Cara Sholat Tanpa Sarung

Oleh:   hazmi SRONDOL hazmi SRONDOL   |   03.30

“Si Mambo habis kebanjiran” kata Eka sambil berbisik kepadaku.
”hah? Rumah Mambo kan di Serpong, emang daerah situ bisa kebanjiran?”, tanyaku keheranan.
”Lha liat aja celananya nanti, cingkrang 1 jengkal tangan”, kata Indo sambil menahan tawa.

Aku nggak paham arah pembicaran mereka. Kami semua saat itu sedang berkumpul buat berbuka puasa sekaligus melanjutkan pembahasan rencana reuni akbar. Reuni ini sebenarnya idenya di munculkan dari si Mambo. Semua terprovokasi oleh kemauan dan keinginan dia. Aku tahu itu baik, karena reuni adalah bagian dari menyambung silaturahim dan menyambung silaturahim adalah salah satu membuka pintu rejeki.

Cuman yang menyebalkan adalah ketika ide reuni akbar di setujui dan disepakati oleh kami dan saat kami harus berkerja mengumpulkan data seluruh alumni sekaligus rencana pendapatan dananya, tiba-tiba sang provokator ini menghilang entah dimana. Isyunya dia pergi ke pulau Bintan untuk berkerja disana. Benar-benar seperti dikerjain habis-habisan kayak sekolah dulu. Tak terasa 8 bulan sudah kami rindu sekaligus kesal kepadanya. Apalagi saat itu organisasi, data alumni dan dana sudah terkumpul. Bahkan pelaksanaan reuni tinggal 2 bulan lagi.

”Si Yono saja kalah panjang sekarang jenggotnya”, cerita Yatna memecah pembicaraan reuni yang serius.

”Kelebon (kemasukan) Jin Muslim kayane”, timpal Eka sambil terkekah.

Aku jadi penasaran.

Sampai lewat waktu berbuka, Mambo belum datang. Ba’da mangrib, Mambo belum juga datang, akhirnya kami melanjutkan pembahasan reuni di meja cafe itu lagi dengan serius. Sampai lewat waktu Isya dan si Eka tiba-tiba mencolek lenganku sambil matanya memberi kode agar aku melihat arah lirikannya.

”Masya Alloh…”, gumanku lirih penuh ketakjuban sekaligus menahan ketawa.



Kami semua seperti tersihir menatap penampilan baru si Mambo, langkahnya masih tegap seperti 8 bulan yang lalu saat meninggalkan kami. cuman bedanya, sekarang agak kurusan, baju model gamis, celana cingkrang, pakai kopiah dan… ck..ck..ck..jangutnya itu loh, nggak nguati. Secepat itukah berubah? Hahahah.

”wes, bubar-bubar!, Sholat dulu!”, kalimat pertama yang terucap dari bibir Mambo mengagetkan kami.
”Halah, ntar-ntar aja, toh udah ketinggalan tarawihnya”, kata Toni menghindar.
”Dirumah juga gak papa, toh sholat isya dan tarawih kan waktunya panjang”, timpal Eka.
”Gak papa keinggalan tarawih sebentar, utamakan jamaah”, balas mambo sengit.
”wah Mbo, kamu kok maksa-maksa tho? Kamu ikut aliran Tabligh ya?”, tanya Indo.
”Nggak, aku Islam”, jawab Mambo.
”Atau Salafi? Kalo dari model celana dan gamis sama dalil-dalilmu pasti Salafi”, sambar Eka yakin.
”Nggak, aku Islam”, timpal Mambo lagi.
”Halah, nggak usah menghindar Mbo. Kalo nggak Tabligh, berarti Ihwanul Muslimin atau nggak Tarekat Tasawuf ya?”, tambahku lagi.
”Nggaaaaaak! Aku Islam!!”, kesal Mambo.

Kami ngakak puas memancing emosi Mambo, biar keliatan aslinya lagi. Kakakakak

”Wah, kalo gitu kamu Islam nya madzab ikut sapa Mbo? Imam Hanafi, Imam Hambali, Imam Safi’i atau….”, tanyaku penasaran.
”Nggak Dul, aku Islam thok-til”, jawab Mambo makin kesal.
”Atau jangan-jangan malah madzabmu itu madzab Imam Samudra Mbo?”, sela Yatna.
”KAKAKAKAK” kami terawa terbahak-bahak, tidak terkecuali Mambo. Baru denger ada Madzab baru bernama madzab Imam Samudra.

Akhirnya kami mengakiri perdebatan masalah mau tarawih di mesjid Mall sini atau tidak. Demi persahabatan, kami menurut ajakan Mambo buat sholat tarawih susulan di Mall itu. Dan sebagai wujud tanggung jawab pengajak, Mambo jadi imam sholatnya. Lalu kami berbaris rapi di belakangnya. Kami saling lirik di belakang. Pengen ketawa karena ingat masa lalu.



Masa lalu saat kami masih sekolah. Saat energi seakan-akan tidak ada habisnya, pagi sampai siang sekolah, sore hari sehabis Ashar kami sudah berkumpul di lapangan basket sekolah. Dan itu hampir dilakukan tiap hari.

Aku ingat saat itu Mambo ke lapangan langsung pakai celana pendek basket. Beberapa teman lainnya juga cuman pakai celana pendek. Kalo tidak salah 3 orang. Sedangkan aku dan yang lain biasanya rangkapan celana panjang.

Entah dimulai  dari siapa, tiba-tiba kami ada ide buat ngerjain Mambo. Kami sudah hitung sarung di mushola cuman ada 3 buah. Sisanya mukena cewek-cewek. Kami umpetin sarung untuk disiapin agar bisa dipakai ke 3 teman yang lain kecuali si Mambo. Sepertinya rencana buat meninggalkan Mambo sudah sendirian di mushola sekolah sudah matang sekali. Bahkan sudah kami pastikan ukuran celana panjang si Dwi yang beragama berbeda pun jauh lebih kecil dari celana Mambo, pasti nggak bisa minjam dong. Hihihiihihih…..

Terbayang di mata kami si Mambo bakal sendirian sholat di mushola dan pulang sendirian jalan kaki ke rumah kos nya. Karena kami semua bisa sholat berjamaah kecuali dia. Lantas rencananya kami akan bubar bersamaan meninggalkan dia sendiri.

Saat adzan maghrib mulai berkumandang, kami semua bergegas menuju ke mushola untuk wudhu dan sholat maghrib. Kami membentuk 2 baris shaf sholat. Sempat beberapa saat aku melihat si Mambo celingak-celinguk mencari sarung. Hahahah. Puas rasanya.

Saat sholat magrib dimulai, semua berjalan lancar, namun saat bacaan Al Fatihah selesai di bacakan dan kami semua berucap …

“AMIIIIIIIIN”…

Aku sempat kaget, sepertinya suara khas Mambo ikut mengucapkan kata itu. Aku fakir dia cuman suara iseng mambo saja karena kesal.

Tapi nyatanya tidak, berselang beberapa menit tiba-tiba barisan shaf paling bekang terdengar menahan tawa, terkikik berat.

Kami yang di shaf depan jadi penasaran dan menengok kebelakang, tidak terkecuali Imam sholatnya. Dan tawa kamipun tidak mampu ditahan, meledak tawa kami setelah melihat mahluk yang sholat sendirian di belakang kami yang bernama Mambo itu memakai bawahan mukena cewek buat di jadikan Sarung!!!


Mambu tampak seperti setengah cowok bagian atasnya Dan setengahnya seperti cewek dibagian bawahnya, mukena bawah itu di gulung sedikit, tapi bentuknya malah seperti orang pakai rok putih jaman film sinetron Little Missy.

Dan herannya, entah pura-pura atau memang khususk, Mambo masih melanjutkan sholatnya sampai selesai. Jadilah dia yang sholatnya selesai duluan sedangkan kami mesti mengulang.

Rencana meninggalkan Mambo gagal total, bahkan dia tampak santai menunggu kami menyelesaikan sholat remedial ulangan yang sebetulnya sangat tersiksa karena sakit perut menahan tawa.

….

Dan di Mall itu kini, aku juga kehilangan kekhusukan saat sholat tarawih itu. Mambo yang berdiri di depan sebagai imam dengan celana cingkrangnya sebetulnya tidak ada yang aneh, tapi di mataku dia seakan-akan sedang seperti sedang memakai mukena cewek putih sama seperti jaman sekolah dulu.
Aku sholat sambil bercucuran air mata, bukan karena sedih. Kali ini karena aku sedang berjuang keras menahan tawa.

[Bekasi, 9 maret 2010]

Diposting juga di KOMPASIANA

Posting Komentar