu, banyak pejabat yang tampak hebat dan sukses didunia politik namun di rumah seisi rumah selalu menertawakan statement-statemen hebatnya di media massa atau panggung politik. Nggak nyambung antara kata-kata dengan kelakuannya terhadap istri dan anak-anaknya di rumah.

Hmm, dadaku makin membusung tegak. Aku melihat anakku mulai melunak wajahnya.

 “Iya deh, tapi nanti bapak pulang nggak boleh main sama Pus-ku”, katanya.


“Aku juga nanti nggak ngajak  Pus main lari-larian lagi”, tambahnya.
“Loh emang knapa mas? Pusnya nakal yah? Nyakar atau gigit mas?”, tanyaku binggung.
“Bukan, aku nggak mau pus-ku nanti kecapaian dan tidurnya jadi mendengkur kaya bapak”, jawabnya.
“Lha trus knapa kalau mendengkur?”, tanyaku keheranan.
“Ntar aku ama ibu nggak bisa bobo, bapaaak!”, jawabnya ketus.

Aku jadi cuman bisa ketawa mringis. Ternyata aku cuma ke-ge’er-an saja.

[Bekasi, 17 Maret 2010]

Diposting juga di KOMPASIANA

Posting Komentar