Responsive Ad Slot

Latest

Sports

Gossip

Covered

Kisah "Sambel Ayu" Bandeng Presto

Kamis, 05 Juni 2008

Suatu hari, sohibku Tyo datang ke Jakarta. Rencananya sih dia sedang ada acara training dari kantornya. Dia menginap di Hotel Atlet Century Park Jakarta. Sohibku ini, waktu itu masih berkerja disalah satu bank swasta nasional di Semarang. Tentu saja dengan suka cita, aku sangat ingin segera bertemu dengannya.  Keinginan ketemu ini bukan hanya masalah kedekatan emosional dan personal saja, tapi ada sesuatu yang membuatku pengen segera bertemu. Hal itu adalah janji "upeti" yang bakal Tyo bawa dari Semarang sono.

Upeti yang dibawa Setyo itu berupa sebuah ‘Sambal’, Eiit!.....tapi ini bukan sembarang sambal. Sambal inilah dulu yang disebut oleh almarhum bapakku sebagai "Sambel Ayu". Disebut begitu karena sambel yang merupakan pasangan dari bandeng presto ini rasanya kurang pantas di sebut sambel, karena walaupun terbuat juga dari cabe tapi camputan rasa gurih dan manisnya yang entah dari bahan apa buatnya telah mengalahkan rasa pedasnya. Istilahnya, sambel ini khusus buat cewek priyayi yang cantik dan ayu... Buat mereka yang mau makan sambel tapi tidak mau keringetan kepedasan. Rasa yang unik dari sambel ayu ini juga yang sempat bikin aku ribut ama penjual bandeng presto kliling yang sering lewat di komplek perumahanku. Waktu itu, saat mas yang jual lewat, aku cegat dan aku beli langsung banyak. Pokoknya, yang terbayang di otakku adalah nikmatnya makan bandeng presto beserta sambel ayunya.. Cuman sayangnya, pas dibungkus baru aku tanya. "mas, mana sambelnya?" "wah nggak ada sambelnya pak." "loh, kok bandeng presto gak ada sambelnya? kan biasannya ada..?!" "waaah, kalo bandeng presto Semarang memang ada sambelnya pak. Tapi kalo disini enggak ada pak." Waduh, langsung deh aku ceramahin mas-nya panjang lebar kali tinggi mengenai sambel, sampai dia mangut-mangut terpaksa. Pengen banget juga segera aku balikin. Batalin beli. Cuman kok masih ada perasaan nggak tega gitu ama mas-nya, walaupun sebenernya aku kecewa berat. Nah, untungnya waktu Tyo datang, dia membawa oleh-oleh bandeng presto dengan sambel 10 bungkus sesuai pesananku.

Dan ternyata, sebanyak itupun ternyata masih tidak cukup buatku sendiri. Langsung saja aku bilang ama Tyo perihal perasaan lidahku ini. Untung saja pacar Tyo (waktu itu belum menikah) ternyata jago bikin sambel ayu. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Tyo berjanji kalo besok ke Jakarta bakal membawakan sambel ayu made in pacarnya yang buaaaaaanyak buatku seorang.

Nah, waktu Tyo dapat tugas training lagi di Jakarta , dia mampir dan sekalian latihan Aikido di kantorku. Tyo mengeluarkan upeti-nya yang seukuran 1 gelas gueeede...

Waaaaaah Cleguk Tenan!!!!

Sesampainya di rumah, bandeng dan sambelnya langsung saja aku hajar. Nggak tanggung-tanggung, sambel itu telah menemaniku makan 3,5 piring nasi. Program diet yang kemarin sukses menurunkan beratku dari 83 ke 76 Kg sudah tidak terpikirkan lagi.

Konsep diet "Makan untuk hidup bukan hidup untuk makan" bener-bener terlupakan.

Malam itu, aku makan bukan masalah untuk hidup atau bukan. Malam itu, aku makan buat nemenin menikmati Sambel Ayu. CLEGUK!

[Hazmi Srondol]

Dari blog lama di Multiply 2008:
Posting Komentar
Don't Miss