Responsive Ad Slot

Latest

Sports

Gossip

Covered

Jurus Anti Ngobrol

Selasa, 13 Juli 2010




“Ngger, kamu tahu knapa Gusti Alloh menciptakan dua telinga dan satu mulut?”, tanya almarhum ibuku sewaktu kecil dulu.
“mboten bu”, jawabku.
“Gini ngger, itu tandanya Gusti Alloh menyuruh kita banyak mendengar daripada berbicara”.
“Ngerti maksudnya tho ngger?”, tambah beliau mempertanyakan pemahamanku.
“Mboten bu”, jawabku lagi.
“Orang pinter omong kuwi banyak, tapi yang pinter ndenger itu sedikit. Lihat itu pak Lurah, waktu meninggal banyak yang sedih dan melayat. Bukan karena pak Lurah orang sugih, bukan juga orang pinter kayak profesor. Pak Lurah itu cuman pinter ndenger, ngerti apa masalah orang. Kowe mesti niru yang begitu ngger”, titah beliau.
“Wah ya susah, gimana caranya ibu?”, tanyaku.
“Gampang, saat orang berbicara, dan kamu ndilalah pengen nyela, gigit saja lidahmu sedikit. Pasti kamu jadi bisa nahan omongan, dan kupingmu langsung kebuka ndenger omongan orang. Gampang tho ngger?”, jelasnya.
“Inggih kanjeng ibu, sendiko dawuh”, kataku mengakhiri.

……….

“Oh, jadi bapak sudah lama jadi pejabat disini pak?”, tanyaku.
“Oh iya, saya ini sudah bla…bla…bla”, jawab pak pejabat 15 menit lamanya menjalaskan sejarah karirnya.
“O gitu, kalo anak bapak berapa? Kuliah atau sudah nikah?”, tanyaku.
“Anak saya cuman 2 mas, kita kan ikut KB, anak saya yang gede kuliah di bla..bla..bla… Juara bla..bla..bla..”, jawabnya penuh kebanggaan.

Lumayan cuman 12 menit.

“Anak saya yang kecil masih SMU tapi mas, waaah… hebat sekali dia… rangking bla..bla…bla…”, jawabnya.

Pfff.. 23 menit

“Kalo istri saya, bla..bla..bla…”, sambungnya tanpa kutanya.

Sial, 1,5 jam nerocos.

Ditambah 30 menit lagi cerita kehebatan dia menaklukkan cewek-cewek sewaktu dia kuliah.

“Duh, kanjeng ibu, kenapa begini? anakmu sudah melaksanakan titah ibu sampai lidah ini kebal kena gigit sendiri, mengapa orang kok kalo pada ngomong lama betul, kapan berhentinya?”,bathinku dalam hati. Ingat pesan almarhum kanjeng Ibu.

…..

“Gimana neh pak cara menyetop orang bicara?”, tanyaku ke pak Bambang, seniorku yang aku lihat juga sering meeting dengan para pejabat dan kayaknya tidak ada masalah dengan hobi ngobrol mereka.
“Menyetop bagaimana to mas Srondol?”, tanyanya pengen tahu.
“Ya gitu pak, saya memang ngerti sih, kita mesti bisa denger orang bicara, apalagi sama bos, pejabat dan pelanggan kita, cuman kadangkala saya kan pengen juga ngomong yang secukupnya, kan ada perlu yang lain juga”, curhatku
“Belum lagi ngmongnya suka gak penting-penting, trus…”
”Eh maaf mas Srondol!”, kata pak Bambang menyodorkan telapak tangan kirinya seperti orang menyetop mobil sambil tangan kanannya mengambil HP disakunya.
”Oh iya pak, bisa-bisa, sekarang? Ok-ok, saya segera naik ke lantai bapak”, kata pak Bambang dengan seseorang di Hpnya. 

Sepertinya dirut memanggilnya. 

Oh, kerennya.




”Maaf mas Srondol, saya mesti naik ke atas, pak dirut memanggil”, katanya.
”Oh nggak papa pak, silahkan..”, jawabku masgul, sedikit kecewa dengan pertanyaan yang belum beliau jawab.

Pak Bambang membalikan badan dan berjalan 3 langkah. Tiba-tiba dia berhenti. Lamaaaa…. sekali. Adalah sekitar 10 detik.

Aku binggung dengan sikap pak Bambang.

Namun tiba-tiba beliau balik badan sambil tertawa lebar.

”Gimana mas Srondol, mujarab kan jurus saya? Dijamin efektif buat menyetop pembicaraan orang. Tanpa sakit hati lagi. Iya toh? Hahahaha”, jawabnya puas.

Akupun ikutan tertawa. Kena juga di kerjain pak Bambang. Tapi sumpah aku tidak marah, malah senang dapat jurus menyetop pembicaraan orang.

”Jadi cuman pura-pura angkat telpon dan dipanggil dirut aja ya pak? Hahahah. Mudah sekali ternyata pak Bambang. Keciiiiiil!” kataku puas sambil menjentikan jari kelingking serta tak lupa mengucapkan terima kasih atas jurus dari pak Bambang.

…..

Siang itu aku mengikuti rapat dengan lebih gembira, apalagi dengan bekal jurus dari pak Bambang, tak ada lagi yang bisa menahanku untuk ngobrol ngalor-ngidul lagi.

Selesai rapat ditutup, aku berdiri dengan mantap dan keluar dari ruang rapat. Sepertinya langkahku enteng sekali. Hmmm, mungkin gagah kali tepatnya. Heheheheh.

“Mas Srondol!”, teriak pak pejabat.
“Iya pak, ada apa?” jawabku sambil tersenyum, membayangkan sebentar lagi aku akan mengeluarkan jurus pamungkas andalahku. 

Aku terkekeh dalam hati.

“Begini, saya kemarin ke bengkel, waaah, mercy saya rusak trus bla…bla..bla…”
“Padahal itu mercy masih baru, enakan mercy yang lama, bla…bla…bla…”, katanay nerocos menceritakan koleksi mobil mercynya.
”Eh maaf pak Pejabat!”,kataku sambil menyodorkan telapak tangan kiri seperti orang menyetop mobil sambil tangan kanan mengambil HP disakuku.

Jurus dari pak Bambang mulai dibuka

”Oh iya pak dirut, bisa-bisa, sekarang? Ok-ok, saya segera balik ke kantor menemui bapak”, kataku.

Jurus lanjutan diluncurkan.

”Maaf pak Pejabat, saya mesti balik ke kantor buru-buru, pak Dirut memanggil”, katanya.
”Oh nggak papa mas, silahkan..”, jawab pak pejabat dengan tatapan mata kosong.

Berhasil! Yeah!

Akupun membalikkan badan meninggalkan pak pejabat. Senang rasanya jurus ini bekerja dengan baik. Sekitar 5 langkah tiba-tiba Hp-ku berdering. Keras sekali. Sound nomer 5 kayaknya.

”Oh iya bu, ntar bapak kirim, tenaaaang, ada kok duitnya”, kataku dengan istriku di telefon yang meminta ditransfer uang buat beli daging, mo bikin rendang favoritku rencananya. Asyiiik.

Selesai menutup telefon, tidak sadar ada seseorang mencolek punggungku. Aku menengok,
Ups ternyata pak pejabat yang mencolek punggungku dengan tatapan mata geram, marah yang ditahan.

”Mas, kok Hpnya bunyi? Perasaan tadi waktu terima telepon dari dirut sampeyan nggak ada bunyinya deh, Nggak suka yah ngobrol sama saya!!”, katanya dengan mata melotot.

ALAMAK!

Knapa pak Bambang nggak bilang HP nya mesti disilent dulu???

[Jakarta, 22 Maret 2010]

Diposting juga di KOMPASIANA
Posting Komentar
Don't Miss