Antara Pawang Hujan & Celana Dalam

Oleh:   hazmi SRONDOL hazmi SRONDOL   |   03.13
Bresssh!

Hujan mendadak tumpah dr langit saat tepat beberapa meter dari keluar tempat parkir. Tumben-tumbenan gak ada intronya dulu kayak biasanya. Standarnya kan rintik-rintik dulu kek, biar ada persiapan buat muter balik ngumpetin mobil di basement atau di selimutin cover mobil. Bukan apa apa, tuh mobil nggak sampai sejam yang lalu habis di cuci steam, komplit dengan paket semprot bawahnya pakai dongkrak hidrolik gede. Dongkrak yang sering membuat anakku, sebut saja Thole terkagum kagum sambil bertanya: “knapa mobilnya bisa diangkat pak? Mobilkan berat?”.

Sudahlah, Le. Menurut info guru fisika dulu, itu karena adanya gaya hidrolik, gaya yang memanfaatkan zat cair. Mohon maaf bapak tidak terlalu kompeten dengan pelajaran ilmu fisika, jadi nggak bisa menjelaskan dengan detail. Dipaksa menjawab pun pasti malah membuatmu makin memberondong dengan pertanyaan-pertanyaan anehmu lain. tapi kalo kamu tanya mengenai perihal ilmu gaib, ilmu tentang yang tidak terlihat alias tidak kasat mata mungkin bapak bisa bantu setidaknya menjawab pertanyaan asal usul bau menyengat tajam yang tak terlihat itu, yang semalam telah berhasil membuat bapakmu ini jadi mencak-mencak namun malah membuat ibumu tertawa ternahak-bahak. Itu berasal dari gas perutmu, nak, yang kebanyakan makan telor asin brebes favoritmu. Yang sebenarnya bisa terdeteksi sumbernya dari suaranya, namun suara guntur geledek telah menenggelamkan suara itu nak.

Suara hujan deras itu bukan lagi tik-tik tik seperti lagu anak-anak, tapi sudah serupa suara pasir yang ditumpahkan dari langit. Saking derasnya, suara jatuhan air itu sudah menembus kabin mobil sejuta umat yang peredamnya ternyata tidak cukup kuat utk menepisnya. Seram memang, walau tidak menakutkan. Sapuan wiper kaca depan yg berirama itu seperti mengingatkanku akan nostalgia masa kecilku dengan almarhum ibu, nenekmu.

Ibu dahulu sering kali mengajakku duduk di teras rumah. Ya, duduk di teras rumah sambil bengong melihat hujan. Aku sering binggung, kenapa almarhum suka sekali melihat hujan. Tidak perduli hujan gerimis atau hujan besar. Kadang kadang, acara menonton hujan ini baru bubar jika mulai ada tetesan air yang menembus atap dan membuat genangan di lantai rumah. Karena tidak tahan, aku akhirnya bertanya juga kepada almarhum, "bu, kenapa ibu suka lihat hujan?". Almarhum menjawab: "Mas, hujan itu rejeki. Hujan itu ajaib, banyak-banyaklah berdoa, apa kamu ndak bisa lihat kalo ada satu malaikat di setiap tetesnya?"

Saat itu aku hanya bisa diam dan menggeleng saja.

Bertahun tahun aku tidak terlalu peduli dengan ucapan ibu. Aku kadang merasa, ibu hanya terlalu sering ngobrol dan ngrumpi dengan teman-teman tionghoa-nya. Jadi terpengaruh dengan mitos hujan di malam Imlek. Aku rasa, bukan hanya aku saja yang tidak percaya. Bahkan bukan rahasia umum kalo hujan adalah situasi yang paling di takuti atau setidaknya tidak harapkan oleh sebagian besar masyarakat kita. Apalagi kalo ada yang sedang mengelar hajatan pesta atau kenduri. Belum lagi dengan efek banjir kirimannya setelah hujan besar.

Saking dimusuhinya, hujan sudah dianggap sebagai lawan atau bahkan gejala alam yang buas. Sampai-sampai di Indonesia ini terdapat profesi paling unik di dunia yaitu Pawang Hujan. Profesi ini memang samar-samar keberadaanya, namun fenomenanya sangat nyata. Bahkan, dengar-dengar dari sopir kantor yang tinggal di Rawamangun, daerah di Jakarta yang paling jarang kena hujan atau paling terakhir kena hujan adalah sekitaran lapangan Golf Rawamangun. Katanya, ini akibat peninggalan ilmu pawang hujan pak Harto yang selalu stand by kalau pak Harto tiba-tiba pengen berolahraga Golf disana dan sebisa mungkin hujan tidak menganggu kegiatannya.

Belum lagi berita menarik yang sempat dimuat di majalah National Geographic Indonesia. Majalah ini menulis berita tentang perseteruan antara pawang hujan dan satelit cuaca milik Jepang dan Amerika. Kalo gak salah, waktu itu sedang ada pembangunan pengecoran pondasi aquarium raksasa Sea World di Ancol. Hari itu mestinya adalah jadwal pengecorannya, dan pengecoran harus dalam kondisi tidak hujan. Karena kalo terjadi hujan akan membuat konstruksi tidak akan berfungsi seperti design yang di harapkan. Ahli cuaca jepang dan Amerika sudah meragukan keberhasilan pengecoran hari itu. Satelit cuaca milik Jepang dan Amerika sudah menyatakan kalo hari itu bakal hujan besar. Pengecoran harus ditunda. Namun, sepertinya pihak kontraktor tidak mau mengikuti penundaan jadwal itu. Mungkin mereka takut rugi waktu jika pekerjaan tersebut ditunda. Mereka memilih memanggil pawang hujan. Dan sudah diduga, orang asing itu mencibir dan mentertawakan prosesi menahan hujan tersebut. Apalagi melihat lidi-lidi bercabe merah yg di tancapin di pasir dan tarian gak jelas sang pawang hujan…. (Terbayang deh gaya tarian dukun india di komik Hiawata nya donal bebek… Kekekek).

Ajaib, setelah prosesi itu. Cibiran dan tawa mengejek sang ahli cuaca itu mendadak berganti menjadi kerutan di alis dan dahi sang ahli cuaca sambil mulut ternganga. Ramalan satelit kalah. Hari pengecoran itu sangat cerah, pengecoran berjalan sukses dan kekuatannya cor-coran terbukti sampai sekarang. Saya yakin, pasti malam itu malam panjang bagi sang ahli cuaca. Malam yang paling membingunggkan sekaligus memalukan.

Itu baru tentang pawang hujan, belum lagi mitos lempar celana dalam yg sangat populer di negeri ini. Bahkan jadi anekdot dan olok-olok. Tapi, anehnya, aku sempat juga mencobanya. Waktu itu sekitar bulan desember. Aku dan istri masih pasangan baru yang belum dikaruniai momongan. Berhubung belum punya momongan, aku berinisiatip melakukan perjalan darat ke Bali dengan istri, Dian adik istri dan Imam Mambu sahabat karibku naik mobil Jimmy 4WD ku yang warna biru. Road trip istilah kerennya.

Sepanjang perjalanan hujan turun terus menerus. Deras lagi. Padahal kami mesti mampir ke berbagai tempat sebelum ke Bali, seperti ke Semarang dan Malang. Mobil itu tanpa AC, jadi selama perjalanan Mambu harus mengelap embun didalam mobil. Benar-benar merepotkan.

Sebenarnya bukan itu yg aku khawatirkan, aku mengkhawatirkan jika sampai Bali cuaca masih hujan terus. Tentu liburan jadi tidak menyenangkan. Nah, tiba2 aku ingat tentang mitos lempar celana dalam ini. Sebelum perjalanan dari Malang, aku jepitkan Ex-caldam sekali pakaiku ke roofrack Jimmy biruku dengan jepitan jemuran baju yg ukurannya besar. Bagi yang gak ngerti celdam sekali pakai, itu celdan yang bahannya seperti kertas, tapi bukan kertas. Cocok buat traveling, karena nggak ada beban buat mikirin cuciannya dalam perjalanan. Banyak kok yg jual di swalayan Ind*maret atau Alf*maret.

Dan sungguh mengagumkan, selama perjalanan dr malang menuju Bali, bahkan selama di Bali tak setetespun hujan terjadi. Liburan itu jadi sungguh nikmat. Bahkan celana dalam diatas roofrack itupun hampir-hampir terlupakan sendiri olehku kalau saja tidak ada teriakan pertanyaan Mambu perihal buntelan ajaib yang di jepitkan di atas mobil itu. Saat itu dia lagi mencuci mobil. Tentu saja aku jawab, ”celana dalam Mbu”

”Duwek’e sopo? (punya siapa?)” tanya Mambu. ”Duwekku lah.. (punyaku lah)” jawabku. Wah, langsung saja Mambu misuh-misuh gak karuan, aku gak tau apa yang dia lakukan dengan celdam bekas itu. Jangan-jangan dia pakai buat lap tangan atau bisa jadi malah buat lap muka waktu nyuci mobil. Sumpah, aku gak bisa menahan cekakak tawa di sela-sela misuh-misuhnya.

….

Setelah besar, aku baru menyadari maksud Ibuku. Aku pernah membaca sekilas Hadist tentang Do’a yang tidak pernah di tolak, yaitu:

“doa ketika waktu adzan dan doa ketika waktu hujan”.

Mungkin inilah alasan knapa Ibuku suka sekali menonton hujan. Mungkin yang sedang beliau lakukan adalah diam-diam berdoa buat anak lelakinya dan anak-anaknya yang lain agar dimudahkan segala urusan. Bisa jadi pula, beliau sangat menikmati saat-saat yang disebut waktu mustajab itu. Makanya sekarang aku tidak heran betapa betah Ibuku menonton hujan. Gara-gara itu, sempat tanpa sadar aku pernah diam-diam menitikkan airmata saat hujan juga mulai menitik ke bumi. Aku teringat Almarhumah Ibu.



Diin-Diiin!

Tak terasa aku sudah sampai depan rumah, dan langsung aku berlari ke dalam rumah setelah keluar dari mobilku agar tidak terlalu kebasahan terkena siraman hujan. Sempat aku belihat ada tabung gas kosong di depan pintu rumah. Belum sempat aku bertanya ke istri, istriku langsung meminta tolong mengambil tabung gas besar lain belakang. “Cepet banget habisnya bu?” Tanyaku keheranan, padahal sepertinya belum lama aku ganti tabungnya. “Iyalah pak, mesin pengering kita kerja keras kalo musim hujan gini, ya wajarlah kalo nyedot gas nya. Sebanding kok ama omset dan pendapatan kita yang naik” jawab istriku datar.

Hohoho, ternyata benar kata almarhum Ibuku, Hujan itu rejeki. Setidaknya buat bisnis paling basah didunia, bisnis Laundry Kiloan istriku.

[Hazmi Srondol]

Posting Komentar