Responsive Ad Slot

Latest

Sports

Gossip

Covered

Gundik Tjap Riyal

Minggu, 11 Juli 2010

Sudah beberapa bulan istriku menunggu kembalinya seorang karyawan laundry andalannya. Karyawan yang pertama kali datang dari Purwodadi hanya berniat sebagai PRT di rumah kami, namun melihat potensinya oleh istriku dididik alih fungsi menjadi karyawan laundry. Dari produksi, administrasi sampai angkat telepon pun diajarkan. Bahkan pencatatan dan pengaturan karyawan lain seperti kurir, cuci, pengeringan dan setrika sudah mulai mampu di handle dengan baik. Walau ada sedikit kesalahan, kesalahan tersebut masih bisa dimaafkan dan dituntaskan istriku. Tentu saja dengan segala kontribusinya, standar gaji dan bonusnya dia pun berbeda dengan yang lainnya.


Anak kampung yang sewaktu datang berbaju model semarak nDangdut, serba maksa. Pelan pelan dirubah. Baju model anak seumurannya pun dibelikan oleh istriku. Sesuatu yang amat mudah baginya yang sangat hapal setiap sudut pasar Tanah Abang. Harga terbaik (murah dan bagus) selalu didapatkannya untuk merubah pasukan laundrinya. Sedikit-demi sedikit, anak kampung itu mulai berubah. Walau tidak mewah, tapi dari segi kepantasan sudah bisa dibilang bergaya Kota.


Lewat seminggu lebaran, Indah belum balik. Beberapa kali di telp dan sms tidak ada jawaban. Tampak wajah istriku mulai murung dan kecewa. Aku tidak bisa apa-apa kecuali bilang ”udah bu, cari gantinya yang baru saja”.

Istriku mengangguk saja, pasrah. Walaupun aku tahu ini sulit apalagi harus mendidik karyawan baru dari nol lagi, but bussines still must go on.

…………..

”ah yang bener pak!?” tanyaku tidak percaya.
”Lah, mas TKI itu aja berani nantang sumpah poncong kepada TKW di arab kalo bener dia nggak diapa-apain majikannya disana.”
”trus berani gak TKW nya di sumpah?” tanyaku penasaran
”Kebetulan kebanyakan nggak ada yang berani pak’”, jawabnya semangat.

Pff…

Aku menghela nafas yang panjang, ngeri mendengar cerita pak gendut supir taxi BlueBird yang polos ini. Hampir tidak masuk akal, tapi wajah dan bahasa polosnya memaksa aku percaya.

Sebenarnya aku tidak bermaksud membahas perihal TKW ini sebelumnya, wong sebenarnya tadinya aku cuman basa-basi saja menanyakan perihal keluarganya, sejarah karir nyopir taxinya, anak-anaknya dan istrinya hanya biar ada alasan biar ada alasan lebih enak buat ngrokok didalam taxinya.

Tapi entah mengapa pembicaraan malah menjurus dia dan istrinya yang sepakat hidup seadanya daripada menjadi TKW di arab sana. Dia sudah banyak mendengar cerita dan obrolan penumpangnya di taxi. Betapa perlakuan majikan di arab sana sangat kelewatan.


Katanya para pembantu merangkap jadi gundik disana. Bahkan yang lebih mengerikan, anak-anaknya turut berpartisipasi menggarap para pembantu itu di rumahnya. Belum lagi cerita betapa wajar apabila teman majikannya melihat pembantu tersebut dan tertarik maka temen tersebut boleh membawa pulang pembantunya dengan ongkos peminjaman yang sesuai bagi majikannya.

”lha yang cowok gimana pak?” tanyaku tambah penasaran.
”Bapak pernah denger TKI arab pulang nggak bawa duit” tanyanya balik.
”belum pak”
”Nah kalo cowok sebagian ada yang juga begitu pak, cuman yang makai kumpulan ibu-ibu nakal disana

”……………..”, aku melongo saja
”Nah pas mereka minta gaji, nggak diberi, cuman di jawab: ”udah mending dapat enak kamu disini” jawabnya.

”itulah pak kenapa kebanyakan TKW di arab kontraknya 2 tahun, lha wong kawin kontraknya emang cuman selama itu” pak gendut menjelaskan lagi.

Edan, segala sumpah serapah dan binatang keluar dalam hati. Ternyata budaya perbudakan bagi mereka belum berakhir. Pembantu yang di Indonesia naik derajat jadi asisten dapur bahkan undang-undang baru malah makin melindungi PRT di Indonesia dengan persyaratan gajinya minimal setara UMR ini malah di perlakukan tak ubahnya istri-istri kontrak seperti yang sering terdengar di daerah Puncak sana.

Tak heran akhirnya aku berfikir kenapa Nabi Muhammad di tugaskan menjadi Rasul terakhir mesti di tanah arab sana. Mungkin memang budaya arab saat itu sangat luar biasa bobroknya. Terbayang jelas betapa berat tugas Nabi Muhammad waktu itu…. hiiiiiiii……….

’masih mending jadi TKW di hongkong mas, gajinya gede, bisa 13 jt-an sebulan, se edan-edannya paling-paling jadi lesbian saja. Tapi itu kan cuman pilhan, bukan paksaan kayak di arab sana.’
’bahkan kalo di Malaysia, walau ada kasus kekerasan, ternyta TKI nya malah banyak yang jadi preman di pasar Seni Kualalumpur lo pak.’ tambahnya.
’genk preman itu namanya ’bocahe dewe’ pak’ jelas pak gendut lagi…

Aku diam, sibuk dengan pikiranku sendiri yang campur aduk.

……..

Sampai dirumah anakku menyambut dengan ceria, walaupun sebenarnya badan ini lagi capek minta ampun. Aku paksakan bibirku untuk tersenyum lebar sambil berjongkok membuka tangan lebar-lebar menagkap Thole yang hendak minta di peluk. Aku tidak mau mengecewakan anakku dengan wajah kusut.

Biarlah aku jadi bahan suruh-suruhan thole, yang penting aku bisa melihat lengkungan garis dibibirnya. Garis senyuman jahilnya ketika pulang kerja.

Didalam rumah, sambil mengendong dedeknya thole istriku tiba-tiba cerita kalau dia sudah mendapatkan kabar tentang si Indah.
”Indah sekarang ngurus adik-adiknya pak” cerita istriku.
’Katanya bapak dan emaknya bertengkar pas lebaran, emaknya pengen rumahnya bagus dan pengen punya sawah sendiri pak’
”lha emang darimana duitnya?” tanyaku heran
’Ya emaknya indah mau berangkat jadi TKW pak.’ Jelas istriku.
”Kemana emangnya ?”

’Arab pak’

WHAT !!!!



[Bekasi, 18 Februari 2010]

Diposting juga di KOMPASIANA
Posting Komentar
Don't Miss